
...SELAMAT MEMBACA...
Satu persatu kesatria jatuh sambil meraung seperti orang kerasukan, hal itu pun terjadi pada Rasila. Dia orang pertama menunjukkan reaksi aneh dan Gaia tidak berkutik beberapa waktu melihat kesatria yang normal dan pekerja pria istana membantu mengukung orang-orang yang telah menggila. Jika menilik dari apa yang terjadi sebelum ini, Gaia hanya bisa mencurigai Duke Agneto karena semua korban telah tersentuh oleh tangan Duke Agneto saat bertemu sapa di lorong.
"Bagaimana bisa manusia memiliki sihir hitam dan menanamkan kutukan hanya dengan menyentuh?" Gaia gelisah dan merinding.
Argh!
Rasila berteriak nyaring, dua pria sudah menahan tubuhnya dan Gaia tidak punya pilihan selain menggunakan kekuatannya. Padahal selama bertahun-tahun dia menyembunyikan kekuatan aslinya yang menyembuhkan kekuatam dengan meminta para orang yang telah diselamatkan menyebarkan rumor bahwa berkatnya hanya sebuah kekuatan suci untuk mengobati luka ringan. Bukan tanpa alasan Gaia menyembunyikannya, Sain bilang akan bahaya jika orang tahu kemampuannya dan pasti para penyihir akan memburu Gaia karena dianggap sebagai penghalang besar dalam menebar kutukan.
"No-nona, silakan menjauh."
Salah seorang kesatria memperingati Gaia saat mendekati Rasila. Liur dan urat hitam yang terlihat di Rasila menjadi pemandangan biasa bagi Gaia.
"A-apa yang hendak anda lakukan?"
Para anggota kesatria Invicta yang tahu bahwa Gaia adalah putri Marquess tampak panik ketika dengan berani wanita yang baru dilantik sebagai dayang pribadi Rahid tersebut menangkup wajah Rasila tanpa rasa takut.
"Dengan karunia yang diberkati Tuhan, kumohon singkirkanlah kegelapan yang menyiksanya."
Perlahan cahaya putih dibarengi partikel berkilau keemasan melingkup tubuh Gaia kemudian terhubung dan menyelubungi sekujur tubuh Rasila. Perlahan, kesadaran dan cahaya di mata Rasila muncul namun setelah itu Gaia tidak menunggu Rasila benar-benar sadar dan menatapnya, ia justru berlari dari satu kesatria ke kesatria lainnya yang telah terkena kutukan.
Senyum Duke Agneto sangat lebar melihat betapa indahnya saat cahaya keluar dari tubuh Gaia. Pantas saja Rahid langsung menempatkan Gaia di sisinya, itu pasti ditujukan agar Gaia lebih aman dalam jangkauannya. Duke Agneto begitu senang, seolah melihat harta karun berusia ribuan tahun.
"Wanita itu harus segera dihabisi, dia bisa saja menyelamatkan hidup Rahid jika dibiarkan."
Duke Agneto lantas pergi dari sana bersamaan simbol aneh yang terukir di telapak kanannya raib.
...***...
Baru kembali dari pengintainnya terhadap kelompok radikal yang bergerak dalam mempelahari sihir hitam, Rahid dan Argio terkejut mendapati kekacauan di istana telah diselesaikan oleh Gaia, begitulah laporan yang diberikan Rasila setelah merasa lebih baik.
__ADS_1
"Dimana wanita itu sekarang?" Rahid bertanya.
"Setelah menangani mereka semua, Nona pingsan dan belum bangun sampai sekarang. Saat ini, Nona ada di kamarnya bersama pendeta juga Tuan Eslan."
Rahid lantas menemui Gaia dan benar saja, wanita itu masih terjaga. Raut wajah pun tidak terlihat segar lalu mata Rahid memicing pada pendeta lelaki yang hendak meletakkan telapak tangan di dada Gaia.
"Apa tidak ada pendeta wanita, Eslan?"
Eslan terkejut mendapati Rahid sudah ada di belakang, menunjukkan raut wajah garang pada pendeta yang telah menarik tangan di balik punggung.
"Pendeta wanita sedang menuju kemari, Yang Mulia. Saya hanya meminta pendeta ini untuk memeriksa Lady Gaia." Eslan menjelaskan.
"Tunggu saja pendeta wanita itu. Kamu bisa menunggu di luar." Rahid berkata pada si pendeta.
Pendeta pun angguk kepala dan langsung melangkah cepat keluar, takut jika pedang yang tersampir di pinggang Rahid akan melanyang ke lehernya.
Setelah kepergian pendeta pria, tak lama pendeta yang ditunggu masuk dengan peluh membanjiri pelipis, khawatir jika kedatangannya yang lambat justru mengancam nyawa Gaia. Rahid kembali menautkan alis pada Eslan karena itu bukan wanita, tapi pria berwajah cantik.
"Apa kamu yakin itu pendeta wanita, Eslan?" Rahid menautkan alis.
Sain menatap lekat Rahid, mencoba menilai seperti apa sosok tiran yang dibicarakan banyak orang.
"Saya mohon biarkan saya menyembuhkan dayang anda." Sain menekan kata dayang pada Rahid.
Alis Rahid menukik tak senang melihat bagaimana Sain membalas tatapan.
"Jika dibiarkan terlalu lama, dayang itu tidak akan bertahan lama karena jumlah kutukan di dalam tubuhnya lebih besar ketimbang kekuatan suci yang mencoba memurnikan kutukan." Sain menjelaskan dalam satu tarikan napas, ia semakin cemas karena Rahid tidak membuka jalan untuknya mendekati Gaia.
Mengetahui bahwa Sain bisa melihat jumlah kutukan dan kekuatan suci yang menguar dalam tubuh Gaia serta wajah yang kian memucat dari wanita itu, akhirnya mau tidak mau Rahid membiarkan Sain melakukan penyembuhan.
"Kumohon, Gaia."
__ADS_1
Sain meraih tangan kiri Gaia yang terkulai lemas di sisi tubuh lantas ditangkupnya dengan lembut sembari ditempelkan di dahi. Rahid jadi ingat bagaimana pertama kali Gaia memberi berkat penyembuh.
Perlahan cahaya biru muncul dari Sain dan masuk ke dalam tubuh Gaia. Tubuh Gaia sedikit bereaksi, muncul kerutan di antara alis, pertanda menerima kekuatan suci Sain dalam memurnikan kutukan.
"Ah!"
Gaia langsung membuka mata dengan mulut sedikit terbuka, seperti seseorang yang baru menyembul ke permukaan setelah sempat tenggelam. Penglihatan Gaia yang buram perlahan jelas dan orang pertama yang ia lihat adalah Sain.
"Sain? Itu kamu?" lirih Gaia.
Sain angguk kepala dan interaksi keduanya membuat Rahid menaruh perhatian lebih.
"Ya, ini aku."
Tanpa aba-aba, Gaia langsung bangun dan memeluk Sain erat, menenggelamkan wajah pada ceruk leher pria itu dan menangis. Baru saja Gaia merasa dalam kegelapan di penuhi ratusan mata merah dalam waktu cukup lama, kekuatan sucinya kesulitan memurnikan kegelapan yang merupakan kutulan itu, penyebab utamanya karena jumlah kutukan yang masuk lebih besar sehingga Gaia hampir mati digerogoti kutukan itu sendiri untung saja kekuatan suci Sain membantunya.
"Aku sangat takut, Sain." Gaia semakin erat memeluk Sain.
Eslan langsung mengalihkan atensi pada Rahid yang sudah mengetatkan rahang dibarengi tangan terkepal di sisi tubuh. Sorot mata Rahid semakin gelap dan penuh intimidasi melihat bagaimana tangan Gaia mencengkeram erat tubuh si pendeta.
"Sampai kapan kamu akan menangis seperti itu? Sekarang, jelaskan padaku kenapa istana bisa sekacau ini?" Rahid bertanya penuh penekanan, mengalihkan perhatian Gaia sepenuhnya dari rasa takut.
Sain langsung menatap Rahid. "Dayang anda baru saja sadar, bukankah ini sedikit berlebihan, Yang Mulia?"
"Kenapa kamu begitu peduli pada dayangku? Memangnya kamu ayah atau kekasihnya?" cibir Rahid.
Gaia segera pasang badan dengan mengenggam tangan Rahid di balik punggungnya lantas menatap Rahid dengan sengit. Di saat kondisinya seperti ini pun, pria bak pekatnya malam itu bersikap tak berperasaan.
"Kenapa harus saya? Saya bahkan tidak tahu apapun." Gaia berpikir tidak mungkin memberitahu bahwa penyebabnya mungkin saja Duke Agneto karena yang Gaia tahu, Rahid cukup dekat dengan Duke Agneto bahkan ada kabar kemungkinan besar Irian akan menjadi pasangan Rahid.
Sorot mata Rahid makin tidak bersahabat apalagi saat Gaia bertingkah melindungi Sain darinya.
__ADS_1
"Tentu saja kamu karena sebelum kemunculanmu di istana hal ini belum pernah terjadi. Tidak menutup kemungkinan bahwa ini bagian dari rencanamu mengingat ayahmu menentang keras saat aku hendak menawarkan diri sebagai suksesor mendiang Raja kala itu." Rahid tersenyum sarkas dan merendahkan Gaia.
...BERSAMBUNG ......