Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
31| Menyerahkan diri


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Tidak ada korban jiwa. Kekuatan suci yang lebur menjadi partikel-partikel cahaya turun seperti salju dan menyembuhkan kutukan, sihir hitam, serta semua luka. Akan tetapi, kerugian besar dialami oleh lingkungan dan bangunan, asap masih mengepul dari bagian yang masih memerah, puing-puing dari dari berbagai toko atau benda yang hancur dan runtuh berserakan, memenuhi jalanan.


Perlahan matahari merangkak, menebar cahaya kemerahan yang indah, memoles kondisi retkan yang luluh lantah. Para warga yang kelelahan memandang lega hari yang telah berganti karena kejadian mengerikan semalam telah berakhir namun, ketakutan mereka masih mengusik.


Duke agneto telah diamankan oleh Rahid dini hari, walau perasaannya masih kacau setelah mendapati kematian Gaia, pria itu tidak bisa tinggal diam dan terus meratap karena ada janji yang harus ia penuhi, permintaan yang menyuruhnya untuk memperbaiki retkan dan beberapa hubungan yang sempat hancur.


Kemarahan rakyat menyembur bagai kobaran api kepada duke agneto, bukan penyihir yang disalahkan dan kondisi ini menguntungkan Rahid.


Beberapa hari kemudian pemulihan kota dilakukan, para warga bekerja sama dengan pihak istana untuk memperbaiki kota. Sang tiran yang awalnya begitu dibenci rakyat kini telah menjadi kebanggan, mereka berterima kasih karena akhirnya tragedi mengerikan telah berakhir. Sayangnya orang yang berperan besar dalam kedamaian di pagi ini tidak kunjung bangun dan berada di Sanctia.


Sain berulang kali melakukan doa untuk berkomunikasi dengan para dewa, mempertanyakan kondisi Gaia yang tidak bernyawa namun secara mendadak suhu tubuh wanita itu berubah hangat, seperti seseorang yang masih hidup.


Para dewa mengembuskan napas dan berkata pada Sain bahwa pengorbanan Gaia tidak sepenuhnya mereka menangkan. Ribuan nyawa yang diselamatkan oleh Gaia menjadi penyebab utama, jiwa yang begitu murni karena menyelamatkan banyak nyawa tidak bisa menjadi taruhan mereka. Maka dari itu, saat ini ruh Gaia tidak bisa diterima dan berada di dunia. Bertanya bagaimana cara mengembalikan ruh itu ke dalam raga, para dewa hanya diam lalu memutuskan komunikasi karena sejujurnya mereka pun kebingungan, ini baru pertama kali terjadi.


Sain lantas memandang sendu tubuh Gaia yang terbaring di dalam peti yang tutupnya terbuka. Peti itu ditaruh dalam ruang khusus di kuil. Beberapa waktu tertentu akan ada orang yang berdatangan ke kuil demi mendoakan kebangkitan Gaia.


"Pendeta, Yang Mulia datang."


Sain angguk kepala dan menyambut kedatangan Rahid. Tidak pernah absen mengunjungi kuil untuk melihat Gaia, Sain bisa melihat perkembangan lingkar hitam di bawah sang tiran yang kian membesar. Wajah yang selalu mengencang dan penuh ancaman itu terlihat amat lelah dan penuh rasa bersalah.


Seperti biasa, Sain akan membiarkan Rahid berdiam diri disana, menutup pintu rapat-rapat agar tidak satu pun orang menganggu, tetapi setelah kepergian Sain, sosok lain menyelinap cepat bagai angin melalui sela pintu, berdiri tegap di belakang Rahid yang merunduk sambil mengusap lembut wajah pucat Gaia yang masih menampilkan saraf kehitaman.


"Aku datang untuk melihatnya, setelah itu aku akan menerima semua hukuman yang akan kamu berikan." Haetric berada di belakang Rahid, kepalanya tertunduk begitu dalam.

__ADS_1


Rahid diam sembari menghadap langsung pada Haetric yang kini telah bersimpuh dengan kepala menunduk amat rendah bersama kedua tangan terkepal di atas paha


"Aku ingin sekali melakukannya, tapi Gaia tidak akan menyukai itu. Dia menginginkan kedamaian, menuntaskan perselisihan agar tidak ada lagi kekacauan. Aku tidak bisa menghukummu karena aku tahu bahwa kamu juga sangat menderita."


Perkataan Rahid membuat Haetric langsung angkat kepala lalu perhatiannya beralih pada wanita yang terbaring damai dalam peti. Ingatan di kehidupan sebelumnya sebagai Hitres membuat Haetric ingin mendekap Gaia sangat erat, wajah itu tidak pernah berubah terutama kepribadiannya.


Rahid mundur perlahan, memalingkan wajah saat Haetric mendekat seraya menangkup kedua tangan Gaia dengan tatapan yang amat mendamba, rasanya hati Rahid tersengat mengingat jika keduanya saling mencintai dan sempat berciuman di hutan Tagh.


"Sekali lagi aku membunuhmu, maafkan aku, Yasril."


Air mata Haetric luruh, membasahi punggung tangan Gaia yang hangat sedangkan ruh si pemilik tubuh menatap penuh kerinduan pada Haetric, seolah ada kenangan amat dalam yang telah terkubur lama namun, perasaan itu runtuh ketika melihat ekspresi yang ditunjukkan pria lain disana, Rahid.


Gaia tidak suka melihat ekspresi pria itu. Sejak pertama kali melihat Rahid, ia terusik dan mulai memerhatikan pria itu sampai-sampai menunggu Rahid menjenguk raganya di Sanctia akan tetapi, pria itu selalu menyalahkan diri dan menangis.


Rahid lantas hendak pergi, Gaia berusaha mencegahnya dengan memeluk punggung pria itu namun ia menembus tubuh gagah Rahid.


"Kalau begitu aku akan pergi untuk memberi tahu kabar baik ini pada para penyihir."


Haetric mengulum senyum lalu berkelebat. Di kehidupan kali ini, Haetric hanya akan memandang Gaia tapi tidak memilikinya, Hecate juga berkata bahwa ikatan yang terbentuk dengan Gaia di kehidupan kali ini tidak bisa sedekat dahulu, kini ia hanya bisa menganggap Gaia sebagai penyelamat, tidak lebih dari itu walau hatinya sangat menginginkan hal lain. Haetric yakin bahwa Gaia pasti akan membuka mata, tapi bukan dari usahanya melainkan dari orang lain, mungkin orang itu Rahid, pikirnya.


"Doa-doa manusia itu sangat bising. Apa kamu mau membantuku menyingkirkan doa-doa untuk wanita itu?"


Rahid tersentak. Setelah kepergian Haetric, sebuah suara bergaung di dalam ruangan, ruh Gaia pun mendengarnya.


"Kamu dewa?" Rahid mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Ya, aku Klotho, sang pemintal kehidupan. Aku bisa menyambungkan kembali benang kehidupan yang terputus dari wanita itu, tapi sayangnya benang merah yang kubutuhkan haruslah terbuat dari darah pengorban seseorang yang benar-benar tulus padanya. Kurasa kamu pilihan yang sempurna, apa kamu mau melakukannya?"


Klotho menyeringai menanti jawaban dan secara tak terduga Rahid menjawab tanpa butuh waktu lama.


"Apapun akan kulakukan jika dia bisa kembali membuka matanya." Rahid melirik Gaia di peti.


Ruh Gaia melotot lalu berdiri di hadapan Rahid dengan ekspresi panik. "Tidak, jangan lakukan itu! Aku sungguh tidak apa-apa!"


Gaia lantas menadang ruang hampa di sekitarnya sembari berseru pada para dewa, "Jangan libatkan orang lain! Hentikan campur tanganmu!"


Klotho tertawa keras mendengar seruan Gaia yang sia-sia. Lagi pula ia tergerak bukan hanya karena doa-doa itu mengusiknya tapi beberapa dewa seperti dewi sihir, dewi cinta, dewa kemuliaan, dan beberapa dewa lain terus mendesaknya terutama kedua saudarinya, jadi Klotho tidak punya pilihan lain yah walau memang ia sungguh tertarik dengan kisah yang Gaia lalui.


"Kalau begitu bunuh dirimu sebanyak 100 kali di dalam kolam suci di kuil ini, nodai air itu dengan darahmu. Kamu hanya perlu menusuk jantungmu dan mati. Setelah itu aku akan terus menghidupkanmu kembali sampai 100 kali, bagaimana? Apa kamu bisa melakukannya? Jika kamu mau mundur silak—"


"Aku akan melakukannya," potong Rahid secepat mungkin.


Klotho dan dewa lainnya tersenyum penuh kemenangan. Manusia yang membenci dewa akan memberi tontonan yang menarik sedangkan ruh Gaia berusaha keras menyadarkan Rahid bahwa itu tidak perlu dilakukan, ia tidak ingin pria itu terluka, melakukan pengorbanan yang amat mengerikan.


"Kenapa kamu sampai melakukan ini? Kumohon berhenti, jangan lakukan apapun, kumohon."


Gaia menangis sambil terus menatap Rahid yang memandang tubuhnya dalam peti.


"Jika aku berhasil melakukannya, aku harap kamu bisa bahagia dengan Haetric." Rahid tersenyum tipis sembari mendaratkan kecupan singkat di dahi Gaia yang terbaring di dalam peti.


...BERSAMBUNG ......

__ADS_1


__ADS_2