
...SELAMAT MEMBACA...
Gaia tidak berkedip. Kedua tangannya saling menaut gelisah menantikan pengorbanan terakhir Rahid dan sekarang kondisi tubuhnya telah bersih oleh saraf hitam, semakin hangat nan teduh, ini semua berkat pria berstatus tiran di hadapannya.
Sambil memejamkan mata, satu hujaman terakhir yang seolah mewakili seluruh rasa sakit mulai dari pengorbanan pertama hingga akhir ini membuat Rahid melotot hebat, mata pria itu memerah dengan urat leher timbul, amat mengencang hingga kepalanya mendongkak ke atas, menatap sayu langit-langit ruangan.
"Ukh!"
Darah menyembur dari mulutnya bersama kedua tangan luruh, membiarkan belati masih menancap pada dada kiri.
Dari atas sana, Klotho diam. Tidak seperti kali pertama, dewa pemintal kehidupan tersebut merasa sedikit tak senang dan sedih melihat perjuangan Rahid yang amat menyakitkan di akhir.
"Bukankah dia sangat gigih, Klotho?"
Para dewa tersenyum tipis, bangga terhadap pengorbanan Rahid hanya untuk orang yang dicintai. Pilihan mati berkali-kali adalah hal gila hanya untuk cinta yang bahkan hendak direlakan pada orang lain.
Klotho lantas melirik Moirai, dewi takdir. "Aku penasaran, bagaimana takdir antara mereka. Apakah mereka akan bersama?"
Moirai tak menjawab dan hanya tersenyum penuh arti sambil mengedikkan bahu sehingga para dewa-dewi meraung kesal. Sungguh, mereka menikmati kisah antara Rahid dan Gaia, kedua manusia itu saling mengorbankan diri hanya saja satu dari mereka mengorbankan diri hanya untuk seseorang saja.
"Nikmati saja, Klotho." Moirai bersenandung sambil menggerakkan jari agar belati yang masih bersarang di dada kiri Rahid terlepas, bebahaya jika itu masih tertancap saat dihidupkan kembali setelah pengorbanan selesai.
"Hah ... Ukh!"
Darah meleleh keluar dari hidung Rahid, pria itu lantas terjatuh ke dalam kolam sambil termenung oleh rasa sakit sebelum akhirnya jatuh dan tenggelam dan secara bersamaan rentetan ingatan saat masih hidup menyerang Gaia, wanita itu merasa ruhnya diremas kuat.
"R-rahid ... "
Ruh Gaia berusaha masuk ke dalam kolam, hendak menggapai pria itu karena ingatan yang mendadak merasuki kepalanya seolah hendak menariknya paksa untuk hilang.
"R-rahid ... Aku mencintaimu ... Sangat ..."
Perlahan ruh Gaia memudar namun di tengah kesadaran yang diambang kematian, ekor mata pria itu menangkap bayangan ruh wanita yang amat ia cintai, menangis harus sambil menyapu lembut wajahnya dengan tangan yang seperti gumpalan angin sebelum benar-benar keduanya terpisah.
...***...
"Ah! Kakak sadar!"
Wysia memekik melihat sepasang kelopak mata Gaia terbuka perlahan, jemari-jemari yang terlipat di atas perut pun mulai bergerak. Abian dan Hare yang juga kebetulan datang di waktu yang tepat lantas berlari sementara Sain tidak pergi kesana melainkan ke ruang lain, dimana Rahid berada.
__ADS_1
Saat sampai disana, air kolam sangat jernih, berbeda dengan sebelumnya karena kali ini permukaannya dihias kilauan bak permata yang tercerai berai.
"Bagaimana keadaanmu?"
Sain langsung mendekati Rahid yang meninggalkan kolam dengan langkah sempoyongan dan tatapan mata agak linglung.
"Apa kamu merasa sak—"
Sain bertanya lagi tapi perkataannya terputus ketika tubuh gagah Rahid limbung, pria itu tidak sadarkan diri namun, Rahid menggumamkan sesuatu yakni agar membawanya segera kembali ke istana. Sain pun tidak punya pilihan selain meminta bantuan kesatria di Sanctia untuk menemaninya mengantar Rahid yang sedikit memprihatinkan.
Sementara itu, Gaia yang mendapatkan kesadarannya kembali langsung mengedarkan pandangan dengan lemah, mencari seseorang yang membuatnya terus cemas.
"Dimana Rahid?" tanyanya amat lemah, nyaris berbisik.
"Tentu saja Yang Mulia ada di istana, Sayang." Hare menjawab.
"Aku ma ... u bertemu."
Gaia kesulitan bicara seolah tubuhnya belum bekerja cukup baik, kerongkongannya pun amat kering jadi ia kembali memejamkan mata, rasanya amat lelah seolah habis menyelesaikan perjalanan amat panjang dengan berjalan kaki.
"Apa dia pingsan, Ayah?" Wysia jadi cemas.
Wysia dan ibunya angguk kepala dan segera mebemui Sain, tapi pendeta itu tidak ada disana jadi Abian meminta untuk menyampaikan rasa maafnya karena meninggalkan Sanctia walau begitu ia telah berpamitan dengan semua penghuni Sanctia.
"Ayah, kakak menangis."
Wysia melirik kakaknya yang terbaring lelap di dalam kereta kuda dengan kepala terpangku di pahanya.
"Sepertinya dia bermimpi. Sungguh ini keajaiban, aku tidak percaya bahwa bisa mendapatkan putru kita kembali, Sayang." Hare menangis sesegukan dalam dekapan Abian.
...***...
Dua hari kemudian, Rahid mulai sibuk di ruang kerja sambil menandatangani beberapa dokumen. Pria itu diam sejak kemarin dengan ekspresi sulit diartikan bahkan Eslan dan Argio tampak bingung mendapati ekspresi itu setelah memberi tahu bahwa Gaia telah hidup kembali dan berada di kediaman Isra.
"Saya bisa menangani ini, Yang Mulia. Anda bisa meninggalkan istana untuk menjenguknya."
Eslan berusaha membujuk, tapi Rahid hanya memberi tatapan singkat yang dingin padanya.
"Aku sudah mengirim ucapan selamat melalui Haetric."
__ADS_1
"Kenapa harus penyihir itu, Yang Mulia? Anda, kan, yang selama ini menantikan Lady terbangun?"
Kali ini Argio yang menyahut dan Rahid mengembuskan napas lelah, walau memang saat ini ia kesal dengan keadaannya yang menahan diri untuk tidak menemui Gaia karena bagaimanapun ia sudah memantapkan hati untuk membiarkan wanita itu bersama Haetric, lagi pula ia sudah meminta agar Sain dan Wysia tidak membeberkan fakta tentang pengorbanan itu pada Gaia.
"Lagi pula Haetric harus berterima kasih dan meminta maaf padanya. Lalu, aku tidak bisa kemana -mana karena dokumen ini juga persiapan untuk acara pembentukan negara yang akan diselenggarakan pekan depan." Rahid beralasan.
Sementara itu di kediaman Isra, setumpuk hadiah dan ucapan selamat telah membanjiri kediamannya, banyak sekali orang-orang yang menyambut dirinya bahkan beberapa warga sekitar berada di luar gerbang hanya untuk melihatnya, memastikan bahwa ia benar-benar hidup kembali setelah menyelamatkan banyak nyawa.
"Sampai kapan ayah akan mengurungku? Aku harus menemui Rahid!"
Gaia bersikeras meminta persetujuan sambil berteriak dan memukul pintu yang dikunci oleh ayahnya. Bisa saja ia kabur dengan melompat dari balkon, tapi berjalan saja masih tertatih-tatih, seolah baru pandai belajar berjalan! Gaia benci kondisi ini, ia masih ingat apa saja yang dilihat saat menjadi ruh.
"Maaf, Nona, tapi anda harus tetap di kamar sampai benar-benar pulih." Pelayan di luar pintu menyahutinya.
Gaia berdecak sebal lalu berjalan ke arah balkon dan ternyata disana sudah ada Haetric yang melambai sambil membawa tiga buket bunga Peony berbeda warna sampai kesulitan mendekapnya.
"Haetric?"
Haetric menanggalkan topeng, lalu tersenyum sambil masuk dan meletakkan bunga itu di atas meja mundar di dalam kamar Gaia.
"Sedang bertemu denganmu, Yasril."
Sepasang mata Gaia terbelalak saat Haetric mendaratkan kecupan di punggung tangannya sambil menyebut nama itu. Saat ia terbangun, mimpi panjang menenggelamkannya, ia bertemu Hecate yang menunjukkan masa lalu yang pernah ia lalui dengan Hitres, pria yang sekarang bernama Haetric.
"Ah, sepertinya aku sungguh tidak bisa mendapatkanmu lagi di kehidupan kali ini."
Haetric terkekeh saat Gaia memalingkan wajah dengan ekspresi mengerut sedih.
"Ini menyedihkan, Haetric. Tapi di matamu saat ini aku bukanlah Gaia, tapi Yasril, wanita yang amat kamu cintai di masa lalu. Saat pertama kali ingatan itu kudapatkan, aku seperti menyaksikan kisah cinta orang lain."
Haetric terbelalak lalu sedetik kemudian pria itu tergelak pendek. Yah, itu memang menyedihkan. Mau Yasril bereinkarnasi ribuan kali pun, ia hanya akan mencintai Yasril di kehidupan pertama.
"Dia memberikan bunga itu untukmu sebagai ucapan selamat, tapi sepertinya malah jadi seperti ungkapan cinta." Haetric melirik setumpuk buket bunga yang dibawa tadi.
Gaia sigap menghampiri bunga-bunga itu lalu tersenyum tipis. "Aku akan menemuinya besok. Apa kamu bisa membantuku?"
Haetric mengulum senyum. "Tentu saja."
...BERSAMBUNG......
__ADS_1
...Terima kasih telah meninggalkan banyak dukungan di cerita ini, terutama untuk pembaca yang selalu menemani saya lewat kolom komentar, sampai jumpa di chapter selanjutnya🐣...