Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
18| Pertengkaran


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Sihan berhasil melewati beberapa kesatria serta pendeta yang berkeliaran di ibukota dan sukses mengantar pesanan Baron Geld tanpa kecurigaan sama sekali.


Ditemani tiga temannya yang terdiri dari 1 lelaki dan 2 anak perempuan, Sihan langsung bergegas untuk kembali karena beberapa perhatian ksatria yang menjaga warga sipil mulai mengarah cukup intens.


"Sepertinya kita mulai dicurigai."


Sihan berbisik pada teman-temannya. Namun, betapa terkejutnya keempat anak tersebut saat tiba-tiba seorang pendeta mengarahkan tongkat dan menghadang mereka.


"Anak-anak itu penyihir!" tunjuknya.


Sihan tidak tahu kenapa mereka bisa diketahui, tapi setelah melihat warna mata dua temannya berubah ungu, Sihan langsung memberi intruksi agar mereka kabur dan mengikuti dirinya memasuki gang-gang sempit yang berkelok-kelok tanpa ujung.


"Menyebar!"


Para kesatria membagi tim untuk berjaga di setiap mulut gang dan mengurung para anak itu di satu titik lalu menghabisi mereka dan benar saja, Sihan dan ketiga temannya sudah terpojok.


Sihan mengeratkan rahang untuk melindungi temannya, tapi ketiga temannya telah meringkuk ketakutan saat melihat pedang para kesatria mengacung keji pada mereka. Sihan pun takut, kenangan buruk dengan menyaksikan kematian orang tuanya dan pembunuhan masal terhadap penyihir menjadi trauma paling menakutkan seumur hidupnya lalu apakah mereka pun akan merasakan daging yang dirobek bengis oleh besi tajam itu.


"Kita harus meringkusnya dan membawa mereka ke hadapan Yang Mulia." Salah seorang kesatria mengusulkan pendapat.


Dua kesatria lainnya tampak saling pandang namun, salah satu dari mereka yang paling besar dengan luka sayatan besar di lengan seolah tak setuju.


"Bunuh saja disini. Lagi pula pada akhirnya penyihir akan mati seperti binatang," kata kesatria bertubuh besar sembari menyeringai lebar.


Sihan mengepalkan tangan dan menatap penuh kebencian. "Kalianlah yang binatang! Kalian tidak punya hati dan akal saat memburu kaum kami! Kalian adalah makhluk terkejam di dunia ini seharusnya kalian tidak layak mendiami dunia ini!"


Si kesatria tadi lantas tergelak sambil menggulung lengan pakaian, siap menebas leher Sihan. Teman Sihan mulai menangis ketakutan sementara Sihan memasang sikap berani dengan sebuah mantra sihir yang mengudara di atas telapak tangan kecilnya.


"Kamu pikir sihir itu mempan terhadap kami?"


Kemudian si kesatria mengangkat pedang tinggi-tinggi dan siap memenggal kepala Sihan namun, dentingan cukup keras berdenging. Kesatria itu terbelalak melihat kehadiran seorang wanita yang menahan pergerakan pedangnya dengan sebuah pedang putih sangat indah.


Sihan dan lainnya termangu. Rambut panjang nan halus Gaia menyapa lembut wajah mereka, tubuh orang dewasa tengah menjadi perisai mereka saat ini. Untuk sesaat Sihan berpikir bahwa wanita di depannya adalah seorang dewi, tapi kenyataannya itu adalah manusia.


Sementara para kesatria terbelalak setelah tahu bahwa yang ada di hadapan mereka adalah dayang sang tiran, Gaia Kahina Seil.


"Aku akan mengurus anak-anak ini. Kalian kembalilah bekerja." Gaia menatap sengit para kesatria.

__ADS_1


"Jala*ng sialan. Menyingkir dari hadapan kami! Mencegah kami melakukan eksekusi terhadap penyihir akan dianggap sebagai pengkhianat!"


"Pergi dari hadapanku jika kamu tidak mau menggantikan eksekusi anak-anak ini."


"Jangan berpikir karena kamu putri Marquess dan dayang Yang Mulia tindakan ini bisa dimaklumi."


Si kesatria tadi lantas memberi perintah pada tiga temannya untuk mengamankan empat anak kecil di balik punggung Gaia namun mereka sudah dengar rumor bahwa suksesor di keluarga isra bukanlah wanita bangsawan biasa. Gaia cukup terkenal di mata para kesatria perbatasan dalam menegaskan pasukan yang berada di bawah kepemimpinannya.


"Tsk! Sialan! Kalau begitu biar aku saja!"


Si kesatria lantas menyerang Gaia, itu lumayan hebat karena Gaia yakin pergerakan dan tenaga tak biasa si kesatria saat melayangkan ayunan pedang bukan keangkuhan biasa. Itu adalah hasil dari latihan bertahun-tahun untuk menjadi seorang kesatria.


Melihat ada celah di balik perlindungan terhadap Sihan, si kesatria langsung menarik Sihan dan siap menebas leher anak kecil itu tapi yang terjadi justru tangannya tergeletak tidak berdaya di tanah dengan darah bersimbur, menggenang di sekitar kaki sendiri.


"Argh!"


Teriakan si kesatria melengking hebat, rasa sakit di tangan kanannya yang terpotong seperti kejut listrik tanpa henti. Gaia hanya menatap sejenak luka itu lalu membawa anak-anak kabur dari sana namun sebelum itu Gaia bilang pada kesatria lain untuk memanggil pendeta jika tidak mau rekan mereka mati karena kehabisan darah.


"Hah ... Akhirnya bisa keluar juga."


Gaia menyeka keringat di pelipis lalu menatap empat anak yang jauh lebih terengah-engah. Tubuh kecil mereka masih gemetar dan pucat, hal itu membuat Gaia sedikit sedih.


Gaia terkesiap. Sejak pertama kali lihat, sorot mata anak kecil ini mengingatkannya pada Rahid. Walaupun masih kecil, keberaniannya harus diacungkan jempol ditambah ia juga begitu keras melindungi teman-temannya.


Senyum Gaia terlukis bersamaan usapan pada puncak kepala Sihan. "Aku mau jika kita bertemu lagi, kamu bisa sedikit lebih lembut berbicara denganku."


Sihan tercenung, kilau dimata hitam palsunya terpancar karena pesona dari kedua ujung Gaia yang terangkat. Padahal selama ini manusia selalu menatap penuh kebencian dan jijik pada kami.


"Cepatlah pergi."


Gaia lantas mendorong Sihan dan tiga anak lainnya untuk segera keluar dari gang itu dan pulang dan bersamaan itu, Haetric yang sejak tadi memperhatikan di atas atap gedung tampak terdiam dengan sorot mata sulit diartikan namun yang pasti pria itu tersenyum penuh makna di balik topengnya.


...***...


Gaia kembali ke istana setelah menggunakan waktu luang untuk berjalan-jalan di perkotaan, tapi sepulangnya dari sana, Rasila dan Argio menatap cemas padanya bahkan berkata bahwa Rahid sudah menunggu di ruang kerja.


Rasa penasaran Gaia langsung hilang setelah melihat kesatria yang tangannya dipotong telah berdiri di depan meja kerja Rahid dan menatap nyalang dirinya.


"Apa benar kamu menyelamatkan anak-anak penyihir itu, Gaia?"

__ADS_1


Mata Gaia terbelalak. Aura penuh amarah dan kebencian menguar kuat di sekitar tubuh Rahid sampai-sampai Gaia mual. Bagaimana bisa manusia tanpa berkat apapun bisa memiliki aura semacam itu.


"Iya." Gaia tampak cemas saat menjawab.


"Kamu bahkan melukai kesatria di bawah kepemimpinanku hanya demi menyelamatkan anak-anak itu?"


Gaia mengerutkan dahi lalu maju lebih dekat, tepat di samping kesatria yang tangannya sudah dibalut perban berkat pengobatan dari para pendeta dan dokter.


"Hanya? Terlepas dari penyihir, mereka hanya anak-anak, Yang Mulia."


"Walau masih belia, mereka bisa menciptakan kekacauan dengan sihir kutukan. Apa kamu pikir tindakan kamu itu benar?"


Perkataan Damien mengenai Rahid yang hidup dalam dendam dan rasa penyesalan terlintas. Benar, melihat bagaimana marahnya Rahid setelah tahu dia menyelamatkan anak-anak itu, Gaia jadi cemas itu akan bermasalah ke depannya jika dibiarkan.


"Para penyihir harus dimusnahkan. Jika anak-anak itu tertangkap, aku akan memenggal kepala mereka dan menggantungnya di alun-alun." Rahid menompang wajah sambil menancapkan ujung pena bulu penuh kemarahan ke meja.


Gaia mengepalkan tangan lantas menatap Rahid dengan berang. "Bagaimana pun mereka itu manusia, perbedaannya mereka diberkati kekuatan magis. Jika mereka disebut penyihir, bagaimana dengan saya dan para saintess? Mereka menyebarkan sihir hitam karena terus diburu, mereka berusaha menyelamatkan hidup walau pada akhirnya harus luntang-lantung bersembunyi dari dunia yang hampir sepenuhnya dijarah manusia!"


Rahid melebarkan mata tidak terima lantas pena bulu itu melesat kilat di sisi kepala Gaia dan tertancap di dinding. "Apa kamu baru saja membela mereka? Apa kamu tidak tahu bahwa mereka diburu karena menyebarkan kutukan? Merekalah yang memulai semuanya! Bahkan mereka menggunakan kutukan untuk membunuh orang dengan sangat menyedihkan dan menyakitkan! Berani sekali orang sepertimu berkata demikian tanpa pernah mengalami hal itu!"


Eslan, Argio dan Rasila bergidik ngeri dan sigap berada di sisi Gaia, melindungi Gaia jika tiba-tiba Rahid angkat pedang dan melukai wanita yang diberkati kekuatan suci tersebut. Namun, Gaia seolah tak gentar, ia semakin berani menyadarkan Rahid.


"Saya tidak percaya dengan sejarah itu. Sama seperti anda, mereka semua mengalami kehilangan. Kebebasan, kebahagian, dan hak-hak mereka telah direnggut secara paksa dan sekarang mereka harus hidup secara sembunyi-sembunyi dan penuh ketakutan. Hentikanlah perburuan ini Yang Mulia! Apalagi yang anda cari setelah membantai keluarga anda sendiri! Dendam hanya akan menenggelamkan anda ke dalam kehancuran!"


"Jaga mulutmu! Beraninya kamu menentang kuasaku! Kurung dia di penjara selama seminggu untuk merenungkan kesalahan!"


"Y-yang Mulia!" Eslan berusaha menghentikan tindakan Rahid namun tuannya itu justru menghancurkan meja.


Argio menahan Eslan. Ini hukuman teringan yang pernah Rahid berikan kepada orang yang berani membuat kemarahannya meluap. Sungguh, Gaia sangat beruntung karena Rahid tidak membuat salah satu anggota tubuhnya hilang.


"Cepat bawa dia pergi dari hadapanku!" titah Rahid.


Rasila lantas segera membawa Gaia pergi dari sana dan dibawa ke ruang penjara yang terdapat satu buah ranjang kayu kecil.


"Anda baik-baik saja, Lady?"


Gaia mengembuskan napas sambil mengenggam kalung pemberian Sain dan Haetric secara bersamaan. "Aku baik-baik saja, tapi luka di hati Rahid sudah parah."


...BERSAMBUNG ......

__ADS_1


__ADS_2