Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
27| Jebakan


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Belum pernah sebelumnya Haetric secemas ini. Langit benar-benar gelap bersamaan ratusan monster keluar dari persembunyian. Ia sendiri telah melumpuhkan puluhan monster menggunakan sihir tapi sepertinya bubuk yang ditebar duke agneto sampai ke luar hutan. Untuk sesaat pikiran Haetric melayang pada Gaia bersamaan rintik hujan yang kian kencang.


Ctas —


Sepasang mata Haetric mendelik tajam ke sisi kiri, tanpa sadar ia langsung berkelebat cepat dan berakhir di area hutan yang permukaannya bersimbah darah dan beberapa jasad serigala yang ditanam sihir hitam olehnya dan ditengah sekelompok serigala yang masih bugar, Gaia berdiri sambil mengacungkan pedang dengan gemetar.


Kakinya tampak gemetar, lengan kanan mengucurkan darah, lalu beberapa bagian pakaian tampak koyak kemudian mata Haetric menangkap kalung merah yang oernah ia hadiahkan pada Gaia telah dihancurkan, wanita itu meminta pertolongan padanya.


"Tidak, kenapa aku malah datang. Seharusnya aku biarkan dia mati."


Haetric bergumam sembari beringsut mundur, hendak kabur namun satu ekor serigala menerjang dari belakang wanita yang sebentar lagi tumbang itu dan secara spontan tangan Haetric bergerak menyerang menggunakan sihir hingga si serigala menggelinjang sebelum mati.


"Ternyata kamu benar-benar datang, ya." Gaia langsung memandang Haetric setelah menyadari satu serigala tumbang tanpa ia sentuh.


Haetric menyebikkan bibir lalu mendekat setelah menjentikkan jari, menghilangkan sihir hitam pada para serigala namun, akal sehat serigala itu kembali normal dan masih siap menyerang.


"Padahal kamu tahu bahwa ini perbuatanku, tapi kamu malah memanggilku? Kamu sungguh berani, ya."


Haetric menangkap dagu Gaia dengan tangan kanan, memaksa wanita itu untuk menatapnya lebih lama dan saat itu pula Gaia menyadari sesuatu bahwa cara Haetric menatapnya hampir sama seperti Rahid, walau menyimpan kebencian ada sebersit hal teduh yang terpancar.


"Yah, karena apapun pilihanku saat ini pasti akan berakhir kematian bukan, tapi siapa sangka bahwa kamu malah menyelamatkanku."


"Yah, kurasa karena aku sudah berubah pikiran sekarang. Dari pada kubunuh, lebih baik kamu jadi milikku saja, lagi pula mudah sekali mendapatkanmu dari tiran sinting itu."


Haetric mengulum senyum lalu meraih pinggul Gaia, membuat kedua tubuh mereka saling melekat tanpa jarak lalu perlahan tangan besar Haetric menyelinap di balik tengkuk Gaia sebelum akhirnya mendaratkan sapuan lembut di atas bibir ranum Gaia yang basah oleh hujan.


"Ini sangat menyenangkan."


Haetric mengulum senyum miring melihat Rahid membeku di balik pepohonan yang tidak jauh darinya, tentunya pemandangan saat ini terlihat dari balik punggung Gaia.


Gaia sendiri terkejut bukan main, napasnya seolah tercekat di kerongkongan saat Haetric sedikit mengangkat topeng, hanya memperlihatkan bibir dan hidung saja lalu menyatukan bibir mereka.


"Kenapa kamu melakukannya?" Gaia menatap Haetric dengan sedikit kilat kemarahan dan saat itu pula Rahid sudah menjauh dari sana tanpa sepatah kata.


"Kenapa ya? Tentu saja karena aku berubah pikiran untuk membunuhmu." Haetric mengusap bibir Gaia menggunakan ibu jari lalu dalam sekejap tangannya beralih untuk memukul tengkuk Gaia hingga pingsan.


...***...

__ADS_1


Wysia berlari melihat kakaknya berada dalam gendongan Haetric. Seluruh perhatian jatuh pada keduanya, terutama Rahid yang hanya diam dan memandang Haetric dengan sengit namun itu tidak lama karena ia langsung mendekati Haetric dan mengambil alih tubuh Gaia secara sepihak lalu membawanya masuk ke dalam tenda.


"Wah, apa-apaan itu."


"Sepertinya putra viscount viren akan kesulitan."


"Sudah kuduga bahwa Yang Mulia menyukai Lady Gaia, bukan Lady Irian."


Bisikan mulai menyeruak namun Rahid tidak peduli terlebih saat Irian memasang muka masam sambil melirik ayahnya yang ternyata menatap murka pada Haetric. Padahal pria itu yang lebih dulu memintanya untuk membunuh Gaia, tapi kenapa wanita itu selamat dalam gendongannya! Duke agneto sungguh tidak mengerti tindakan yang Haetric tunjukkan itu.


"Bagaimana?" Rahid melipat tangan di dada sambil menatap intens Sain yang sibuk memeriksa kondisi tubuh Gaia yang telah diobati oleh dokter beberapa waktu lalu.


"Sudah tidak apa-apa, sebentar lagi dia akan bangun."


"Kalau begitu cepat selesaikan acara berburu ini dan kembali, kurasa tidak perlu mengumumkan pemenangnya karena aku harus melakukan banyak pekerjaan." Rahid melirik Eslan.


"Baik, Yang Mulia."


...***...


Acara perburuan berakhir dengan buruk lalu esok harinya sebuah pelelangan ilegal digelar oleh keluarga Viren, kali ini semua perhiasan terhampar di depan para bangsawan yang menghadiri lelang, itu habis dalam sekejap.


Haetric tidak peduli, lagi pula keluarga Viren memang sudah hancur sejak ia melangkah masuk ke dalamnya jadi saat kabar bahwa seluruh keluarga Viren ditangkap karena bersekongkol dengan penyihir dan menggunakan sihir hitam sebagai keuntungan, Haetric tampak santai saja sambil menikmati waktu santai di kediaman duke agento. Berbeda dengan kediaman duke Abian esok harinya lagi, dimana Rahid memberi perintah untuk menggeledah rumah marquess tersebut.


"Apa yang kamu lakukan, Rahid?"


Gaia mencekal kuat lengan sang tiran yang hanya diam sambil menandatangani beberapa dokumen di ruang kerja.


"Bekerja."


"Bukan itu. Bukankah kamu bilang akan melindungi keluargaku tapi kenapa ada perintah untuk menggeledah kediaman Isra?"


Rahid mendengus lalu meletakkan pena bulu dalam wadah sembari mendekati Gaia, mencengkam dagu wanita itu cukup kuat.


"Haetric adalah seorang penyihir, kamu tahu itu, kan?"


Dalam seperkian detik mata Gaia membeliak, namun yang ditatap mengulas senyum sarkas.


"Sepertinya kamu terbuai dalam pesona si penyihir itu hingga memilih di pihaknya. Padahal awalnya aku mengira hanya duke agento yang paling berbahaya tapi siapa sangka Isra lebih dulu menyerangku."

__ADS_1


"Apa-apaan dugaan tak mendasarmu itu!"


"Jangan berteriak di depanku!" Rahid meninggikan suara lalu melepaskan cengkamannya cukup kasar hingga Gaia sedikit goyah saat menjaga kesimbangan.


"Pagi ini kami mendapatkan 11 karung berisi bubuk yang tersebar di Hutan Tagh tersembunyi di kediaman Isra. Karung itu disembunyikan bersama bahan baku makanan di dalam karung gandum. Kamu mau berdalih apalagi? Lalu saat kejadian di acara berburu, ditemukan adanya sihir hitam dan kamu malah bermesraan dengan si pelaku. Bukti lainnya, kamu menyelamatkan anak-anak penyihir waktu itu ditambah menggunakan kalung ini."


Rahid lantas meraih sebuah kotak dan melemparnya di hadapan Gaia, itu adalah kalung yang diberikan oleh Haetric.


"Aku sudah bertanya pada ahlinya, batu itu mengandung sihir pemanggilan. Bisa jadi kamu juga yang menyebabkan kekacauan itu, korban yang jatuh cukup banyak jadi bagaimana kamu akan bertanggung jawab?"


Pernyataan Rahid menbuat Gaia diam dalam keterkejutan dan ketidak percayaan. Ini jelas sudah direncanakan, tapi kenapa keluarganya pun ditargetkan.


"Keluargaku pasti dijebak. Aku sudah bilang sebelumnya bahwa tidak akan mengkhianatimu, itu sesuai dengan kontrak kita. Lalu, yang kulakukan akhir-alhir ini bukan untuk merencanakan pengkhianatan tapi mencari tahu kebenaran tentang kutukan yang kamu alami. Percaya padaku, Rahid, ini semua pasti ulah duke agneto."


"Kebenaran tentangku? Aku justru percaya kalau kamu berusaha melenyapkanku dan berusaha menarik orang-orang yang tersisa untuk bekerja sama dengan Haetric."


Tak lama kemudian Eslan datang sambil membawa Aina yang telah diringkus. Gaia terkejut dan langsung mendekati Aina, merengkuh bahu wanita paruh baya tersebut dengan khawatir.


"Kamu bahkan menyembunyikan dayang pribadi mendiang ratu. Hebat sekali, Gaia."


Rahid langsung menarik pedang, mengarahkannya pada leher jenjang Gaia.


"Yang Mulia, saya mohon percaya pada Lady Gaia!"


Rasila tiba-tiba muncul dari balik pintu, napasnya terengah-enggah disusul Argio di belakangnya.


"Wah, hebat sekali Gaia, bahkan kamu berhasil menghasut orang-orang terdekatku."


Alis Rahid terpaut tegas, giginya menimbulkan suara gemerutuk bersama rahang yang mengeras.


"Haetric dan duke agneto akan menimbulkan kekacauan di Retkan, jika kamu tidak percaya padaku, banyak korban yang akan terkena dampaknya." Gaia berdiri setelah sedikit menepis pedang Rahid.


"Kamu pikir akan akan percaya padamu?"


Rahid langsung memerintahkan Argio untuk menahan Gaia namun komandan pasukan itu tak bergerak hingga Rahid mengarahkan ujung pedang pada kerongkongan Gaia.


"Jangan melawanku, Argio. Apa kamu mau melihat aku menebas lehernya disini ketimbang dibawa ke penjara?"


...BERSAMBUNG ......

__ADS_1


__ADS_2