Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
09| Perayaan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Tidak main-main, seluruh jalanan ibu kota sangat gemerlap karena dihias penerang sepanjang jalan. Para pedagang membuka lapak, terdapat opera yang disuguhkan pada alun-alun kota, permainan musik, penari, juga beberapa hiburan lagi. Rakyat Retkan jelas sangat gembira, selama ini tidak ada perayaan besar-besaran di ibukota apalagi semua biaya ini ditanggung oleh pihak istana.


Namun, suasana malam itu hanya ceria di luar. Dalam istana di ruang dasar megah, para bangsawan menunjukkan rasa tegang yang besar, leher mereka pegal saat harus menengadah untuk menatap Rahid ditemani Argio dan Eslan berdiri di lantai dua.


Rahid baru saja mengumumkan bahwa dia adalah penguasa baru Retkan. Sambil mengangkat pedang yang pernah dilumuri darah keluarganya sendiri, Rahid melaungkan perang kecil di antara bangsawan, meminta para bangsawan yang tidak menyukai kepemimpinannya mengacungkan tangan agar cepat ia basmi juga memberi peringatan bahwa pembangkang akan digerus hingga ke akar.


Marquess Isra, Abian, lantas bertepuk tangan untuk memecah keheningan sesaat Rahid telah menuntaskan perkataan. Duke Agneto menautkan alis, bertanya-tanya kenapa sikap Abian berubah. Di sisi lain, Rahid bertemu Abian beberapa hari lalu dan berkata akan melindungi Isra mulai detik itu hingga nyawanya merenggang asal keluarga Isra bisa jadi orang kepercayaannya untuk membantu dalam rencananya di kemudian hari.


Suasana mulai lunak. Para bangsawan menyebar dan menikmati jamuan sambil berbincang kemudian beberapa dari mereka menjauhi area tengah untuk membiarkan beberapa pasangan berdansa di sana, mengikuti alunan musik yang mulai dimainkan.


"Saya sangat senang melihat Yang Mulia ada di atas."


Rahid mengalihkan pandang pada Irian setelah ikut bergabung di lantai dasar. Tiba-tiba saja Irian mendekatinya bersama Duke Agneto, tentu saja perhatian jatuh pada mereka. Mengingat bahwa Irian memiliki kesempatan besar menjadi ratu di kemudian hari.


"Nikmatilah pestanya, Lady Irian." Rahid lantas berlalu begitu saja, sehingga bisikan mulai terdengar sumbang di telinga Irian.


"T-tunggu Yang Mulia!"


Iria langsung menoleh membuat Rahid berhenti dan memandang Irian di belakang. "Ada apa Lady?"


"Bi-bisakah saya berdansa satu musik dengan Yang Mulia?"


Wajah Irian dihias semburat merah muda sementara Duke Agneto diam di belakang putrinya dengan ekspresi dingin namun, pandangan Duke Agneto bukan mengarah pada Irian melainkan pada Gaia yang tengah menemani keluarga. Ekspresi Rahid berubah, sekarang dia tahu kenapa tiba-tiba Duke Agneto jadi begitu terang-terangan menatap Gaia selain itu, mulai terdengar bisik-bisik bahwa Gaia hanya dayang seorang tiran dan kemungkinan suksesor keluarga Isra diganti dengan Wysia.


"Beraninya mereka menghina dayangku." Rahid bergumam, matanya terlihat ingin mengoyak satu persatu mulut bangsawan yang menyebut nama Gaia.


"Maaf, Yang Mulia?" Irian kebingungan saat tak jelas mendengar perkataan Rahid.


"Maaf, Lady Irian, tapi aku belum pandai berdansa." Rahid tersenyum paksa dan mendekati keluarga Isra.


Kepergian Rahid mengembalikan kesadaran Duke Agneto pada Irian. Wajah keriput pria paruh baya itu mengerut tegas dan keji melihat bagaimana beraninya Rahid mempermalukan Irian di perayaan sebesar ini.


"Tidak apa-apa, Nak. Berdansalah bersama Ayah." Duke Agneto tersenyum sembari mengulurkan tangan pada Irian.


"Ayah ... " Air mata irian sudah ada di pelupuk mata, siap jatuh kapan saja.

__ADS_1


"Menangis hanya akan mempermalukan diri kita. Ingat kamu adalah seorang Agneto, angkat kepalamu tinggi-tinggi dan tunjukkan siapa dirimu. Lagi pula, malam ini adalah hari bahagia bagi Keluarga Isra." Duke Agneto mengulum senyum yang terselubung tabiat buruk.


Wysia mengerjap lalu menyikut lengan kakaknya. "Kak, Yang Mulia kemari," bisiknya.


Gaia mengikuti arah pandang Wysia. Tiga hari sebelum pesta digelar, Rahid memberi libur padanya jadi selama itu mereka tidak bertemu dan sepertinya Rahid tidak tidur dengan baik lagi. Sejak pertama Gaia menerapkan berkat sebelum tidur, Rahid selalu memanggil setiap malam hanya untuk menerima berkat jadi sejak itu Gaia akan memberi berkat sehari dua kali pada pria itu, sungguh tidak adil karena itu tidak termasuk dalam perjanjian namun, setelah tahu dari ayahnya Rahid mengatakan ingin melindungi keluarga Isra dengan segenap nyawa, Gaia jadi tidak bisa membantah apapun lagi.


"Suatu kehormatan bisa melihat anda sedekat ini, Yang Mulia." Hare, ibu Gaia menyambut kehadiran Rahid bersama dua orang di sisi sang tiran.


"Saya pun, Marchioness." Rahid menjawab.


Gaia berdecak kagum, ternyata Rahid bisa bersikap sesopan itu pada keluarga bangsawan padahal jelas sekali bersikap kurang ajar pada Duke Agneto dan Irian. Yah, lagipula siapa yang peduli karena Rahid adalah Tiran.


"Apa anda ingin mengatakan sesuatu?" Abian maju lebih dekat.


Tidak menjawab, mata Rahid justru bergerak ke samping Hare, dimana Gaia berdiri menemani Wysia. Gaia langsung memalingkan wajah dan menjatuhkan perhatian ke sembarang arah. Namun, Rahid justru menyeringai tipis melihat respon tersebut.


"Sebenarnya saya belum mendapat berkat sejak tiga hari ini," aku Rahid


"Apa maksud anda?" Abian dan Hare mengerutkan dahi sementara Argio dan Eslan hanya berdehem canggung sambil mengamati Gaia yang masih setia tak dengar apapun.


"Hah~ apakah pihak kedua mau melanggar janji disini?" senyum angkuh dan jahil Rahid tersungging.


"Sepertinya Yang Mulia berbicara padamu, Nak." Hare menyubit pinggang Gaia.


Gaia sedikit meringis lantas menatap Rahid sambil tersenyum paksa. "Apa benar, Yang Mulia?"


Rahid angguk kepala lalu mengarahkan telunjuk di dahi. "Cepat lakukan sebanyak tiga kali."


"A-apa? Di sini? Anda gil—hmph!"


Wysia tersenyum canggung sambil membungkam mulut kakaknya. "Sepertinya kakak sedikit mabuk, Yang Mulia."


Rahid melipat tangan di dada. "Pantas saja wajahnya sangat merah, seperti akan meledak," ejeknya.


Gaia menahan decakan lantas menyingkirkan tangan Wysia.


"Mari lakukan di balkon." Gaia melirik salah satu balkon yang jauh dari ruang pesta.

__ADS_1


"Aku lebih suka disini."


"Maaf, Sir Argio, Sir Eslan. Tolong temani keluarga saya sebentar."


Gaia langsung meraih tangan Rahid, membawa pria berkulit tan tersebut menuju balkon. Mata Rahid tak berkedip memandangi tangan kecil pucat itu tak sanggup menelan tangannya yang besar dan itu terlihat sangat lucu.


"Sekarang kita bisa melakukannya." Gaia mengembuskan napas setelah menutup pintu balkon, tapi sebelum tertutup rapat, Gaia bisa lihat bagaimana besarnya mata keluarga dan dua ajudan sang tiran saat ia membawa Rahid menjauh tanpa izin si empu.


"Apa tiga terlalu banyak?" Rahid menyandar di pagar balkon.


"Iya." Gaia menjawab cepat.


"Kalau begitu lakukan sekali saja."


Gaia langsung mendekat dengan mata berbinar. Kalau begitu pasti sangat cepat dan ia bisa mengakhiri waktu bersama Rahid.


"Bukan di kening, tapi disini." Rahid mengulurkan tangan di rahang Gaia sembari menyentuh bibir wanita itu menggunakan ibu jari.


"Hah? Anda benar-benar tidak waras, ya? Bukankah ini sudah lancang?" Gaia menautkan alias sambil mengetatkan rahang wajah.


Rahid tertawa pelan sambil menjauhkan tangan dari rahang Gaia. "Aku hanya bercanda."


"Bagaimana jika saya menyetujui candaan anda itu?" Gaia masih merengut kesal.


"Tentu saja kuterima dengan lapang dada."


"Tiga kali di dahi," putus Gaia sembari menangkap rahang Rahid.


Entah kenapa, Rahid semakin sering tersenyum, senyum khas anak remaja yang mendapat kesenangan, itulah pikir Gaia. Lantas Gaia mendaratkan satu kecupan ringan di dahi, membiarkan kekuatan sucinya melingkup tubuh Rahid namun, aura aneh menganggu konsentrasi Gaia.


Dalam sekedip, mata Gaia terbuka dan memandang jauh ke balik kepala Rahid. Seorang pria berpakaian layaknya assasin bersembunyi di balik salah satu pilar di bangunan menara yang sejajar dengan balkon. Pria itu menarik busuur dan melesatkan anak panah tepat di belakang kepala Rahid. Gaia jelas melihat ujung mata anak panah diselimuti aura hitam pekat, itu kutukan!


"Rahid!"


Gaia berseru sembari memutar tubuh Rahid dan memeluknya erat, itu tidak bisa dihindari karena kecepatannya dibantu oleh sihir hitam. Seharusnya Gaia bisa membuat Rahid merunduk saja, tapi ada sesuatu yang mengganjal di balik punggung, itu semacam dinding transparan.


Tindakan sepihak Gaia tersebut membuat Rahid sangat terkejut ditambah ketika melihat jauh ke depan, sebuah anak panah telah menghujam punggung Gaia. Tidak ada lagi kalimat meluncur dari bibir Gaia melainkan darah semburan darah kental yang mengotori pakaiannya.

__ADS_1


"Jika terjadi sesuatu padaku, ini bukan salahmu. Kumohon jangan menyalahkan diri." Itulah kalimat terakhir Gaia sebelum jatuh tak sadarkan diri.


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2