
...SELAMAT MEMBACA...
"Tubuhnya sudah ditelan oleh kutukan dan sihir hitam."
Tangan Sain luruh dengan lunglai, sorot matanya menjadi suram menyadari bahwa napas Gaia mulai melemah dan rambut blonde wanita itu perlahan menjadi hitam namun tanpa disadari semua orang, bersamaan detak jantung dan pernapasan yang terhenti itu, ruh Gaia terpisah dari raga tanpa membawa ingatan apapun. Dalam penuh kebingungan, wanita itu memandang tubuhnya serta memperhatikan suasana berkabung yang menyelimuti kapel.
Berusaha menyentuh Sain yang masih menangisi tubuhnya, Gaia justru menembus tubuh pendeta itu walau berulang kali melakukannya.
"Kumohon, bertahanlah. Jangan mati ... "
Air mata Sain luruh bagai rintik hujan yang membasahi gaun wanita yang ia genggam tangannya sambil bersikeras menyalurkan kekuatan penyembuh yang telah berulang kali gagal. Sang pemilik tubuh yang berubah menjadi ruh merasa pedih melihat tangis Sain, walau tidak tahu siapa pria itu, ia merasakan ada ikatan diantara mereka juga terhadap orang-orang disekitar namun, ia bahkan tidak tahu siapa dirinya dan mengapa bisa berakhir demikian.
"Y-yang Mulia."
Perhatian Gaia beralih, ia berhenti mengusik Sain, pandangannya jatuh pada pria berkulit tan yang basah oleh peluh. Auranya begitu mengintimidasi saat muncul namun, betapa terkejutnya ia melihat pupil mata pria itu bergetar hebat dan berkaca-kaca setelah melihat tubuhnya yang tergeletak menyedihkan disana. Hanya seperkian detik sebelum pria itu kabur dan berlari keluar tanpa tentu arah dan karena penasaran ia mengikuti kemana perginya.
"Haah ... Haaah ... Haah ..."
Rahid kesulitan mengatur napas, jantungnya seolah hendak meledak setelah melihat kondisi Gaia. Peluh yang tadinya berhenti kini muncul dengan ganas, mengiringi rasa takut dan penyesalan yang merayap dan menggerogotinya di lorong lengang ini.
"Ti ... tidak, aku pasti salah lihat. Dia pasti masih di kamar."
Sambil meremas kuat dada dari luar pakaiannya, tiran itu berjalan gontai menuju kamar dimana terakhir kali mengunci Gaia namun saat sampai disana daun pintu itu terbuka lebar dan tidak ada siapapun.
"Ah ... Ukh!"
Tubuhnya merosot, bersimpuh dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat dada bersamaan tangis tanpa suara. Air mata pria itu luruh tanpa bisa dihentikan, pandangannya mendadak buram, gelap dan tidak menentu. Bayang-bayang tubuh Gaia yang tergeletak dengan saraf menghitam di kapel mengingatkannya pada mendiang sang ibu, tapi kali ini rasanya amat menyakitkan.
"Argh!"
"Y-yang Mulia ... "
Argio dan Eslan yang sejak awal menyadari kedatang Rahid di kapel menyusul dan mendapati tuannya bersimpuh di depan kamar dengan nelangsa.
"Apa benar itu dia?"
__ADS_1
Rahid berusaha memastikan lagi sambil memandang dua ajudannya namun yang ia dapati adalah anggukan. Sementara itu, tepat di depannya, ruh Gaia bersimpuh sambil memandang dirinya yang tak mampu membendung air mata.
"Ini semua salahku. Harusnya aku percaya dan tetap ada di sisinya, tapi aku justru ... "
Rahid memandang kedua telapak tangannya yang gemetar dan basah oleh air mata sendiri disusul ingatan-ingatan tentang sikap kasarnya pada Gaia terakhir kali.
"Kenapa kamu menyalahkan diri? Siapa kamu?" Gaia bergumam, menatap getir pria yang terus menyalahkan diri atas kematiannya.
"T-tidak, Yang Mulia. Saya yakin ini pilihannya, jika anda menyalahkan diri, beliau pas—"
"Tidak, Argio. Jika aku menuruti perkataannya, mungkin saja dia bisa menenangkan kemarahan penyihir itu. Tapi, aku justru mencegahnya dengan alasan lain padahal aku hanya tidak mau dia berdiri di sisi pria itu lalu meninggalkanku. Kalau saja aku tidak egois dan terlalu mendendam, aku pasti tidak akan kehilangannya. Kalau bukan karena aku ... Lalu siapa? Tidak ada yang bisa disalahkan selain aku."
"Y-yang Mulia."
Eslan berusaha maju sesaat Rahid berdiri dan mendelik tajam, berkata panjang lebar tanpa mengambil jeda dengan benar sampai-sampi ekspresi yang ditunjukkan seperti orang yang akan hilang akal.
"T-tidak, ini bukan salahmu! Aku yakin itu, jadi kumohon tenangkan dirimu!"
Gaia berusaha bergerak dan menangkup wajah Rahid, tapi itu tindakan yang sia-sia namun Gaia tidak bisa membendung rasa sakit yang menyesakkan dadanya, seolah raut wajah pria itulah yang tidak ingin ia lihat sejak dulu.
Argio memejamkan mata sambil melayangkan pukulan kuat di tengkuk Rahid hingga tidak sadarkan diri sementara Gaia secara tidak sadar mengembuskan napas lega.
"Tolong jaga Yang Mulia, aku akan mengurus sisanya di luar," pesan Argio pada Eslan.
Di tempat yang berbeda, di balik senyapnya gang sempit berbatu, Haetric meringkuk kesakitan sambil meremas dada kiri yang berdenyut hebat sejak kekuatan suci tadi melumpuhkan segala serangannya.
"Ikatan baru telah dibentuk, Anakku."
Mata Haetric terbelalak menyadari suara asing bergaung dalam kepalanya. Ia tahu betul siapa itu, Hecate, dewi yang menguasa ilmu sihir dan penyimpangan jalan.
"Wanita itu telah mengorbankan segalanya untuk meruntuhkan pembayaran atas taruhan yang dilakukan leluhurmu. Maka dari itu, kamu yang menerima pertolongan itu akan terikat sebagai abdinya, kamu akan melayani wanita itu seumur hidupmu."
Perlahan rasa sakit berkurang dan Haetric menyandar pada dinding gang dengan terengah-engah, dadanya naik turun bersamaan peluh yang menyusuri pelipis hingga leher kokoh yang jenjang.
"Leluhurmu hendak menghancurkan kehidupan manusia dan jadi gelap mata, ia memohon sebuah kekuatan mengerikan dengan mempertaruhkan berkat alami yang kukaruniai sejak ia muncul ke dunia tapi ia menyesali permintaanya karena pada akhirnya mencintai seorang manusia, sayangnya sihir yang tak terkendali itu membuatnya membunuh manusia itu. Dia selalu menyesali pilihannya karena perbuatannya itu telah membuat keturunannya amat menderita termasuk orang yang dicintainya."
__ADS_1
" ... dan apa kamu tahu siapa leluhurmu itu?"
Mengamati raut wajah Haetric yang melunak, senyum Hecate terlukis penuh kasih.
"Itu adalah kamu, Anakku."
Sepasang mata Haetric lantas melotot. Raut wajahnya menggambarkan ketidak percayaan tapi mengingat yang berkata demikian adalah Hecate, ia berusaha percaya namun, penyihir pertama hidup di ratusan tahun lalu sejak zaman kuno.
Hecate lantas muncul. Memperlihatkan wujudnya yang memiliki tubuh wanita yang molek dengan rambut ungu panjang bergelombang serta mata violet yang menyala di kegelapan disusul aura besar yang membuat sekujur tubuh Haetric bergidik.
Tangan Hecate terulur untuk meraih rahang Haetric sembari berkata, "mari kita lihat kehidupan pertamamu."
...***...
Ratusan tahun lalu, musim dingin baru saja berakhir. Sisa-sisa salju yang sedang mencari membuat jalanan licin. Seorang pemuda berjubah lusuh menjejaki jalanan kota untuk mendapatkan sepotong roti dan kehangatan, tapi ia takut untuk menunjukkan diri sebab orang-orang yang bisa mengenali wajahnya akan histeris kemudian menyerang.
Berbeda dengan manusia lain, ia lahir dengan sebuah berkat sihir yang sangat hebat tapi semua orang menganggap itu adalah kutukan dan akan membawa kehancuran sehingga hendak dibunuh, namun orang tuanya berhasil menyembunyikannya walau harus berpindah-pindah tempat saat ketahuan. Sayangnya, kini ia sudah jadi sebatang kara dan mencoba berbaur dengan manusia.
"S-satu saja."
Sambil menyerahkan koin perungu pada salah satu pemilik toko roti, pemuda itu mengulurkan tangan untuk menerima roti yang disodorkan namun seseorang yang jalan tergesa-gesa menabrak bahunya hingga terjerembab, membuat topi jubahnya merosot dan memperlihatkan sepasang mata ungu yang ditakuti.
Si pedang roti lantas berteriak bahwa pemuda itu adalah penyihir. Tanpa pikir panjang, pemuda itu berlari sambil memeluk erat flatbread nya namu orang-orang di belakang, kanan kiri serta depan berusaha mengepungnya. Tidak ada pilihan lagi selain menggunakan sihir, jadi ia menciptakan sebuah cahaya yang silau dari tangan hingga semua orang memejamkan mata. Di hari itu, para warga mulai resah oleh keberadaan penyihir, mereka berpikir mungkin penyihir akan jadi ancaman besar jadi di mulailah perburuan, tapi perburuan itu mulai menjadi masalah serius karena penyihir lahir dengan visual yang menawan, banyak dari mereka menjadikannya budak se* lalu diperdagangkan.
Hirtes, pemuda itu murka, kekuatan sihirnya yang indah seolah tidak layak untuk menyerang manusia maka dari itu ia memohon dengan sangat untuk menukar berkat itu dengan sihir yang menakutkan demi menghukum manusia. Akan tetapi, setelah menebar kekacauan dan penyihir jadi amat ditakuti, Hitres jadi lupa diri dan hendak memperbudak manusia, menjadi raja akan tetapi ia justru tersansung, jatuh cinta pada putri kerajaan retkan.
Wanita bernama Yasril itu memandang dirinya dengan berbeda. Pertemuan mereka berawal di musim semi, dimana Yasril menyelamatkan Hirtes yang terluka parah setelah diserang oleh Saintess. Yasril jatuh cinta pada mata ungu Hirtes kemudian kepribadian pria itu yang perlahan menghangat walau diawal amat membenci kehadirannya.
Diam-diam Hirtes menyurutkan niatan buruknya dan memilih menghabiskan waktu bersama Yasril akan tetapi hubungannya itu diketahui oleh sang raja dan Yasril dikurung di istana. Hirtes tidak terima dan berusaha mendapatkan Yasril bagaimana pun caranya namun serangannya justru melukai Yasril. Yasril terkena sihir hitam dan digerogoti kutukan secara perlahan.
Hitres menyesal dan sangat terpukul dan kondisi itu dimanfaatkan oleh saintess untuk membunuh Hitres dengan pedang vitagya, sebuah pedang yang memiliki kekuatan luar biasa. Pedang itu dihujam kuat pada dada Hitres namun, pria itu menggunakan sisa sihirnya untuk kembali meminta sesuatu pada dewinya, Hecate.
"Biarkan aku menembus kesalahan ini. Kumohon, kali ini biarkan aku melindunginya, aku ingin melihatnya sekali lagi walau tidak bisa memilikinya. Aku hanya ingin melihatnya bahagia juga menghentikan perseteruan di antara manusia dan penyihir. Kumohon berikan belas kasihmu, Dewi Hecate."
Setelah permohonan dipanjatkan, Hecate mengabulkan keinginan itu dan membiarkan Hitres terlahir kembali dengan nama Haetric, mempertemukannya dengan reinkarnasi Yasril, yakni Gaia Kahina Seil namun, jalan yang Hecate berikan tidaklah mudah.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ......