
...SELAMAT MEMBACA...
"Anda belum menentukan waktu pengeksekusian Duke Agneto dan Lady Irian, Yang Mulia?"
Rahid sibuk mengenakan pakaian serba putih polos yang sederhana sembari angguk kepala. "Aku berniat mengeksekusinya saat Gaia sudah sadar."
Sorot mata Eslan berubah sedih begitupun Argio yang hanya tunduk, enggan melihat raut wajah yang Rahid tunjukkan akhir-akhir ini. Sejak kabar kematian Gaia menyebar, tiran itu terlihat lebih sulit disentuh, tapi kali ini Rahid tak lagi memikirkan masa lalu tentang dendam dan fokus membangun Retkan, menciptakan perdamaian diantara manusia dan penyihir.
"Yang Mulia ... Bukankah anda tahu bahwa seseorang yang sudah tiada tidak mungkin hidup kem—"
Perkataan Eslan terhenti dalam sekejap melihat sang tiran justru tersenyum amat tulus dan yakin sembari berucap, "Dia akan bangun, apa kalian percaya padaku?"
Rahid memandang kedua ajudannya dan saat itu pula Argio melihat wajah Rahid berseri dan tampak bahagia walau terselip kepedihan di senyumnya namun Argio membalas pertanyaan itu dengan senyum kecil dan anggukan kepala.
"Jika Yang Mulia berkata demikian, maka saya akan percaya."
"Kalau begitu jagalah istana selama aku tidak ada." Rahid menyentuh pundak dua ajudannya.
Argio dan Eslan saling tampak kebingungan, ekspresi mereka penuh tanda tanya.
"Aku akan berada di Sanctia beberapa hari atau mungkin bulan, entahlah. Jadi selama itu tolong jaga Retkan dan semua orang, aku juga sudah berbicara dengannya untuk membantu jika ada masalah."
Rahid lantas melempar pandang pada balkon yang pintunya terbuka lebar. Haetric duduk di pagar balkon sambil melambai tanpa rasa bersalah dan Argio serta Eslan tampak tak sudi dan memberi ekspresi kesal yang jenaka. Mereka sudah tahu bahwa Rahid dan Haetric menghabiskan waktu berbincang akhir-akhir ini tapi siapa sangka jadi cukup akrab.
"Bagaimana dengan begini?"
Haetric mendekat setelah menanggalkan topeng di wajah, menunjukkan wajah yang persis seperti Rahid, sihir penyamaran itu akan membantu menutupi ketidakberadaan Rahid selama berada di Sanctia.
"Ah, lebih tampan yang asli." Eslan langsung berpaling menatap Rahid yang siap meninggalkan istana.
__ADS_1
"Hah?" Sudut bibir Haetric berkedut.
"Apa kamu tidak lihat tubuh gagah Yang Mulia? Aura penguasamu saja tidak ada, aku bahkan tidak bisa mencium aroma-aroma kekayaan, ketampanan dan kehebatan Yang Mulia darimu, aku yakin semua orang tidak tertipu dalam waktu lama, benarkan, Argio." Eslan menyikut lengan kekar komandan pasukan kesatria yang berdiri di dekatnya.
"Iya, kamu benar." Argio angguk takzim sambil melipat tangan di dada, memalingkan wajah dari Haetric yang menggunakan wajah Rahid.
"Hei."
Haetric memanggil Rahid yang menahan tawa di ambang pintu dengan mata memperhatikan ketiga orang yang berdebat kecil.
"Sialan, siapa yang kamu panggil hei?"
Urat leher Argio timbul namun Eslan buru-buru membungkam mulut pria itu melihat tangan Haetric memunculkan kobaran api biru, ia sampai lupa bahwa pria di depan ini adalah pelaku utama yang nyaris meratakan Retkan.
"Apa aku boleh menggunakan kuasamu untuk memerintah dua orang ini?" Haetric menunjuk dua ajudan Rahid dengan tampang menjengkelkan, bibir atasnya agak meruncing kesal.
Rahid tersenyum lalu mengacungkan jempol hingga kedua ajudannya berteriak dan hendak protes namun pintu lebih dulu di tutup oleh Rahid dan detik berikutnya terdengar raungan penuh keluhan, yah, Rahid tidak perlu terlalu memikirkannya paling Argio dan Eslan dikerjai dengan sihir.
Sesampainya di Kuil Sanctia, Rahid bertemu Sain terlebih dahulu dan sana pun ada Wysia. Sepertinya gadis itu menangis setiap hari hingga matanya jadi bengkak bersama pangkal hidung yang merah.
"Aku sudah dengar dari Kak Sain. Apa kamu sungguh akan melakukannya?"
Sejujurnya walau Wysia senang mengetahui kakaknya akan terbangun dengan pengorbanan yang akan Rahid lakukan, tapi di waktu bersamaan Wysia merasa dirinya tidak tahu diri dan tidak tahu malu karena menganggap diri sendiri tidak bisa berbuat banyak.
"Aku tidak mungkin datang jika enggan."
Rahid lantas meminta Sain menuntunnya ke tempat kolam suci berada, di sebuah ruang berada di ujung sebuah lorong panjang yang jarang di lalui penjaga Sanctia. Saat daun pintu terbelah, sebuah ruang putih berlangit-langit tinggi dan memiliki jendela dengan kaca patri berornamen dan rumit langsung disuguhkan di depan mata, ruangan yang amat indah.
Setiap jendela kaca patri besar itu memiliki kisah dan makna mendalam namun yang lebih membuai mata adalah aksen cahaya yang timbul membuat mata siapapun akan berbinar.
__ADS_1
"Ini adalah salah satu ruangan yang menyimpan air suci, tempat yang paling kusukai saat berkomunikasi dengan dewa."
Sain memberitahu sembari memberikan sebuah belati yang tersampul kain putih bersih pada Rahid, itu adalah artefak suci yang akan digunakan di pengorbanan ini.
"Terima kasih. Kalau begitu tolong jangan biarkan siapapun masuk dan melihatku, siapapun itu."
Sain tersenyum dan angguk kepala lantas keluar sambil menutup pintu namun dalam sekedip pendeta itu merunduk sambil menutup wajah.
"100 kali ... Bukankah itu semacam hukuman?" Sain tidak bisa menyembunyikan kesedihannya sejak Rahid menceritakan apa yang diinginkan para dewa untuk menghidupkan Gaia.
Sedangkan di dalam sana, Gaia terus memperhatikan pria yang kini telah melangkah masuk ke dalam kolam, membiarkan air menenggelamkannya hingga sebatas pusar. Saat belati diangkat tinggi-tinggi dengan kedua tangan yang terarah pada dada kiri, Gaia berteriak sambil menutup mata melihat pria itu menancapkan belati ke dada kiri.
Perlahan darah mengucur deras dari dada kiri yang telah dibenamkan belati, Rahid kehilangan banyak darah hingga oksigen yang mengalir ke organ-organnya menipis disusul darah mulai berhenti beredar di kukit, membuatnya pucat dingin, lembab dan terengah-engah. Rasa sakit itu membuat sekujur tubuh mengejang, Rahid merasa sakit dan sangat haus lalu lambat laun sangat pusing disusul pandangan yang kabur.
Air yang jernih mulai gelap oleh darah dan tubuh Rahid tenggelam ke dalam kolam, terbaring dengan darah terus menari-nari mencemari air.
"Ah! Ti-tidak! Ah!"
Gaia meraung dengan air mata luruh dengan kencang, wajahnya jadi basah disusul dada yang amat sakit seolah hendak dirampas paksa.
"Kumohon, hentikan ini! Aku tidak ingin hidup kembali! Jangan siksa pria ini, kumohon!"
Gaia berteriak pada ruang hampa, berharap para dewa yang menyaksikan pengorbanan tergerak hatinya, tapi tidak ada sahutan apapun kecuali air kolam yang perlahan kembali jernih dan kesadaran Rahid mulai terkumpul bersamaan luka di dada terkatup kembali.
Saat muncul dan kembali berdiri dengan tubuh yang nyaris limbung, Rahid justru tersenyum sambil menyeka air di wajah. Rasa sakit ditusukan pertama itu masih berdenyut jelas di dada kiri, namun Rahid bersikeras mempertahankan tekadnya walau kini kedua tangan yang memegang belati bergetar hebat. Ini jelas amat menakutkan dan menyakitkan, tapi ia sudah terbiasa menghadapi kehidupan di ambang kematian, ia yakin rasanya tidak akan semenyakitkan seperti di awal.
"Aku yakin akan terbiasa. Aku yakin bisa melakukannya, aku yakin ... " Setelahnya pengorbanan kedua dilakukan, saat itu pula Gaia mematung, pandangannya menjadi gamang.
Darah kembali mencemari kolam suci dan Rahid kembali bangkit dengan raut wajah yang tidak mampu menyembunyikan rasa sakit, ditambah setiap kali pengorbanan dilakukan, Rahid selalu menyemangati dan menguatkan diri sendiri dengan membayangkan bahwa Gaia bangun dan bisa tersenyum kembali, melihat bagaimana ia menepati janji untuk membangun Retkan lebih baik dan memberi kesejahteraan pada bangsa penyihir.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ......