
...SELAMAT MEMBACA...
Sejak zaman kuno, diceritakan bahwa para dewa gemar melakukan taruhan. Setiap orang yang diberkati kekuatan oleh dewa tidaklah murni karena belas kasih melainkan ada rencana tersembunyi di baliknya.
Sain pikir awalnya itu hanya dongeng tak mendasar, tapi kenyataannya memang benar. Seperti dirinya yang terlahir bisa berkomunikasi dengan beberapa dewa dan mampu menyembuhkan luka dan penyakit ringan seseorang, semata-mata bukan berkah tanpa kekosongan. Para dewa bertaruh padanya, apabila Sanctia berakhir menjadi kuil tua yang tak memiliki umat yang taat untuk datang berdoa, maka berkat dalam tubuhnya akan ditarik dan saat itu pula keberadaan Sain akan dihapuskan.
Lalu mengenai Gaia ... Sain bahkah sampai tidak mampu berkata-kata setelah tahu apa yang dipertaruhkan para dewa pada gadis malang tersebut. Terkadang para dewa memang penuh kasih, tapi kenyataannya tidak semua dewa menyukai keberadaan manusia. Dewa yang melakukan taruhan adalah mereka yang merasa bosan atau memang ingin menguji seberapa kuat manusia bertahan dibawah cobaan yang mereka berikan.
"Tolong kabari saya jika dia sudah sadar."
Sain terpaksa harus kembali lebih awal ke Sanctia karena banyak orang beribadah serta melantunkan doa untuk mendapat berkat atau kesembuhan. Eslan hanya menatap iba pada Sain yang mulai melangkah gontai meninggalkan istana.
Sudah tiga hari sejak tragedi itu terjadi dan Gaia belum kunjung membuka mata namun kesadarannya seolah terbuka jelas. Setiap malam akan terdengar rintihan dari Gaia dan Rahid akan selalu terjaga di sisi dayangnya itu.
"Bukankah anda juga harus istirahat, Yang Mulia?"
Eslan menatap getir pada Rahid yang setia duduk di sofa. Mata hitam itu menunjukkan rasa lelah dan penantian agar wanita di ranjangnya segera membuka mata dan bersikap menyebalkan seperti biasa.
"Aku akan melakukannya jika dia sudah bisa membuka mata."
Eslan mengembuskan napas lantas mengalihkan pandang ke arah pintu. Rasila ditemani tiga anggota keluarga Gaia sudah datang jadi Eslan langsung berbisik pada Rahid untuk memberi waktu pribadi pada ketiga orang tersebut untuk melihat kondisi Gaia.
Rahid hanya menatap Abian sejenak sebelum pergi dari sana sementara Eslan langsung menuntun Rahid untuk beristirahat di kamar lain.
"Apa kutukannya belum hilang sepenuhnya?" Wysia tampak cemas sembari menangkup lembut tangan kiri Gaia yang agak dingin dan pucat.
"Sekarang ayah tahu kesepakatan macam apa yang dibuatnya sampai Yang Mulia mau membatalkan eksekusi kita." Abian mengembuskan napas sementara Hera sudah sesegukan melihat putrinya terbaring dengan luka di punggung.
Gaia menunjukkan berkat itu diusia lima tahun. Kala itu pengasuh Gaia terkena kutukan di kediaman Isra dan karena ketakutan, tanpa sengaja kekuatan suci memancar di sekeliling Gaia, bagai sinar yang berlindung di balik punggung.
Setelah itu, Abian dan Hera berusaha keras menyembunyikan fakta tersebut namun pada akhirnya saat pembaptisan di kuil, para pendeta menyadari kekuatan suci luar biasa berada dalam tubuh putrinya. Demi mencegah kekuatan asli putrinya diketahui, Abian dan Hera hanya mengiyakan para pendeta yang mengira kekuatan suci Gaia mungkin sama seperti para saintess terdahulu yakni untuk menyembuhkan luka dan penyakit.
...***...
Hanya ada kabut hitam di sekitarnya, permukaan tempat berpijak tergenang oleh air, terasa dingin dan menusuk telapak kaki.
Gaia berpikir bahwa air itu kian merayap, hendak menelan tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun, menggigil di kegelapan tak jelas. Berpikir bahwa itu mungkin alam baka dan dirinya telah tewas setelah terkena panah, Gaia berteriak agar seorang malaikat menuntunnya ke tempat lain.
Tidak ada sahutan. Gaia termenung dan duduk meringkuk sambil memeluk tubuh telanjang yang semakin menggigil.
__ADS_1
"Padahal kami bertaruh kalau kamu tidak akan bertahan hidup lebih dari 22 tahun, tapi siapa sangka kamu masih sanggup melangkah."
"Benar! Ah, kurasa kita benar-benar sial. Lagi pula kenapa dia masih bisa hidup setelah menderita rasa sakit sepanjang waktu?"
"Kalau dia sampai ke usia 23 tahun, maka sepenuhnya kita kalah. Jika itu terjadi maka ... "
"Hei, hentikan kalimatmu. Lagi pula, apa yang bisa dilakukan manusia selain merengek pada Tuhan?"
Dahi Gaia mengerut saat suara-suara bergaung di tengah kegelapan, tidak hanya dua orang, mereka cukup ramai.
"Kalian ... Para dewa?"
Sosok-sosok tak kasat mata di kegelapan lantas terdiam, mereka saling pandang lalu tampak berbisik.
"Kami senang bersamamu selama beberapa hari ini."
"Beberapa hari?"
"Ya. Kamu sudah tidak sadar selama tiga hari, tidak mati. Tapi mungkin bagimu yang hanya berdiam diri di kegelapan menganggap ini hanya hitungan jam."
Itu benar, para dewa itu tidak salah menerka isi benak Gaia. Berbeda dengan Gaia yang tidak bisa lihat apapun, para dewa justru tak terganggu apapun ketika memperhatikan wanita yang mereka jadikan taruhan.
Gaia bergidik. Ia belum mau mati sekarang, banyak hal yang perlu diselesaikan, setidaknya harus berpamitan dan membuat Wysia layak untuk jadi penggantinya. Terlebih, perjanjian untuk menyembuhkan kutukan Rahid masih terbilang sangat jauh. Gaia mulai bergerak tak tentu, menghindari sesuatu yang bahkan tak ia prediksi wujud dan pergerakannya.
"Sekarang matilah."
Napas Gaia tercekat di kerongkongan bersamaan sebuah sentilan menyakiti dahi. Gaia sontak membuka mata, menarik oksigen secara kencang hingga tubuhnya sedikit menggelinjang.
"Gaia?"
Suara serak yang terdengar lelah dan kehangatan menyelimuti rahang wajahnya membuat Gaia harus memfokuskan pandang lantas hal yang pertama kali dia dapati adalah mata hitam bak obsidian menatap nanar dirinya.
"Rahid?"
"Ya, ini aku." Rahid duduk di sisi Gaia, mengusap rambut panjang yang tergerai diiringi keringat membanjiri di sekitar pelipis hingga leher wanita yang membuatnya terjaga beberapa hari ini.
"Apa kamu juga mati denganku? Apa sekarang kita diakhirat?"
"Tidak ada yang mati."
__ADS_1
Rahid meyakinkan dan Gaia tampak tersenyum lega sembari memejamkan mata, membiarkan tangannya dibungkus oleh tangan besar pria berkulit tan tersebut. Sementara sebelumnya Rahid dikejutkan karena Gaia tiba-tiba menggerakkan tangan dan meraih tangannya, seperti mengalami mimpi buruk.
"Kamu ... Apa kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan keluargaku?"
Gaia sedikit membuka mata, walau napasnya masih terasa berat dan tidak beraturan mulutnya terpaksa untuk terbuka. Sementara Rahid memejamkan mata karena Gaia masih memikirkan orang lain disaat kondisinya sendiri sangat parah.
"Semua baik-baik saja."
Gaia angguk kepala lalu tercenung melihat lingkar hitam yang semakin gelap di bawah kantung mata Rahid.
"Sudah berapa hari aku tidak sadar?"
"Tiga hari."
"Apa kamu menungguku sebegitunya karena butuh berkat? Haruskah aku memberikannya sekarang? Aku berhutang enam kali pemberkatan untukmu, kan?" Gaia tertawa pelan namun renyah.
Perasaan lega Rahid karena Gaia akhirnya sadar mendadak berubah sedikit sentimental. Pria berstatus tiran tersebut tidak suka dan membenarkan apa yang baru saja Gaia katakan. Dia berjaga tanpa istirahat bukan semata-mata karena berkat melainkan mengkhawatirkannya.
"Ya. Apakah kamu bisa membayarnya sekarang?" Rahid berujar tanpa ekspresi, tatapannya begitu dingin dan datar.
"Kamu mau membuatku mati?" cibir Gaia.
"Itu kewajibanmu, kan."
"Seharusnya kamu sedikit berbelas kasih karena aku menyelamatkan hidupmu."
"Ya, ya, aku harus membalasnya, tapi bukan saat ini. Sayangnya, kamu harus membayarku sekarang."
"Kamu benar-benar mau aku melakukan pemberkatan? Di kondisi seperti ini? Kamu tidak waras?"
"Ini kedua kalinya kamu mengataiku. Haruskah kubatalkan perjanjian di antara kita agar eksekusi keluargamu tetap di jalankan?"
"Siala—ukh!" Gaia tersedak oleh rasa sakit hingga tidak mampu melanjutkan perkataan. Bibir yang selalu ranum dan segar itu tampak pecah, kering dan pucat.
Rahid mengembuskan napas lantas mendaratkan sebuah kecupan ringan di dahi Gaia.
"A-apa yang kamu lak—"
"Itu berkat dariku, cepatlah sembuh karena dayangku cuman kamu."
__ADS_1
...BERSAMBUNG .......