Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
36| Alasan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Kursi di tempat paling tinggi di mana bisa melihat tempat pengeksekusian guillotine berdiri gagah di tengah aula telah diisi oleh Rahid, disusul bangsawan lain yang mengisi kursi mengitari aula.


Gerbang ke tempat ini di buka lebar-lebar hingga para rakyat pun bisa menyaksikan dua manusia yang akan dieksekusi mati hari ini. Bagi Rahid ini tidaklah mencekam tapi sesaat matanya menyapu setiap bagian yang akan diisi oleh para bangsawan, sekujur tubuhnya mendadak tersentak dan meremang.


"Sial, tatapan macam apa itu?!"


Rahid langsung berkeringat dan menatap lurus ke depan dengan tegang. Penasaran dengan apa yang membuat tuannya jadi seperti itu, Argio dan Eslan pun ikut menatap ke arah yang sama dan betapa ngerinya mereka melihat api kemurkaan bak berkobar di dalam sepasang mata Gaia.


"A-apa kamu pernah melihat ekspresi dengan hawa membunuh sebesar itu, Argio?" tanya Eslan.


Dalam secepat kilat, dua ajudan sang tiran ikut menatap lurus ke depan. Mereka jauh lebih berkeringat padahal matahari tidak begitu terik.


"Para terdakwa telah tiba!"


Seruan penjaga bergaung. Kini semua perhatian tanpa terkecuali beralih pada seorang pria paruh baya dan wanita muda berpakaian lusuh dengan kedua tangan dirantai tengah dituntun oleh empat algojo bertubuh besar untuk menaiki panggung yang di atas berdiri gagah sebuah guillotine. Caci maki, seruan kemarahan, kata-kata penuh kebencian serta sorakan mencemooh dari rakyat meledak di alun-alun pengeksekusian melihat para biang masalah telah bertengger manis di atas panggung dengan kepala tertunduk malu.


"Akhirnya aku bisa melihat wajahmu lagi, Hurian." Rahid berdiri dan maju beberapa langkah, menatap jauh ke bawah dengan tatapan tanpa belas kasih.


Huria Agneto, itulah nama asli dari Duke Agneto. Gelarnya telah dicopot secara tidak terhormat sejak ditangkap.


"Y-yang Mulia! Kenapa anda lebih memilih penyihir itu dari pada saya yang sudah mengabdi selama puluhan tahun!"


Haetric yang muncul di belakang Rahid hanya diam sambil meredam emosi. Saat agneto berhasil tertangkap, ia telah menemukan fakta bahwa yang menghidupkan api kebencian pada penyihir yang sempat padam adalah pria paruh baya itu dan bisa-bisanya ia justru bekerja sama! Haetric sunggu sangat marah pada ketidaktahuannya tersebut.


"Yang membuat kekacauan adalah si penyihir kenapa keluargaku yang dihukum, Yang Mulia?!"


Huria masih menyangkal, tapi rakyat yang sebulan terakhir ini dapat menyelesaikan pembangunan dan perbaikan kota lebih cepat berkat bantuan para penyihir sama sekali tidak menunjukkan kepercayaan lagi pada keluarga agneto.


"Saya berusaha melindungi semua orang hari itu!"


Huria terus membela diri sementara Irian terus menangis dalam diam sambil menggigit bibir bawah kuat-kuat. Sungguh, ia tidak mau berakhir menyedihkan seperti ini apalagi Rahid bahkan enggan menatapnya.

__ADS_1


"Melindungi katamu? Keluarga kami hampir mati karena pasukan yang kamu perintah!"


"Dasar tidak tahu malu! Mati saja sana!"


"Kalau bukan karena keluarga Isra yang membantu kami evakuasi, mungkin sudah banyak yang terbakar jadi abu!"


"Mati sana!"


"Mati saja!"


Rahid kembali ke kursi bersamaan isyarat yang diberi pada para algojo untuk memulai pengeksekusia. Huria lantas dipaksa merunduk dan meletakkan batang leher di bagian cekung guillotine.


"Dasar anak haram!"


Huria meraung lantas suaranya tak lagi terdengar bersamaan belati Guillotine menumbuk keji batang lehernya hingga terputus, menyimburkan darah bersama kepala bergelinding.


Bola mata Irian terbelalak hebat, suara dan napasnya tercekat dikerongkongan.


"Hah ... Hah ... "


Di sisi lain, tidak sedetik pun Gaia membiarkan momen tadi tertangkap oleh matanya. Ia sudah tidak bisa melihat kematian, tidak lagi ditambah kehancuran yang akan Irian hadapi. Gaia langsung meninggalkan tempat pengeksekusian dengan tangan menutup mulut, rasanya ingin muntah.


"Kenapa dengan Lady? Padahal dia sudah terbiasa mengayunkan pedang untuk membunuh."


Eslan berbisik pada Argio sementara Sain yang juga berada di sana hanya diam. Ia tahu penyebab semua itu karena saat menjenguk di kediaman Isra, Gaia menceritakan semuanya dimulai saat mati dan menjadi ruh. Tanpa banyak bicara, Sain melirik Rahid yang tak kunjung lepaskan perhatian dari Gaia yang telah keluar dari tempat ini.


"Sudah merasa lebih baik?"


Gaia menoleh dan mendapati Sain sudah berada di sampingnya dengan tubuh sedikit membungkuk.


"Walau itu orang lain, bayangan kematian yang terlintas dibenakku hanyalah Rahid yang terus mati sebanyak 100 kali. Rasanya aku .... Bahkan tidak akan sanggup memegang pedang lagi."


Gaia memandang kedua telapak tangannya yang terbuka, sedikit gemetar dan berkeringat.

__ADS_1


"Ah, Maaf, Sain! Aku harus menemuinya!"


Tanpa menatap Sain lagi, Gaia langsung bergegas untuk masuk kembali tapi tidak ada Rahid disana jadi ia segera berlari dan mencari di tempat lain.


"Aku mendapatkanmu!"


Langkah Rahid sontak terhenti bersamaan sebuah tangan ramping mencekal kuat pergelangan tangan kanannya. Gaia tampak terengah-enggah dengan peluh menghias di sekitar pelipis, untuk sesaat Rahid tertegun melihat kesusahan yang wanita itu pancarkan.


"Kita perlu bicara, jangan menghindariku."


Gaia langsung meraih tangan Rahid yang bebas lainnya, kini mereka berhadapan tapi tatapan Rahid turun, menatap ujung sepatu ketimbang memandang Gaia.


"Aku sangat sibuk, kita bisa bicara lain kali. Saat ini persiapan untuk acara pembentukan negara sudah dimulai."


Rahid menyingkirkan tangan Gaia dengan lembut lalu berbalik arah dan melangkah lebih cepat, namun sekali lagi wanita itu mencekal tangannya.


"Apa kamu tidak bisa menjaga sikap terhadap Rajamu? Hubungan diantara kita hanya ada karena sebuah kesepakatan dan ketika itu berakhir maka kamu harus berlaku sepantasnya."


Mata Gaia membeliak, hatinya sedikit terenyuh dan pedih. Lantas sembari menunduk, Gaia berujar dengan penuh penekanan. "Apa kamu masih menyalahkan diri atas kematianku?"


Rahid terkejut namun cepat menguasai dirimu. Sejak terikat hubungan dengannya, entah sudah berapa kali kematian dan marabahaya mendekat dan berusaha menggapai Gaia, memikirkannya saja sudah membuat Rahid sangat menyesal karena telah membuat kesepakatan dengan wanita yang pada akhirnya ia cintai.


Lalu sekarang, ia masih terusik jika Gaia masih berada dalam jangkauannya, itu justru akan semakin berbahaya dan untuk mengantisipasi hal yang sama tidak terulang, Rahid akan memberi dinding yang cukup tinggi agar wanita itu tidak dapat masuk ke dalamnya. Tidak lagi, karena di balik dinding itu hanya ada ranjau berduri.


"Kebetulan sekali kamu disana. Sekarang tunjukkan jalan keluar pada Lady Gaia, aku masih banyak urusan."


Rahid menatap ke depan, menatap Rasila yang tampak kebingungan dengan suasana mencekam di sekitar pasangan itu. Setelah memberi perintah pada Rasila, tiran itu langsung menyentak tangan Gaia hingga terlepas lalu benar-benar pergi tanpa niat menoleh lagi.


Rasila menatap punggung tuannya cukup lama, tapi buru-buru ia menoleh karena cemas Gaia menangis karena sikap kasar Rahid, tapi yang ia dapatkan adalah alis menukik tajam dengan pipi agak mengembung karena kesal, tak sampai disitu bahkan kedua tangan Gaia sampai terkepal hingga pucat.


"Dia pikir aku akan menyerah? Lihat saja, aku akan menghangatkan sikap dinginnya itu!"


Gaia lantas berbalik arah sambil bersungut-sungut, seolah ada asap yang mengelul di atas kepalanya dan hal tersebut membuat Rasila terbengong.

__ADS_1


"Mereka sangat serasi." Rasila mengembuskan napas sambil geleng-geleng kepala.


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2