Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
08| Bantu aku tidur


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Ternyata kamu bisa memberiku senyum sehangat itu," ucap Rahid bersama senyum kecil terselip di bibir.


Dalam sekejap Gaia terkesima, sejenak lupa bahwa pria dengan bak obsidian itu adalah tiran yang menghabisi seluruh anggota keluarga kerajaan. Bukan senyum angkuh, sarkas, maupun sinis seperti biasa, senyum yang saat ini Gaia lihat begitu hangat dan dalam.


"Apa kamu sudah tahu kesalahanmu sehingga datang menemuiku?" Rahid menatap tangan Gaia yang terlihat halus tapi nyatanya kasar dan terdapat kapalan.


"Iya. Saya minta maaf, Yang Mulia." Gaia menunduk.


Rahid lantas melepaskan tangan Gaia sembari merubah posisi jadi duduk menyandar. Gaia lantas berdiri dengan pandangan rendah, menghindari kontak mata.


"Perkataanmu sebelumnya, aku yakin bukan hanya kalimat biasa. Apa keanehan yang kamu dapati dari Duke Agneto?"


Gaia tersentak, memalingkan wajah sambil mengatupkan bibir rapat. Mana mungkin Rahid percaya atas apa yang dikatakannya dan bisa jadi, jawabannya malah menimbulkan persepsi aneh yang membuat keluarganya tersudut.


"Tenang saja. Aku dan Duke Agneto tidak memiliki hubungan begitu erat, aku banya sedikit memanjangkan rantai di lehernya jadi dia terlihat bebas di sekitarku." Rahid melipat yangan di dada sambil menyilangkan kaki.


Duke Agneto membantu Rahid dalam pembantai anggota keluarga kerajaan dan berkat itu Duke Agneto masih bisa mempertahankan posisinya. Tapi tidak lama lagi, Duke Agneto akan menjadi oposisi terkuat bagi Rahid karena yang Gaia ketahui, Duke Agneto terus mencari perhatian para rakyat yang takut saat Rahid menjadi penguasa baru Retkan lewat kudeta berdarah dan Gaia sangat yakin bahwa mungkin saja Duke Agneto-lah yang akan memimpin pemberontakan di masa mendatang, bukan keluarga Isra.


"Maaf, Yang Mulia, tapi saya—" Gaia hendak menolak memberi jawaban, tapi perkataan Eslan kembali muncul dalam benaknya.


"Kemungkinan besar Duke Agneto bisa menggunakan sihir hitam untuk menanamkan kutukan." Gaia akhirnya memberitahu sedikit kebenaran.


Raut wajah Rahid berubah serius. "Kenapa kamu berpikir begitu?"


"Itu ... Sebenarnya saya tidak sengaja berpapasan dengannya. Lalu, setelah Duke Agneto pergi, para kesatria yang disentuh pundaknya oleh Duke Agneto termasuk Dame Rasila mulai menunjukkan reaksi aneh."


Rahid langsung berdiri sampai mengejutkan Gaia. "Kamu bertemu Duke Agneto? Lalu, apa Duke Agneto juga melihatmu saat menangani para kesatria?"

__ADS_1


Gaia geleng kepala. "Sepertinya tidak."


"Hah ... "Rahid menghela napas sambil menyentuh pelipis.


Saat melakukan penyelidikan terhadap sekelompok orang yang tergabung dalam sekte aneh berkaitan sihir hitam dan kutukan, Rahid menemukan fakta bahwa semua terhubung pada Duke Agneto.


"Apa semua orang tahu kamu bisa menyembuhkan kutukan?"


Gaia geleng kepala. "Sejauh ini orang hanya tahu saya menyembuhkan penyakit dan luka ringan, tapi kejadian hari ini pasti telah menyebar sampai keluar istana."


"Kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah memerintah Argio untuk menangani hal itu."


Gaia tampak lega mendengarnya sementara maksud menangani dari mulut Rahid adalah menghabisi orang-orang yang tidak bisa menjaga rahasia di dalam istana. Pasukan kesatria pasti akan tutup mulut sebab mereka adakah orang kepercayaan Rahid sebelum datang ke istana lebih tepatnya itu adalah pasukan militer Duke wilayah Utara. Rahid menukar pasukan asli ke utara agar diajari kesetiaan baru pria paruh baya yang mengaku sebagai walinya tersebut. Damien Askor, penguasa wilayah utara.


"Sebaiknya kamu istirahat. Sejak Retkan kuambil alih, belum ada pesta yang digelar sebagai perayaan pergantian penguasa."


"Anda mau membuat pesta meriah?"


"Ah, tentu saja kamu harus hadir," sambung Rahid.


"Ya, tentu saja. Saya, kan, dayang anda."


Rahid menggerakan telunjuk sebagai sanggahan. "Di pesta itu datanglah bersama keluargamu, bukan sebagai dayangku tapi sebagai penerus keluarga Isra. Ah, dan katakan pada ayahmu untuk menemuiku sebelum acara itu, banyak hal yang harus kami bicarakan."


Rahid mengulum senyum diakhiri kalimat dan itu membuat Gaia menyipitkan mata penuh curiga. "Apa yang ingin anda lakukan pada ayah saya?"


"Ya ampun, aku tidak tahu ada macan segarang ini di Keluarga Isra," cibir Rahid saat melihat alis Gaia menukik curam diiringi bibir sedikit mengerucut menahan emosi tersembunyi.


"Sepertinya anda salah lihat, bukankah saya lebih mirip singa," kelakar Gaia hingga sukses meloloskan tawa pendek dari Rahid.

__ADS_1


Tidak menanggapi perkataan Gaia lagi, Rahid berjalan menuju tempat tidur lantas berbaring di sana sembari menggerakkan tangan agar Gaia mendekat.


"Apa yang anda butuhkan?" tanya Gaia.


"Matahari sebentar lagi terbenam."


"Lalu?"


"Jika kamu berkenan, gunakan kekuatanmu yang seperti tadi untuk membantuku tidur. Kurasa aku bisa sedikit lebih nyaman jika mendapatkannya."


"Anda sudah mau tidur? Matahari bahkan belum sepenuhnya tenggelam." Gaia melempar pandang pada cahaya jingga yang masuk ke kamar.


"Lakukan saja."


"Anda bahkan tidak ingin makan malam terlebih dahulu?"


"Aku baru tahu seorang dayang itu sangat cerewet," cibir Rahid.


Melihat lingkar hitam di bawah mata tajam Rahid, Gaia tak membantah lagi dan mulai memberi sedikit kenyaman melalui kekuatan sucinya. Sama seperti mengatasi kutukan, kekuatan suci Gaia bisa menyingkirkan ketidaknyaman di dalam pikiran, seperti membersihkan pikiran buruk sebelum tidur agar si subyek bisa terlelap nyaman.


"Padahal anda yang paling ditakuti semua orang, tapi siapa sangka anda takut hanya untuk menutup mata cukup lama." Gaia berceletuk di sela-sela proses pemberkatan. Tangan kanan Gaia saat itu terletak di atas sepasang mata Rahid.


Sudut bibir Rahid sedikit tertarik, menciptakan senyum samar. "Ibuku selalu muncul jika aku terlalu lama berada di kegelapan. Itu lebih menyakitkan dari pada menerima sayatan besar di tubuh."


Gaia terdiam, ditatapnya Rahid tanpa sepatah kata karena suara serak pria itu perlahan melemah setelah berkas membersihkan hal negatif di pikirannya.


"Aku ... Hanya ingin melupakan kematian ibu yang menyedihkan. Kurasa ... Aku lebih takut jika sendirian lagi ..."


Gaia menarik tangan dan mendapati dengkuran agak berat lolos dari Rahid. Apa yang dikatakan Eslan benar, Rahid memang penuh dengan luka, itukah yang Gaia pikirkan. Bahkan untuk tidur saja, Rahid masih merasakan luka di masa lalu.

__ADS_1


"Seharusnya kamu tidak mengatakan itu pada orang yang sekarat." Gaia merunduk sambil mengenggam tangan besar Rahid yang kasar.


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2