Ketika Kita Berjodoh

Ketika Kita Berjodoh
Pov Ken


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Aku tidak menyangka hari yang tidak pernah aku harapkan akhirnya tiba juga. Setelah menyelesaikan sholat subuh mama langsung menyuruhku untuk membersihkan diri, lalu beliau juga menyuruhku mengenakan baju pengantin yang aku pilih di butik beberapa hari lalu.


"Apakah benar aku akan menikah?" tanyaku pada diri sendiri. Aku menatap diriku dari pantulan cermin yang ada di kamarku. 


Entahlah aku juga tidak tahu kenapa rasanya aku tidak sanggup untuk menikahi wanita yang belum pernah aku temui sama sekali. 


Jika kalian ingin tahu sampai saat ini kepalaku masih dipenuhi dengan nama anak dari pak Arga rekan kerjasamaku.


Aku tidak tahu kenapa pertama kali aku melihat gadis  itu saat menolong anak kecil di depan restoran jantungku langsung berdetak lebih cepat dua kali lipat dari sebelumnya.


Sayang belum apa-apa aku harus melupakan gadis itu, karena sebentar lagi aku akan menjadi suami orang.


Saat aku melamun sendiri dengan pikiranku papa dan mama mengajakku turun dari mobil. Ternyata kami sudah sampai ditempat tujuan.


Hal pertama yang aku lihat saat turun dari mobil banyak sekali orang yang berkumpul di depan kami, aku bisa melihat jika rumah yang sekarang aku datangi ini adalah sebuah pesantren yang besar, walaupun saat menuju pesantren ini harus melewati hutan terlebih dahulu, siapa sangka orang di dalamnya sangat ramai.


"Assalamualaikum." Sapa papa ku dengan yang lainnya pada orang-orang yang menyambut kedatangan kami.


"Wa'alaikumsalam wr. wb." 


"Akhirnya kalian selamat sampai tujuan, mari pak Deri silahkan masuk sudah ditunggu di dalam."

__ADS_1


Aku seperti mengenal orang yang menyapa papa ku ini, ah iya jika tidak salah bukankah dia kakek Aira, pikirku.


Aku hanya bisa pasrah mengikuti papaku dimana dia akan meletakan aku nantinya, saat aku tengah asyik menyusuri setiap ruangan dan para tamu undangan mataku tak sengaja menangkap sosok seseorang yang sangat familiar bagiku. 


"Bukankah dia Afka, laki-laki yang terus bersama Aira, apakah ini nikah massal." Pikirku dalam hati.


Toh bertanya juga aku tidak tahu harus bertanya dengan siapa. Aku yang tidak sadar ternyata sudah duduk berhadapan dengan Afka.


"Bagaimana apa kita mulai saja." Aku hanya bisa menyimak pertanyan yang dilontalan dari pria paruh baya yang duduk disebelah Afka.


Tak lama kemudian aku mendengar suara papaku. "Kita mulai saja pak penghulu." Itu suara papaku.


"Baiklah mempelai pria silakan menjabat tangan wali dari mempelai wanita." Intrusi  penghulu itu padaku, aku tidak tahu kenapa tanganku dengan reflek menjabat tangan Afka.


Setelah Afka yakin jika aku sudah menjabat tangan nya dia langsung melafalkan sebuah kata. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ken Ahmad Deri Azami dengan saudari kembar saya Aira Nazwa Anggrania binti almarhum Muhammad Arka Anggara."


Deg…..


Jantungku tambah berdetak dengan kencang saat mendengar nama yang disebut oleh Afka, yang membuatku bingung kenapa bukan binti pak Arga saat Afka mengucapkan binti dari Aira. Apa yang sebenarnya terjadi. Dan apakah aku barusan tidak salah dengar jika Afka dan Aira merupakan saudara kembar. 


Setelah Afka selesai mengucapkan kata ijab qabul padaku aku langsung menyambutnya dengan lantang. Aku tidak tahu kenapa aku bisa hafal nama gadis yang akan menjadi istriku dan aku juga bisa menghafal bintinya sekaligus padahal aku hanya mendengar sekali.


Setelah aku selesai mengucapkan ijab qabul kata 'sah' di ruangan itu bergema dimana-mana.

__ADS_1


Aku sempat khawatir sudah lebih dari 3 menit aku menunggu mempelai wanitanya tapi tak kunjung dia turun.


"Masya Allah, cantik sekali mempelai wanitanya." aku langsung melihat ke arah tangga, saat mendengar orang-orang memuji mempelai wanitanya.


Kedua bola mataku tak berpindah dari gadis yang berbalut gaun pengantin dengan warna sama seperti bajuku, padahal aku rasa kami tidak pernah mencoba baju pengantin dengan bersama. Sungguh kebetulan sekali pilihan kami sama.


Aku terus memandang Aira yang kini sudah sah menjadi istriku. Dia tak sekalipun melihatku bahkan dia terus menunduk apakah dia tidak pegal pikirku.


Aku tidak sadar kini Aira sudah duduk di sebelahku dengan bantuan tante Aqila.


"Ai ayo cium punggung tangan suamimu." Suara Afka membuat aku reflek menjulurkan tangan ku pada Aira.


Sayangnya dia tidak langsung menyambut tanganku aku harus menunggu beberapa menit dahulu agar Aira berani mencium punggung tanganku. Jujur aku gemas dengan Aira, ternyata bukan aku saja yang merasakan hal sedemikian tapi juga para tamu undangan.


Sampai suara pak Arga membuat Aira memberanikan diri untuk mencium punggung tanganku. "Ai ayo cium tangan suamimu sudah tidak papa dia sekarang mahrammu kalian sudah sah menjadi suami istri."  


Aku dapat melihat walaupun ragu Aira tetap mencium tanganku. "Alhamdulillah." Mereka semua yang ada di ruang itu mengucap syukur termasuk diriku.


Aku sangat berterima kasih pada Allah karena telah mengirimkan Aira sebagai jodohku, tak sia-sia aku menerima perjodohan ini.


"Aku menyesal telah berkata hal demikian pada mama." Batinku saat mengingat perkataan ku pada mama beberapa hari yang lalu saat pulang dari butik. 


Ternyata gadis yang menikah denganku adalah gadis yang aku harapkan selama ini, takdir Allah memang indah, sekuat apapun aku melupakannya kini kami tetap bersatu, karena dia jodohku. 

__ADS_1


__ADS_2