Ketika Kita Berjodoh

Ketika Kita Berjodoh
Jalan-jalan keluarga


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


 "Woi!" seseorang tiba-tiba memukul sedikit kuat pundak Ken.


"Astagfirullah, sakit hei!" Ken menatap tajam Luki yang telah berani memukul pundaknya dengan keras, jika saja di depannya sudah tidak ada Arga dan istri sudah dipastikan Ken akan membuat Luki mati kutu.


"Lagian lo dicariin dari tadi kagak ketemu, lo kesini niat nggak sih mau mewalikan gue." Si pelaku pura-pura tidak merasa bersalah sama sekali. Mumpung ada kesempatan membuat Ken marah, tapi Ken tidak bisa membalas perbuatan Luki. 


Luki belum menyadari jika ada Arga di depannya.


"Hmmm." Dehem Arga, bukan untuk membuat Luki menoleh pada dirinya, tapi tenggorokan Arga terasa sangat gatal tiba-tiba saja, Arga tidak tahu apa penyebabnya.


"Eh, ada pak Arga." Sapa Luki kikuk.


"Apa kabar pak." Sapanya lagi.


"Alhamdulillah kabar baik Luki kamu sendiri bagaimana?" 


Yang ditanya malah fokus pada wanita yang sedari tadi berdiri di sebelah Arga.


"Hmmm." Kali ini Arga sengaja berdehem untuk Luki sadar.


"Iya pak apa tadi?" ulang Luki.


Bukannya menjawab pertanyaan Luki Arga malam membuat Luki mati kutu. "Jangan memandang istri orang sembarangan dosa, lagi pula dia ini seumuran ibu Ken kira-kira begitu."


"Istri bapak cantik." Mulut Luki kembali berulah.


Beginilah jadinya jika seorang playboy cap kadal beraksi mak, mak juga dia embat.


"Anak ini akan terus berulah, jika tidak segera dibawa pergi dari sini." Batin Ken.


Ken paham sekali seperti apa sifat Luki. Jika melihat cewek cantik sedikit saja. Matanya tak bisa diam.

__ADS_1


"Maaf pak Arga kami harus pulang, ada pekerjaan yang harus kami lakukan, Assalamualaikum." Dengan terpaksa Ken menarik lengan Luki secara kasar jika tidak begitu entah kapan playboy cap kadal itu akan berhenti ngoceh.


"Wa'alaikumsalam."


Melihat kepergian Luki dan Ken, Arga hanya menggelengkan kepala. "Mas kenapa?" tanya Aqila dengan polos.


"Mas tidak Suka ada cowok lain yang memuji kamu." terang Arga.


Aqila hanya terkekeh geli melihat suaminya. "Dia sepantaran Afka mas, itu artinya dia sama aja kayak anak Qila." 


"Terserah kamu saja, sekarang lebih baik kita menemui umi dan abi juga yang lain." 


Arga menarik lembut pergelangan tangan Aqila.


Aqila hanya menggulung senyum atas perlakuan suaminya itu, Aqila berharap jika calon suami Aira akan seperti Arga yang selalu bersikap lembut.


Bukan hanya Aira yang tidak tahu wajah calon suaminya, tapi Aqila juga belum tahu seperti apa calon menantunya itu. Jika suaminya dan mertuanya yakin dia orang baik maka Aqila tak akan ragu lagi.  


Azzar menatap Aira penuh harapan. "Kamu masih kayak anak kecil Zar." Protes Afka.


"Ye! biarin aja mas Afka, lagian yang sering nangis itu mas Afka, kalau Azzar kerjain." ucapnya membela diri.


"Nggak usah ribut udah pada gede, jadi nggak jalan-jalan nya, abis itu kita ke pesantren kakek."


"Tumben Ai, biasanya juga kamu yang ngajak aku berantem, jangan-jangan efek mau nikah ya Ai, calonnya mana Ai masmu ini harus mengintrogasi calon ipar dulu."


Aira mendelik kesal pada Afka. "Kembaran tak tau diri." gumun Aira yang masih bisa didengar Azzar.


"Ribut mulu."


"Kamu yang mulai Azzar!" ucap Aira dan Afka serempak.


Para orang tua hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak dan cucu mereka. "Sudah-sudah ayo kita jalan-jalan." Ajak Jaya.

__ADS_1


Dengan dua mobil mereka pergi ke pantai yang ada di kota Bandung.


"Ai lusa ke butik ya nyoba baju pengantin kamu." 


"Ai sama siapa umi?" 


"Sama oma sayang."


"Sama umi juga."


"Nenek?" kini Aira menunggu jawaban dari umi Rika yang duduk di sebelah kemudi.


Umi Rika menoleh ke jok belakang sambil tersenyum. "Maafkan nenek tidak bisa menemaimu lusa Ai." 


"Tidak apa nek sudah ada umi dan oma juga." Aira maklum pada umi Rika, dia tahu neneknya itu sangat sibuk.


Mereka sudah sampai dipantai yang mereka tuju. "Masya Allah bagus banget pemandangan disini umi." Aira berjalan seiringan dengan Aqila. Sedangkan yang lainnya sudah duluan.


"Iya Ai, umi jadi kangen abah dan umi di Malang." 


"Umi." Aira langsung memeluk Aqila.


"Ai nanti kalau nikah jagan cuman siap nikah aja ya Ai, tapi juga siapa membimbing anak dan mendidik anak, siap menerima kekurangan suami."


"Iya umi Insya Allah, Aira kan selalu ingat pesan umi. Terima kasih banyak umi sudah mau menjadi ibu pengganti untuk Aira dan Afka."


"Ai ada atauapun tidak ada mama dan papamu, umi dan abi tetap umi, abi kamu dan Afka."


"Sudah jangan menagis kita kan kesini mau menikmati pemandagan indah cipataan Allah Ai."


Seorang menghampiri Aira dan Aqila. "Umi, mbak Aira ayo kesana." Ajak Azzar.


Keduanya tersenyum pada Azzar. "Oke." Jawab Aira semangat. 

__ADS_1


__ADS_2