
Bismillahirohmanirohim.
Beberapa tahu kemudian Ken dan Aira dikaruniai dua orang putra. Keduanya tidak kembar. Tapi sifat dan watak mereka hampir sama.
Ahmad Angga maulana Anggara, anak pertama dari pasangan Ken dan Aira, kini umur Angga sudah menginjak 5 tahun.
Sedangkan Anak kedua mereka yang hanya berjarak 2 tahun dengan Angga bernama Anggara Arkadana Anggara. Biasanya Aira akan memanggil Anggara dengan sebutan Arka untuk mengingat nama almarhum sang papa.
Saat ini Aira tengah mengandung anak ketiga mereka yang dikira-kira berjenis kelamain perempuan.
"Angga sini sarapan dulu, sekalian ajak adikmu." Suruh Aira dengan nada lembut. Angga dan Arka sedang bermain bersama.
Aira yang sudah selesai memasak langsung menyuruh keluarga kecilnya itu untuk sarapan bersama. Ken bukan tak mampun menyewa asisten rumah tangga, namun istrinya itu meyakinkan sang suami jika dia bisa mengurusi semua perkerjaan rumah, termasuk menjaga kedua buah hati mereka.
Tentu saja melihat ketulusan sang istri Ken tak pernah tega melihat Aira kelelahan, dia akan selalu meluangkan waktu untuk keluarga kecilnya. Ken masih tak menyangka akan hidup sampai sejuah ini dengan cinta permatanya.
Walaupun begitu, mereka tak pernah lupun dari sebuah cobaan yang menimpa rumah tangga mereka. Aira dan Ken selalu bisa menyelesaikan secara bersama. Keduanya saling terbuka satu sama lain. Jika Ken sedang emosi Aira akan dengan perlahan meredakan emosi sang suami.
Tak pernah sekalipun Ken berbuat kasar pada Aira. Semarah apapun Ken dengan Aira. Seperti beberapa tahu lalu dokter Raja yang menyapa Aira dengan sangat lembuat dan manis.
Ken dapat melihat jelas jika dokter Raja menyukai istrinya. Bahkan Ken mendengar dari mulut dokter Raja sendiri, jika dia menyukai Aira istrinya. Saat itu Ken dibuat emosi tapi untung saja Ken bisa mereda emosinya itu.
Dokter Raja ternyata adalah anak angkat dari sahabat Nadira saat Nadira masih dipesantren abi Mibah dulu, sebelum menikah dengan Arka, ayah Aira dan Afka.
Saat dokter Raja masuk SMA, kedua orang tua angkatnya memasukan dokter Raja ke pesantren. Tadinya Raja menolak, tapi lama kelamaan dia betah di pesantren itu, karena ada seorang yang membuat hari-harinya menjadi cerah.
Aira lah orang itu, dulu Raja sering memberi hadiah pada Aira lewat teman Aira. Tapi tak pernah sekali pun Aira menerima hadiah itu. Dia akan selalu memberikan hadiah-hadiah yang diberikan Raja padanya, dengan teman sebangku Aira. Saat duduk dibangku Aliah.
Aira sudah memantapkan hatinya sejak saat orang tuanya menjodohkan dirinya dengan laki-laki yang sama sekali tidak dia kenal. Tak pernah sekali pun Aira menaru hati pada laki-laki. Karena Aira tahu dia sudah di jodohkan, walaupun Aira tak tahu apakah orang yang dijodohkan dengan dirinya akan mencintainya atau tidak.
"Pagi semua." Sapa Ken yang baru saja keluar dari kamar dirinya dan Aira. Ken dan Aira sudah lama pisah rumah dengan mertua Aira.
__ADS_1
"Pagi Pa." Jawab kedua putra Ken dengan kompak. Ia ciuman satu persatu pipi putrnyanya dengan sayang. Aira terseyum bahagia melihat semua ini.
"Ayo sarapan pa, mama, masak udang sambal pedas kesukaan papa." Ajak putra sulung Ken dengan gembira.
"Baiklah ayo kita makan, tapi sebelum itu siapa yang akan memimpin doa makan." ucap Ken menatap kedua putranya.
"Biar Arka saja pa."
"Kalau begitu ayo baca doanya Arka." suruh Aira dengan senyum yang tersungging di kedua sudut bibirnya.
"Oke ma."
"Bismillahirohmanirohim. Allahuma barik lan fima rozaqtama waqina Azabannarr." Walaupun belum terlalu lancar tapi Aira dan Ken menghargai usaha putra kedua mereka itu.
Arka walaupun baru berumur tiga tahun, tapi dia sudah hafal beberapa doa. Kecerdasaan yang dimiliki Aira maupun Ken. Benar-benar melekat dikedua putra mereka.
Mereka makan dengan temang samabil sesekali Ken dan Aira menertawakan cara makan putra mereka Arka yang belum terlalu benar.
"Boleh ma." Jawabnya yang sudah pasrah, karena nasi yang dia sendok tak kunjung masuk kemulutnya. Setiap Kali Arka akan memasukan nasi itu ke dalam mulutnya. Selalu lebih dulu nasi yang dia sendok tadi jatuh kembali kepiring.
"Makanya pelan-pelan oke." Ucap Aira yang mengelus lembut kepala Arka, juga Angga yang duduk tepat disebelah Arka.
"Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih banyak Engkau telah mengaruniai hamba seorang istri yang solehah. Dan anak-anak yang cerdas. Semoga kelak putra putri hamba menjadi orang yang soleh solehah, selalu memperjuangkan agama Engkau. Aminn." Bati Ken, rasa bahagian menyelimuti dirinya.
Ken dan Aira sadar sebahagai apapun sebuah hubungan atau keluarga pasti akan ada akhirnya. Akhir dari semua itu kita kembali pada Sang Pemilik Raga. Maka dari itu Ken dan Aira sudah menanamkan tentang agaam sedari kecil pada kedua buah hati mereka.
Didikan yang dilakukan Ken dan Aira pada putra-putra mereka memang sangat luar biasa. Jika ada pepatah mengatkan berakit rakit dahulu, bersenang-senang kemudia.
Seperti itulau pribahasa yang cocok untuk diberikan pada Ken dan Aira. Keduanya melatih Angga dengan penuh kesabaran. Sampai puncaknya anak berumur 5 tahun itu sudah hafal jus 30. Aira dan Ken merasa sangat bersyukur.
Setelah selesai sarapaan Aira mengantar suaminya kedepan rumah ditemani oleh Arka. Sebelum bernangkat kerja Ken pasti akan selalu mengantar Angga sekolah dulu, setelah pulang sekolah dia juga akan menjemput Angga. Kandang Ken langsung membawa Angga pulang, atau tidak dia akan membawa Angga ke kantornya sampai jam pulang.
__ADS_1
Walaupun leleh tapi Ken tak pernah mengeluh sama sekali perihal keluarganya. Ken belajar semua itu dari Aira yang memiliki kesabaran berlipat-lipat ganda menurut Ken seperti itu.
"Ai mas berkagat dulu, jangan terlalu capek mengerjakan perkerjaan rumah. Dan kamu anak papa jangan rewel di dalam ya baik-baik disana. Kami menanti kehadiranmu." Ucap Ken samabil mencium perut istrinya diikuti kedua buah hati mereka.
"Ma, Angga berangkat sekolah dulu. Adek Angga jagan nakal oke." Ucapnya pada bayi yanga ada di dalam perut Aira.
"Son jangain mama oke!" suruh Ken pada putra keduanya.
"Abang juga titip mama ya Ar." Ucap Angga kemudian.
"Oke pa, oke bang." Jawabnya dengan semangat. Aira dan Arka mencium punggung tangan suami dan anaknya itu. Setelah itu kedua orang berbeda usia itu pergi untuk melakukan kegiatan masing-masing. Tak lupa Ken dan Angga mengucapkan salam saat pergi.
"Ar, ayo masuk." Ajak Aira dia menggandeng tangan putranya dengan lembut
"Ma." panggil Arka.
Aira yang merasa jika Arka akan mengatkan sesuatu mensejejerkan tubuhnya dengan Arka. "Kenapa hm?" tanya Aira dengan lembut.
"Kapan dedeknya lahir?" Arka sangat penasaran.
"Beberapa bulan lagi, Arka pasti akan melihat adik Arka."
"Benar Ma." Anak itu sangat antusias sekali.
"Insya Allah sayang."
####
Hai semua terima kasih yang sudah berkenan mampir di 'ketika kita berjodoh' maaf ceritanya udah and cuman sampai sini doang. Pokonya yang udah mampir di Aira dan Ken. Thank you!!
Maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan dan penyampaian. Karena kesalahan itu datangnya dari diri saya sendiri dan kebenaran hanya miliki Allah.
__ADS_1
Oh iya buat kalian semua yang sudah mampir disini jangan lupa mampir juga di karyaku yang judulnya Thank you mom!