
Bismillahirohmanirohim.
Siang itu jalan raya di kota Bandung macet total. Sepasang suami istri yang baru saja melaksanakan sholat dzuhur di salah satu masjid yang ada di dekat jalan raya kota Bandung, harus ikut dalam kemacetan yang terjadi.
Mereka baru saja pulang dari haji, tidak ada keluarga yang tahu karena mereka berniat memberi kejutan untuk keluarganya, jika mereka sudah pulang setelah menyempurnakan rukun islam yang terakhir.
Tapi anak laki-laki mereka yang sangat tahu seperti apa mama dan papa nya segera menjemput adiknya untuk menunggu mama dan papa nya sampai di rumah. Dia sudah tahu jika mama dan papanya akan pulang hari ini.
"Hubab, ada apa? tidak biasanya di sini macet saat jam segini." Tanya istrinya.
Suaminya menoleh pada sang istri kebetulan sekali mobil mereka berada di barisan nomor dua antrian macet.
Laki-laki itu mencium tangan istrinya dengan sayang. "Hubab tidak tahu ma, tapi biar hubab cek dulu." Ucap Arka suami Nadira itu.
Ayah dari dua orang anak itu keluar dari mobilnya setelah mendapat persetujuan dari sang istri. "Jangan lama hubab." Pesan Nadira pada Arka. Arka hanya mengangguk untuk meyakinkan Nadira.
Jalan yang tadinya macet semakin terlihat macet, Nadira yang penasaran apa yang terjadi di depan segera turun dari mobil, apalagi suaminya juga sudah hampir 20 menit belum kembali.
"Hubab." Terika Nadira sambil berlari kecil menghampiri tempat suaminya berada.
"Innalillahi." Kaget Nadira saat melihat ada kecelakaan, ternyata penyebab macet total adalah karena kecelakan yang terjadi.
"Kenapa tidak ada yang membantu mereka hubab?" tanya Nadira, dia ikut membantu suaminya mengeluarkan korban kecelakan yang sedang terjebak di dalam mobil korban.
"Mbak ayo pegang tangan saya." Ucap Nadira pada seorang wanita yang hampir seumuran dengan Nadira. Mungkin lebih tua perempuan itu, satu atau dua tahun.
"Mbak, apakah mbak memiliki anak perempuan?" Nadira tentu saja kaget dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut perempuan yang sedang iya tolong ini.
"Mbak saya punya anak perempuan tapi nanti saja tanyanya mbak harus diselamatkan terlebih dahulu." Ujar Nadira.
Perempuan yang ditolong Nadira itu menggeleng. "Boleh saya menjodohkan anak perempuan Mbak dengan anak laki-laki saya, sebagai ucapan terima kasih, karena mbak dan suami mbak sudah sudi menolong saya dan suami saya."
__ADS_1
"Dari banyaknya orang-orang yang berada di dalam mobil hanya kalian yang mau menolong kami." Ucap perempuan itu sambil menatap Nadira dengan tatapan memohon.
Setelah itu dia menoleh pada sang suami yang sedang berusaha keluar dari mobil dengan bantuan Arka.
Nadira masih bingung dengan permintaan orang yang baru dia temui ini, bias-biasanya ada orang yang dalam keadaan hidup atau mati, masih memikirkan putra mereka. Nadira pikir pasti dia adalah ibu yang baik untuk anaknya.
"Mbak saya dan suami saya ikhlas menolong kalian." Ucap Nadira dengan yakin.
"Saya mohon mbak kalian orang baik pasti putri kalian tumbuh seperti ayah dan ibunya yang mau menolong sesama. Mungkin anak saya bisa belajar banyak dari anak mbak nantinya." Perempuan itu kembali menatap Nadira dengan tatapan memohon.
"Baiklah saya setuju mbak, ayo saya bantu." Nadira memapah perempuan itu dengan hati-hati. Tak sia-sia perjuangan Nadira akhirnya dia bisa membawa keluar wanita itu dari mobil.
Arka yang berhasil mengeluarkan suami dari perempuan yang Nadira tolong tadi mendekat pada mereka. Sama seperti Nadira. Arka juga memapah suami perempuan itu dengan sangat hati-hati.
"Mas sudah panggil ambulan?"
Arka tersenyum pada istrinya. "Sudah ma, sebentar lagi sampai."
Tak lama kemudian ambulan yang ditunggu akhirnya sampai juga. "Hubab, Nina perempuan yang kita tolong tadi meminta putranya di jodohkan dengan Aira putri kita hubab."
"Maaf aku memutuskan secara sepihak tidak berdiskusi dulu dengan hubab, aku menyetujui perjodohan itu." Nadira merasa bersalah pada suaminya itu, karena tidak berdiskusi terlebih dahulu tentang hal ini, apalagi ini menyangkut masa depan putri mereka.
"Tidak papa ma, hubab setuju dengan keputusan mama, Insya Allah ini yang terbaik untuk Aira putri kita." Arka tersenyum pada Nadira.
"Terima kasih hubab."
Setelah Nadira dan Arka selesai menolong kedua korban masuk ke dalam mobil ambulan, keduanya yang hendak kembali ke mobil tidak sadar jika ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah mereka, sementara itu jalan yang tadinya macet kini sudah kembali lancar.
"Ming-" belum sempat menyelesaikan teriakannya orang yang di dalam mobil itu sudah menabrak Nadira dan Arka keduanya terpental di tempat yang berbeda. Mobil tadi akhirnya menabrak pembatas jalan hingga mengeluarkan asap.
"Mamaaa……. Papa……" Teriak Afka dan Aira yang melihat kejadian itu keduanya langsung berlari ke arah mama dan papa mereka.
__ADS_1
Aira berlari mendekat pada mamanya, sementara Afak berlari mendekat pada sang papa.
"Papa." Ucap Afka tak kuasa.
Jalan yang tadi sudah lancar kembali macet, karena kejadian kecelakaan untuk yang kedua kalinya di tempat yang sama.
Afka memeriksa tubuh papanya, dia tidak dapat berkata apa-apa lagi hanya kata. "Inalilahi wainalilahi rojiu'n." Yang terucap dari kedua bibir indah Afka.
Untuk pertama kalinya Afka melihat orang meninggal dengan keadaan tersenyum. Dan orang itu papa nya sendiri.
"Papa." Afka kembali bersuara dia tak bisa lagi menahan tangisnya.
Air mata yang selalu dia sembunyikan di depan siapapun itu kini tumpah di hadapan sang papa yang sudah tiada.
Orang-orang yang ada disana segera menghubungi ambulan. Sedangkan Afka cepat menghubungi kakek dan neneknya. Tak lupa dia juga menghubungi oma dan opanya.
Afka dan Aira melihat mama dan papanya tadi sedang menolong orang yang kecelakan juga, tak disangka musibah datang menghampiri mereka.
"Mama." Ucap Aira tak kuasa.
Nadira yang masih bernafas berusaha membuka matanya. Dia tersenyum pada putri kecilnya itu yang kini sudah tumbuh remaja.
"Mama bertahan sebentar lagi ambulan akan datang." Aira terus memeluk sang mama, dia letakan kepala mamanya di pahanya, dia tahan kepala mama nya yang terus mengeluarkan darah.
Ambulan pun datang Nadira dan Arka cepat dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Nadira dan Arka dimasukan ke dalam ambulan yang berbeda. Nadira menemain mama nya sedangkan Afka menemain sang papa, dia terus membacana surat yasin dari handphonenya yang terdapat aplikasi Al-quran. Entah sudah berapa kali remaja laki-laki berusia 15 tahun itu membaca surat yasin sampai tamat untuk papanya.
Afka dan Aira masih dinyatakan yatim, karena umur mereka baru memasuki usia 15 tahun.
Sampai di rumah sakit Nadira dan Arka langsung ditangani oleh dokter. "Afka gimana keadaan papa?" tanya Aira dengan wajah khawatirnya.
__ADS_1
Afka tak dapat menjawab pertanyaan kembarannya itu, dia tatap saudari kembarnya dengan tak menentu. Afka langsung membawa Aira ke dalam kedepannya. "Kita doakan yang terbaik untuk papa Ai, Allah lebih sayang papa, Allah merindukan papa." Kata Afka pelan.
Aira masih berusaha mencerna kata-kata Afka. Afka tahu jika papanya tiada maka yang paling terpuruk bukan dirinya atau sang mama. Maka yang paling terpuruk dengan kepergian sang papa adalah Aira, adik sekaligus saudari kembarnya.