
Bismilahirrohmanirrohim.
Setelah selesai ziarah mereka semua memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke kediaman abi Misbah. Kebetulan memang tempatnya tidak terlalu jauh dari makam umum disana.
Tetap saja mereka harus melewati hutan terlebih dahulu agar bisa sampai ke rumah abi Misbah. Sesampainya mereka di depan gerbang masuk pesantren yang dipimpin oleh abi Misbah, Aira langsung mengaja mereka masuk kesana.
Mobil yang dikendari Deri harus terparkir di depan gerbang karena tidak bisa masuk ke arena pesantren. Disana juga sudah disedikan tempat parkir mobil yang aman, karena abi Misbah sendiri yang membayar tukang parkir di depan pesantren milikinya.
Abi Misbah melakukan hal itu karena setiap hari pasti ada saja tamu yang datang untuk menjenguk anak-anak mereka. Atau ada juga yang datang untuk bersihlaturahmi ke rumah abi Misbah.
Seperti biasa jika ada santri yang melihat Aira lewat pasti mereka semua akan menudukan kepala mereka tanda hormat pada anak dari guru mereka. Ada pula santri wati yang menyapa Aira, walau hanya mengucapkan salam saja setelahnya mereka berlalu.
Aira akan selalu menjawab salam mereka dengan senang hati, cucu perempuan satu-satunya dari abi Misbah dan umi Rika itu tak pernah sekalipun menampakkan wajah kesal atau marahnya pada siapapun. Bahkan pada santri kakeknya sekalipun.
Maka dari itu banyak dari santri abi Misbah merasa segan pada Aira. Dia orang yang sangat baik terhadap sesama. Bahkan dulu saat Aira pernah tinggal di asrama bersama santriwati lainnya dia selalu bersikap baik.
Apalagi ketika opa Jaya dan oma Lina nya mengunjunginya dirinya di pesantren pasti selalu membawakan Aira jajanan yang lumayan banyak. Dan Aira sama sekali tak pernah memakan jajanan itu sendiri, dia selalu berbagi pada santriwati. Hampir setiap santriwati mendpatkan jatanya jajanan yang Aira bagi pada mereka semua.
Aira masih setia berjalan dibelakang suami dan papa mertuanya bersama dengan Nina, sang ibu mertua. Tapi saat akan sampai di kediaman abi Misbah Ken langsung menggandeng tangan istrinya.
"Kamu kenapa?" bingung Nina karena Ken menyelip antara dirinya dan Aira. Sementar itu Deri yang berada di depan mereka hanya bisa menggeleng melihat tingkah putrnya itu.
"Tidak apa-apa ma, Ken cuman mau disebelah istri Ken saja." Jawabnya dengan santi.
Nina tersenyum sama seperti Deri, begitu juga dengan Aira. "Ya sudah!" ucap Nina sambil mendekati suaminya.
__ADS_1
Setelah itu mereka kembali berjalan karena sebentar lagi mereka akan sampai di kediaman abi Misbah.
"Ai tadi kenapa mereka pada nundukin kepala?"
"Terus memangnya mereka itu siapa?" tanya Ken lagi, padahal Aira belum sepmpat menjawab pertanyaannya yang pertama.
"Mereka santrinya kakek mas. Terus mereka nunduk itu tanda adab terhadap yang lebih tua." Jelas Aira.
"Oh begitu rupanya, tersu waktu itu pas ijab mas lihat banyak cowok-cowok deh disekitar sini." Ucap Ken lagi.
"Mereka santri putra mas, memang kalau ada acara mereka pasti selalu bantu-bantu kakek, asrama putra sama asrama putri juga jauh mas. Kalau asrama putra di belakang rumah papa, rumah yang di sebelah rumah abi Arga yang waktu itu mas Ken tanya. Tapi kalau asrama purti itu disana dekat sekolah keliatan kok dari teras rumah kakek." Jelas Aira pada suaminya.
Keduanya mengehentikan berbincang-bincang karena sudah sampai di depan pintu rumah abi Misbah. Kebetulan sekali abi Misbah sedang duduk di teras rumah sudah ditemani Deri yang sampai lebih dulu bersama Nina dari pada Ken dan Aira.
"Wa'alaikumslaam, ayo masuk." Ajak abi Misbah pada mereka semua. Tak lupa Deri juga istrinya mengucapkan salam seperti Ken dan Aira.
Di ruang tamu Nina dan umi Rika sedang menyiapkan kopi dan cemilan melihat itu Aira menyalimi umi Rika setelah itu ikut membantu menyiapkan cemilan di meja.
"Sudah lama Ai?" umi Rika bertanya sambil duduk.
"Sudah nek, tapi tadi Aira ziarah dulu kemakam mama sama papa." Aira dan Nina ikut duduk disebelah umi Rika.
Umi Rika mengangguk mengerti. "Mungkin ini waktunya kalian berdua tahu sesuatu." Umi Rika menatap Aira dan Ken secara bergantian.
Lalu umi Rika melihat ke arah abi Misbah dan Deri terakhir umi Rika melihat pada Nina. Umi Rika seperti sedang meminta persetujuan. Ketiga orang itu mengangguk dengan kompak.
__ADS_1
"Aira tahu kan waktu Aira dan Afka umur 15 tahu apa penyebab mama dan papa Aira tiada?" umi Rika mulai membicarkan hal yang penting. Yang perlu diketahui oleh cucu nya.
"Aira tahu nek, mama dan papa mengalami kecelakaan saat membantu orang yang mengalami kecelakaan pula."
"Aira tahu siapa orang yang ditolong sama mama dan papa Aira?" Aira menggeleng, tentu saja dia tidak tahu siapa mereka.
Hanya satu yang Aira ingat saat mamanya akan menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Aira mau menerima perjodohan yang telah dilakukan oleh mamanya. Aira yang tak tega melihat mama nya sakit langsung saja menyetujui permintaan sang mama.
Sebenarnya bukan hanya Aira yang kaget atas permintaan Nadira tapi juga para orang tua Nadira. Tapi mereka yakin dibalik keputusan Nadira ada hal yang baik. Sampai pada akhirnya mereka semua mengingatkan Aira kembali tentang perjodohan itu.
Ternyata orang yang Nadira maksud saat itu datang ke pemakaman Arka dan Nadira. Setelah itu mereka menjelaskaan semuanya apa yang terjadi pada mereka.
"Apakah Aira akan membenci orang itu yang telah mama dan papa Aira bantu?" umi Rika kembali bertanya.
Sementara itu Deri dan Nina sedari tadi hanya bisa menundukkan kepala merasa bersalah. Untuk Ken, dia memang tidak tahu apa-apa.
Aira kembali menggeleng atas pertanyaan yang terlontar dari umi Rika. Abi Misbah menatap cucunya dengan perasaan bangga. Abi Misbah salut dengan Aira. Yang tak pernah memiliki sedikitpun rasa dendam yang tertanam dihatinya.
"Aira tidak akan membenci orang itu nek, sekalipun mereka masih hidup. Karena garis takdir sudah ditetapkan Allah atas kematian mama dan papa."
"Sesungguhnya kematian akan menghampiri setiap makhluk hidup yang bernyawa bukan hanya mama dan papa saja tapi Aira juga. Kita pasti akan kembali pada sang Pencipta. Bukahkah kakek dan nenek selalu mengajarkan pada Aira untuk ikhlas dengan setiap apa yang Aira miliki."
"Karena sesungguhnya semua yang Aira punya hanya titipan dari Allah, mampukah Aira menjaga semua titipan itu. Dan setelah kepergian mama dan papa untuk selama-lamanya Aira dan Afka juga masih bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu dan ayah. Yaitu, kasih sayang yang diberikan oleh abi Arga dan umi Qila. Mereka tak pernah sekalipun membedakan Aira dan Afka dengan Azzar. Mereka selalu menyamai kami bertiga dalam kasih sayang."
"Umi Qila tidak pernah pula menyuru Aira untuk melupakan sosok mama dan papa bahkan umi Qila terus mengingatkan Aira dan Afka untuk selalu mengirim doa dan Al-fatihah untuk kedua orang tua Aira yang sudah tiada." Aira tersyum manis pada mereka semua.
__ADS_1