Ketika Kita Berjodoh

Ketika Kita Berjodoh
Rahasia?


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Ai kata mama lusa mau ziarah bareng-bareng ke makam?"


Aira yang baru selesai makan menoleh pada papa mertuanya.


"Iya pa, maaf."


"Kenapa harus minta maaf Ai." Bingung Deri.


"Iya Ai kenapa harus minta maaf." Timpal Nina pula.


"Maaf karena sudah merepotkan papa dan mama." Terang Aira tak enak hati.


"Sudah tidak usah minta maaf, seharusnya papa lah yang meminta maaf sama kamu atas masalah ini, lusa setelah pulang dari makam ada yang akan papa dan mama ceritakan sama kamu."


"Baik pa."


Ken yang sedari tadi mendengar pembicaraan papa dan istrinya juga sang mama hanya bisa mendengarkan karena dia tidak tahu makam siapa yang sedang mereka bahasa.


"Kalian dari tadi bahas makam siapa?" Ken yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih baik bertanya langsung dengan yang bersangkutan.


"Nanti kamu anak tau Ken."


"Mama tau kamu ingin meminta sebuah penjelasan pada Aira, begitu juga Aira ingin menjelaskan suatu hal denganmu, akan tetapi kalian berdua belum sama-sama siap, atau belum ada waktu yang tepat."


"Mama dan papa juga akan menjelaskan sesuatu pada kalian berdua setelah pulang dari makam lusa nanti."


Ken hanya bisa pasrah dengan perkataan mamanya yang sama sekali belum bisa Ken cerna dengan baik. Sementara itu Luki yang sudah selesai sarapan langsung berangkat ke kantor jadi dia tidak ikut dalam pembahasaan ini.


"Ai." Aira tahu apa yang ingin suaminya itu tanyakan pada dirinya.


"Nanti Aira jelasakan ya mas setelah mas Ken pulang kerja."


"Baiklah." Pasrah Ken.


"Kalau begitu aku berangkat ma pa." Pamit Ken.

__ADS_1


Aira mengantar suaminya sampai depan rumah, hari ini Aira memang tidak ikut dengan Ken ke kantor karena permintaan mertuanya.


"Hati-hati di jalan mas." Ucap Aira sambil menyalami punggung tangan suaminya.


"Iya Ai, boleh mas minta sesuatu?"


Aira hanya bisa mengangguk sambil penasaran apa yang ingin suaminya itu minta dari dirinya.  


"Nanti siang ke kantor ya bawakan mas makan siang." Ken menatap Aira penuh harapan ingin sekali dia melihat istrinya mengantar makanan ke kantor.


"Nanti Aira ke kantor bawa makanan untuk mas Ken, Insya Allah." Aira tersenyum pada suaminya, hal seperti ini kenapa harus minta tolong coba, ngomong saja Aira akan langsung datang.


"Nanti kamu diantar supir aja Ai ke kantornya." Titah Ken.


"Kenapa harus sama supir mas biar Aira berangkat sendiri aja, disini ada motor kan?"


"Ada Ai, tapi mau yakin mau ke kantor menggunakan motor?" tanya Ken menatap Aira dengan ragu.


"Insyaallah mas!" jawabnya dengan mantap.


"Mas, kalau mas Ken tidak mengizinkan Aira pergi naik motor Aira tidak akan melakukannya." Aira takut, takut dirinya telah membantah ucapan suaminya.


Melihat raut muka Aira seperti orang yang merasa bersalah dan takut Ken langsung memeluk istrinya.


"Kenapa? hmmmm." 


"Aira cuman takut dosa mas sudah menentang suami Aira." Cicintanya yang masih ada dalam pelukan Ken. 


Sungguh Ken tidak menyangka hal sepele ini masih Aira hiraukan. 


"Tidak Ai, mas benar mengizinkan kamu untuk mengendarai motor, tapi ingat jaga keselamatan, keselamatan itu nomor satu, jangan lupa pakai helm dan jangan lupa pula bawa sim, nanti minta sama mama aja sim nya ya Ai."


"Iya mas."


Ken sudah melepaskan pelukannya pada Aira, saat Ken tengah menempelkan bibirnya pada pipi istrinya itu, kedua mertua Aira itu keluar secara bersama.


Nina yang tak sengaja melihat adegan anak dan menantunya tersenyum bahagia. "Loh belum berangkat Ken?" tanya Deri bingung.

__ADS_1


"Ini mau berangkat pa."


Nina hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Ken, sementara itu Aira hanya menunduk malu, takut mertuanya melihat apa yang tadi dilakukan Ken pada dirinya.


"Hati-hati mas." Ucap Aira.


"Kalau begitu papa juga berangkat." Pamit Deri setelah mobil Ken keluar dari pekarangan rumah.   


Aira dan Nina menyalami punggung tangan Deri secara bergantian. "Hati-hati di jalan mas." ucap Nina mengikuti cara saat mengantar Ken barusan.


"Tumben biasanya langsung nyelonong masuk kalau udah saliman." 


Nina hanya bisa tertawa kecil sambil menoleh pada Aira yang masih berada di samping dirinya. "Ketularan Aira mas."


"Keterlaluan apa ma?" ucap Aira takut, perasaannya dia tidak sakit apa-apa, tapi kenapa mama nya bilang ketularan.


"Ketularan hal baik dari kamu Ai." 


Deri langsung angkat bicara saat melihat raut wajah menantunya itu berubah khawatir. 


"Alhamdulillah."


"Sudah papa berangkat takut telat."


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab Aira dan Nina dengan kompak. Ken juga sebelum pergi tadi sudah mengucapkan salam terlebih dahulu.


Setelah kepergian Deri, Nina langsung mengajak Aira masuk. "Ma nanti siang mas Ken minta diantarkan makanan, jadi apa boleh Aira pinjam motor yang ada di garasi Ma." 


"Kenapa harus bilang dulu Ai, kamu bebas langsung pake kok, toh itu punya suamimu, kuncinya juga sudah nyantol di motor." Nina tersenyum pada Aira.


"Satu lagi sim nya ada di laci kamar kalian, pasti tadi Ken menyuruhmu membawa sim."


"Iya ma."


Sementara itu Ken yang sedang dalam perjalanan menuju kantor masih kepikiran tentang pembahasaan istri dan orang tuanyanya yang terjadi di meja makan beberapa menit yang lalu, rasanya Ken tidak sabar untuk menunggu lusa.  Ada rahasia besar apa yang disembunyikan mama dan papanya pada dirinya ini, begitu kira-kira hal yang Ken pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2