
Bismillahirohmanirohim.
"Mas itu si Raya mau diapain sama Luki?"
Aira teringat akan Raya saat suaminya melepaskan ciuman dari kening Aira.
"Entahlah itu urusan Luki, bukan urusan mas."
"Mas jangan pecat Raya loh."
"Kenapa? bukankah dia sudah menyakiti hatimu Ai."
Aira tahu suaminya itu tidak ingin melihat dirinya dihina atau direndahkan oleh orang lain, tapi Aira yang sedari kecil hidup dilingkungan yang selalu bersikap baik terhadap orang yang tidak baik dengan dirinya, tentu saja sikap itu tertanam sampai sekarang dalam dirinya.
Kakek maupun abi dan papanya tak pernah mengajarkan Aira tentang kejahatan dibalas dengan kejahatan. Abi Misbah selalu menanamkan air tuba tidak harus dibalas air tuba, tapi air tubuh harus dibalas air susu.
Sampai saat ini semua kebaikan yang ditanamkan abi Misbah dan umi Rika pada anak mereka kini menurun pada ketiga cucu mereka.
Aira tersenyum pada suaminya. "Mas bukankah tidak semua kejahatan dibalas dengan kejahatan. Masalah hati Aira, Aira memang sakit atas perkataan Raya tadi, tapi biarlah Raya sadar akan perkataannya, kita tidak tahu hidayah akan datang pada siapa."
"Siapa tahu setelah Raya berkata seperti tadi dia bisa merenungi ucapanya, bukankah semua orang belajar dari kesalahan. Begitu juga dengan Raya siapa tahu setelah Raya sadar jika apa yang dia katakan untuk Aira tadi salah dia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
Sungguh Ken benar-benar tertegun atas penjelasan istrinya, tidak salah Ken jatuh cinta pada perempuan berumur 22 tahun ini, yang sekarang tengah tersenyum hangat padanya. Masih tidak bisa Ken bayangkan jika dia akan menikah dengan gadis pintar dan santun ini, bahkan perempuan di depannya saat ini adalah cinta pandangan pertamanya, perempuan yang mampu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Hati kamu sebenarnya terbuat dari apa Ai, bisa selembut ini dan sebaik ini."
__ADS_1
"Hati Aira sama hati mas Ken sama, sama-sama ciptaan Allah Azza Wa jall." Balas Aira tersenyum.
"Ayo kejar Raya sama Luki mas sebelum Luki menghukum Aira."
"Ayo."
Ken membawa Aira dimana Luki membawa Raya, dimana lagi kalau bukan ruang hrd. Ken tahu pasti Luki akan membawa Raya ke ruang Hrd.
"Pak Luki saya mohon jangan pecat saya." Pinta Raya dengan wajah memelas.
"Cih salah kamu sendiri kenapa berani menyuruh nona muda membuat kopi dan kamu juga merendahkannya di depan pak Ken suami nona Aira sendiri." Dengus Luki dengan tatapan yang sedati tak berubah pada Raya, tatapan tajam dan kesal.
"Saya tahu pak Luki saya salah, biar saya minta maaf pada ibu Aira saya mohon, saya janji tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi."
"Itu dulu pak waktu pak Ken belum menikah, tapi sekarang tidak lagi saya mengaku kalah istrinya saja ibu Aira yang baik hati, bahkan bisa meredakan emosi pak Ken." Papar Raya.
Memang sedari dulu Raya menyukai Ken, tapi usahanya untuk mendekati Ken selalu gagal karena Ken tak pernah sekalipun melihatnya. Raya dulu selalu bertingkah lenjeh untuk menggoda Ken, bukannya Ken merasa jatuh cinta pada Raya malah membuat Ken merasa jijik.
"Jadi saya mohon pak jangan pecat saya, izinkan saya meminta maaf dengan tulus pada ibu Aira." Bujuk Raya sekali lagi pada Luki
Tentu saja Luki tidak bisa langsung percaya dengan perempuan yang berdiri di sebelahnya ini, Luki tahu satu persatu sikap orang-orang di kantor Ken, termasuk Raya yang ruangan nya berada disebelah ruangan Luki.
"Alah paling juga cuman akalan-akalan kamu aja biar nggak saya bawa ke ruang hrd." Ucap Luki dengan nada yang sangat ketus.
Mendengar itu Raya mencibik kesal pada Luki, sambil terus mengumpat kasar Luki dalam hatinya. Keduanya kembali terlibat adu mulut, sampai kini mereka tidak sadar jika ruang hrd sudah terbuka memperlihatkan laki-laki paruh baya yang mengertikan keinginan saat melihat Raya dan Luki adu mulut tidak ada yang mau mengalah disitu juga sudah ada Ken dan Aira.
__ADS_1
"Ada apa ribut sekali?"
"Eh pak Luki dan ibu Raya ada keperluan apa di depan pintu hrd." Ucap seorang laki-laki paruh baya yang baru saja keluar dari ruang hrd.
"Diam!" ucap Luki dan Raya kompak.
Sedangkan bapak tadi hanya bisa menggaruk kepalanya. "Eh pak Ken selamat siang pak." sapa bapak tadi. Lalu dia juga menyapa Aira dengan cara menangguk dua kali, karena dia tidak tahu siapa gadis cantik yang ada di sebelah Ceo mereka ini.
"Sudah selesai berdebatnya?" tanya Ken pada kedua makhluk di depanya.
"Belum!" jawab mereka lagi dengan kompak, sepertinya mereka berdua belum sadar jika yang baru saja mereka bentak Ceo mereka sendiri.
"Hmmm, Luki! Raya! Sudah bosan kerja di Qatar group? jika sudah silahkan angkat kaki dari sini. Kebetulan kalian berdua juga sudah berada di ruang hrd." Suara tegas Ken membuat kedua orang itu langsung terdiam tanpa sepatah katapun.
"Luki kenapa malah berdebat dengan Raya?"
"Tidak bu Aira." Elak Luki dan Raya padahal mereka terlihat jelas sedang adu mulut di depan ruang hrd.
"Saya akan menghukum kalian berdua."
"Tidak bisa begitu dong pak ini semua gara-gara Raya." Tukas Luki dia tidak terima dirinya juga kena semprot.
"Lah kok gue." Sambung Raya tak terima.
"Sekali lagi kalian berdua bersuara aku akan memberikan hukuman yang lebih berat." Intonasi Ken kembali tegas sedangkan Aira hanya memperhatikan suaminya yang sedang memarahi bawahnya sendiri, karena perdebatan yang diciptakan oleh Luki dan Raya sendiri.
__ADS_1