Ketika Kita Berjodoh

Ketika Kita Berjodoh
French press


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Di ruang Ceo Aira benar-benar membantu Ken suaminya memeriksa beberapa dokumen yang sudah tersedia di meja Ken. 


Siapa lagi yang meletakan dokumen-dokumen itu di meja Ken kalau bukan Luki.


"Mas mau Aira buatkan minum?" tawar Aira pada suaminya.


Sedari tadi Aira walaupun terus membantu Ken tapi dia juga selalu mengawasi suaminya yang tak teralihkan fokusnya pada dokumen yang sedang Ken baca.


Ken menoleh pada istrinya lalu tersenyum, biasanya tidak ada yang memperhatikan dirinya, tapi sekarang ada Aira yang selalu ada untuknya. "Boleh Ai, tapi jangan pahit ya."


"Siap pak bos, tempatnya dimana?"


Aira harus bertanya sebelum pergi membuat kopi, Aira bukan lah perempuan ceroboh jadi dia akan selalu bertanya dimana tempat yang harus dia datangi.


"Dua ruangan dari ruangan mas Ai."


"Iya mas kalau gitu Aira buatin mas minum dulu."


"Jangan lama ya Ai."


"Iya mas Ken."


Aira keluar dari ruang Ken lalu menuju tempat yang Ken beritahu pada Aira tadi di french press. Sesampainya di french press Aira langsung membuatkan Ken kopi susu.


"Bismillahirohmanirohim." jadi Aira saat akan mulai membuat kopi untuk suaminya, tak lupa shalawat yang tak pernah lepas dari kedua bibir Aira.


Saat Aira tengah asik membuat kopi untuk Ken seorang masuk ke french press. "Hai mbak norak lagi buat kopi ya sekalian buatin saya ya." Ucap perempuan itu tanpa sopan santun.


"Iya mbak kopinya mau yang manis atau yang pahit?"


"Yang enak jangan pahit dan jangan terlalu manis, awas aja kalau nggak enek." Ancam perempuan itu pada Aira.


Perempuan itu melihat satu gelas kopi susu yang Aira buat untuk Ken tadi. "Itu kopi buat pak Ken kan?"


"Ehh, iya mbak." Sahut Aira canggung.


"Sini biar saya yang kasih ke ruangan pak Ken, saya ingatkan sama kamu ya jangan deket-deket sama pak Ken dia itu calon suami saya paham kamu." 

__ADS_1


Aira tak menjawab ucapan gadis di depannya ini, melainkan Aira terus beristighfar di dalam hatinya.    


"Satu lagi bawa kopi itu nanti ke ruangan saya di sebelah ruangan pak Luki." Ucap perempuan itu lagi sebelum pergi membawa kopi untuk Ken.


"Sabar Ai, jangan emosi dia berniat baik untuk membawakan kopi suamimu." Aira mengelus dadanya agar dia tidak meredam emosi kini mulutnya yang tadi terus bersholawat kini tergantikan dengan beristighfar karena Aira hampir marah tadi.


"Sudah jadi lebih baik aku membawa kopi ini di ruangan yang perempuan itu tadi katakan."


Aira meninggalkan french press menuju ruangan yang dimaksud perempuan tadi. "Loh mbak Aira kok ada disini?" saat Aira akan menuju ruangan perempuan itu kebetulan sekali Luki keluar dari ruangan nya hendak menuju ruang Ken.


"Mau narok kopi Luki."


"Kan ruangan Ken ada di depan." Ucap Luki bingung.


"Bukan buat mas Ken, tapi tadi ada yang minta buatin sama Aira, terus katanya ruangnya di dekat ruangan Luki." jelas Aira pada Luki.


"Perempuan satu itu ingin dipecat rupanya dia dari Qatar group, beraninya dia menyuruh istri Ceo." Batin Ken, bisa-bisanya ada orang yang berani menyuruh istri dari pemilik Qatar group.


"Mbak biar Luki yang taruk kopinya di sana, mbak Aira balik aja ke ruangan Ken takut dicariin."


"Makasih Luki." Aira memberikan gelas itu pada Luki.


"Anu, pak tadi perempuan yang membuatkan bapak kopi menyuruh saya." Ucap perempuan itu berbohong. 


"Lalu dimana dia sekarang?"


"Disini." suara Luki membuat Ken dan perempuan itu menoleh pada sumber suara.


"Ai kamu dari mana aja?" tanya Ken dengan lembut, kini tatapan tajamnya tadi sudah berganti dengan tatapan lembut pada Aira.


"Abis!" belum juga Aira selesai bicara perempuan tapi menyela ucapan Aira. 


"Abis godain pak Luki paliangan juga pak Ken, secara biasanya itu perempuan modelan gini biasanya cuman pakaianya doang alim, tapi aslinya suka deketin cowok buat modus."


Deg…


"Sabar Ai." Aira meremas kuta tanganya.


"Raya apa yang kamu katakan!" bentak Ken dan Luki secara bersama.  

__ADS_1


"Mas." Aira memegang tangan suaminya dia tidak ingin melihat Ken marah seperti ini.


"Mas minum dulu." Ucap Aira untuk membuat Ken sedikit tenang, sedangkan Luki masih menatap tajam Raya.


"Sepertinya kamu sudah bosan bekerja di Qatar group Raya." Luki menatap sinis Raya.


"Nggak mau Ai itu bukan buatan kamu." Tolak Ken mentah-mentah saat Aira menyuruh Ken minum kopi yang Raya bawa tadi.


"Mas ini Aira yang buat tapi yang bawa kesini Raya." jelas Aira.


"Tetep aja sayang." Ucap Ken manja.


"Oke kalau mas nggak mau minum, tapi abis ini minum ya." Sebuah ide muncul di kelapa Aira.


Aira minum kopi susu yang dia buat tadi dalam 3 teguk dengan mengucap bismillah, Aira minum dengan cara yang biasa dilakukannya.


"Sekarang minum ya mas." Pinta Aira sambil menyodorkan kopi susu itu pada Ken.


Tentu saja Ken tersenyum senang dia langsung menyambar kopi bekas Aira. "Manis Ai, bisa nggak kalau langsung." Ucap Ken ngelantur.


Apa yang Ken dan Aira lakukan tak luput dari pandangan Raya dan Luki. Raya menahan emosinya melihat hal itu sedangkan Luki mencibik kesal pada saudara angkatnya ini.


"Luki urus dia." Ucap Ken sepertinya dia kembali sadar jika di ruangnya saat ini bukan hanya dirinya dan Aira saja tapi masih ada Luki dan perempuan aneh satu ini, siapa lagi kalau bukan Raya.


"Baik pak Ken. Raya kamu ikut saya ke ruang hrd." Tegas Luki tanpa mau dibantah.


"Baik pak." ucap Raya takut.


"Saya ingatkan pada kamu Raya berpikirlah sebelum bertindak, jika tadi istri saya tidak mencegah saya untuk memaki kamu sudah dipastikan saya akan memarahimu." Ken menatap tajam Raya.


"What istri! mati gue." Batin Raya, dia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini.


"Mas." 


"Iya Ai maaf, mas nggak suka ada orang yang ngerendahin kamu."


"Makasih."


"Kamu istri mas Ai, jadi nggak boleh ada yang nyakitin kamu tugas mas haru selalu melindungi kamu." Ken mencium kening istrinya dengan sayang.

__ADS_1


__ADS_2