
Bismillahirohmanirohim.
Aira tengah menyiapkan sarapan bersama Nina. Aira merasa sangat bersyukur karena Nina mertuanya menerima dirinya dengan baik.
"Ma, mas Ken biasanya suka makan pake apa?" tanya Aira penasaran dia ingin memasak untuk suaminya.
"Ken biasanya suka udang sambal Ai."
"Udang sambal." Ucap Aira dengan lirih.
Aira tidak tahu kenapa saat Nina membahas tentang udang sambal dia teringat akan kedua orang tuanya, yang sama-sama menyukai udang sambal.
Tapi Aira juga merasa ini salah dirinya, karena bertanya tentang makanan kesukaan Ken. Aira juga tidak tahu kan kalau makanan kesukaan Ken dan orang tuanya sama.
Nadira dan Arka memang sangat suka udang sambal buatan umi Rika, bahkan Nadira sampai belajar dengan umi Rika cara memasak udang sambal yang enak.
"Ai kenapa?" Nina tidak tahu kalau kedua orang tua Aira juga menyukai makanan yang baru saja dia katakan.
"Ah, tidak papa ma. Aira cuman keinget mereka, maaf ya ma."
"Sudah Ai tidak papa, mama maklum." Nina tersenyum pada menantunya.
Nina tahu siapa 'mereka' yang dimaksud oleh Aira. "Bagaimana kalau jumat besok kita ziarah bareng-bareng kesana Ai."
Aira langsung menoleh pada Nina. "Mama tahu?" tanya Aira tak percaya.
Nina mengangguk sebenarnya jika dia mengingat kejadian beberapa tahun lalu ada rasa penyesalan yang Nina rasakan.
"Mama dan papa lah Ai yang meminta orang tuamu untuk menjodohkan putri mereka dengan putra kami, saat itu umur Ken sudah 20 tahun sedangkan kamu dan Afka masih 15 tahun."
"Maafkan mama Ai meminta kedua orang tuamu menjodohkan kamu dengan putra mama." Nina merasa bersalah pada Aira, sebenarnya tidak seharusnya mereka melakukan hal tersebut pada Aira.
__ADS_1
"Mama." Aira langsung memeluk Nina.
"Mama ini sudah takdir yang ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa jika Aira dan mas Ken berjodoh. Aira berterima kasih malah dengan mama dan papa. Karena lantaran mama dan papa Aira bertemu dengan mas Ken yang merupakan jodoh Aira lebih cepat."
"Ada atau tidak adanya perjodohan ini jika Aira memang sudah ditakdirkan menjadi jodoh mas Ken sejauh apapun kami terpisah, sejauh apapun kami pergi pasti akan bersatu kembali. Karena Aira jodoh mas Ken. Dan mas Ken jodoh Aira."
"Kamu memang perempuan yang hebat dan pintar Ai, tidak salah mama menjadikan kamu menantu." Bangga Nina.
Aira dan Nina yang larut dalam obrolan mereka sampai lupa jika mereka sedang menggoreng ikan. Jika tidak ada orang yang masuk ke dapur dan mengurus ikan goreng itu mungkin saja ikan itu sudah gosong dari tadi.
"Sudah ngobrolnya?"
"Mas kok ada disini." Aira mengerutkan dahinya kapan suaminya itu berada di dapur, perasaan Aira sedari tadi hanya ada dia dan mama mertuanya nya di dapur.
"Iya kalau mas nggak kesini hari ini kita bakalan makan lauk ikan gosong."
Ken menjawab pertanyaan Aira tapi tangannya tetap fokus mengangkat ikan goreng yang sudah matang.
"Ma lain kalian kalau mau ngobrol jangan sambil masak bahaya. Dan kamu Ai jangan mau diajak ngobrol sama mama kalau lagi masak bisa-bisa rumah ini kebakaran." Peringat Ken.
"Heheh, maaf Ken mama lupa."
"Ya mama emang gitu kalau udah ngobrol semuanya lupa. Mana teman ngobrolnya juga ikut lupa pula."
"Maaf mas." Ucap Aira tidak enak. Aira tahu Ken sedang menyendiri dirinya, Aira benar-benar merasa bersalah.
"Lah kok jadi gini." Batin Ken, dia langsung menatap istrinya lesu.
"Ai mas nggak marah sama kamu." Ucap Ken lembut. Nina yang melihat intrasaki anak dan menantunya tersenyum senang.
"Ai mama duluan ke meja makan nanti kalau ikan nya udah selesai bawa kesan ya." Nina tahu Ken dan Aira butuh waktu berdua, ya Nina adalah ibu mertua yang peka akan situasi.
__ADS_1
"Iya ma." Sahut Aira yang masih menunduk takut pada Ken.
Melihat mama nya sudah tidak berada di dapur lagi Ken langsung mengangkat dagu istrinya. "Ai, sayang." Ucap Ken lembut.
Bluss…
Wajah Aira memerah seketika kala Ken memanggil dirinya dengan kata 'sayang'
"Mas nggak marah sama kamu kok."
"Bener."
"Iya, tapi mas boleh minta buatin kopi susu." Aira mengangguk senang.
"Mas tunggu di ruang makan oke, biar mas yang bawa ikan gorengnya."
Cup
Sebelum Ken pergi dia mengecup kening Aira dengan mesra terlebih dahulu. "Mas malu kalau ada yang liat."
"Yaak! mata gue ternodai." baru saja Aira berkata malu jika ada yang melihat mereka berdua, suara Luki membuat mereka berdua saling padang satu sama lain setelah nya mereka berdua sadar keduanya tertawa bersama.
"Siapa suruh ke dapur." Kata Ken tanpa dosa.
"Jomblo sabar!" Luki mengelus dadanya sendiri, sedangkan Aira dan Ken sudah pergi dari hadapan Luki.
Untuk Luki.
Luki memang terkenal playboy, tapi playboy nya Luki tidak pernah memacari anak orang, dia hanya menggoda para ciwi-ciwi dengan gombalan maut nya, setiap perempuan yang menurut Luki cantik pasti akan dia gombalin, bukan anak kampus saja yang terkena serangan gombal Luki tapi juga karyawan Ken.
Raya termasuk salah satu mangsa Luki yang pernah mendapatkan gombalan maut Luki, tapi itu dulu saat Raya menjadi karyawan baru, setelah lama mungkin Luki bosan menggombali Raya. Dan Raya juga tak pernah peduli pada Luki bahkan keduanya jika di kantor lebih terkenal dengan sebutan Tom and Jerry sekarang ini.
__ADS_1
Kenapa Luki tidak berani pacaran, karena sudah peraturan yang dibuat oleh Deri jika anak-anak nya tidak ada yang boleh berpacaran. Jika benar-benar menyukai anak gadis orang maka tembung sama orang tuanya itu kata yang Deri tegaskan pada Luki dan Ken.