Ketika Kita Berjodoh

Ketika Kita Berjodoh
Kepulangan Ken.


__ADS_3

Bismilahirohmanirohim.


Hari ini akhirnya Ken sudah diperbolehkan untuk pulang, Ken sudah dinyatakan sembuh tota dari kritisnya.


Luki dan Deri yang menjemput Ken di rumah sakit, tadinya Aira ingin ikut untuk menjemput Ken, tapi tidak dizinkan oleh Nina, karena katanya Aira tidak banyak beristirahat selama Ken berada di rumah sakit. Maka dari itu Nina menyuruh mantunya itu untuk istirahat.


Tapi walaupun begitu tetap saja Aira membantu Nina di dapur yang sedang menyiapkan makan siang untuk mereka nanti.


"Ai istirahat saja biar mama yang kerjakan semua ini." Suruh Nina pada Aira.


Aira yang sedang membawa mangkung berisi sayur segar meletkan mangkung itu di atas meja, lalu Aira menoleh pada Nina. "Aira tidak papa ma, Aira masih bisa membantu mama, lagi pulakan Aira tidak sedang sakit." Aira tersenyum pada Nina. Lalu dia melanjutkan pekerjaannya yang baru saja tertunda.


Nina menatap Aira dengan senyum yang menghiasi wajahnya, semenatar itu Aira tidak sadar jika Nina sedang memperhatikannya.


"Kamu sangat beruntung Na, memiliki putri seperti Aira, dia gadis luar biasa. Maafkan aku dan suamiku, andai kejadian masa lalu tidak terjadi, pasti saat ini kamu dan Arka masih bisa melihat kedua anak kembar kalian yang sudah tumbuh dengan dewasa." Batin Nina.


Nina dan Deri mengenal keluarga Aira sejak beberapa tahun lalu, saat orang tua kandung Aira dan Afka masih ada.


Tapi kita tidak tahu kematian itu akan datang pada siapa, karena hanya Allah lah yang tahu kapan ajal kita akan datang.


Yang perlu kita lakukan itu terus memperbaiki kualitas diri agar kita bisa selamat dunia akhirat. Nabi Muhammad saja yang sudah dijamin syurga oleh Allah Azzar Wa Jalla masih terus memperbaiki kualitas diri, dan terus menjauhi larangan Allah.


Sementara itu kita siapa? Yang berani mengharpkan syurga Allah, sedangkan kita selalu berpersangka buruk pada sang Pencipta. Ditambah lagi setiap harinya kita melakukan dosa.


Semoga saja setiap kebaikan yang kita lakukan disengaja maupun itu tidak disengaja akan mengugurkan dosa kita perhahan-lahan.


"Ma kenapa bengong?" tanya Aira yang membuyarkan lamunan Nina.


"Tidak papa Ai, mama hanya ingat dengan janji mama pada Ken yang mengatkan jika akan membawanya berziarah ke makan Almarhum dan Almarhumah orang tua kamu. Belum sempat mama mengajak Ken dan kamu kesana Ken malah terkena musibah lebih dulu."


"Sudah tidak papa ma, setelah ini kita akan berziarah kemakan secara bersama, lagi pula Alhamdulillah mas Ken sudah sembuah. Aira juga punya janji pada mas Ken jika akan bercerita sesuatu padanya." Aira menggandeng tangan Nian untuk mengajak Nina duduk di kursi sambil kedunya terus mengobrol dengan akrab.


"Ya sudah kalau begitu, sepertinya sebenatar lagi mereka pulang."

__ADS_1


Di perjalanan pulang dari rumah sakit, Deri dan kedua putranya sedang berbincang-bincang.


"Selama ini Aira bagimana pa, saat Ken berada di rumah sakit?" tanya Ken dengan penasaran.


Luki yang saat ini menyetri mobil. Mobil melaju dengan sedikit pelan, seakan Luki memang ingin mereka mengobrol lebih lama. Deri duduk di sebelah Luki di samping kemudi sedagkan Ken duduk di kursi belakang.


"Dia tak pernah mengeluh Ken, selama ini dia selalu berdoa untuk kesembuhamu. Maafkan papa dan mama sudah menyuruh Aira menggantikan kamu di kantor." Jawab Deri merasa tidak enak pada anaknya itu.


"Seharusnya aku yang minta maaf sama Ken, karena tidak becus mengontrol anak cabang, sehingga membutuhkan mbak Aira untuk masuk ke dalam dunia kerja." Setelah berkata Luki menghentikan laju mobilnya, karenan memang lampu merah.


"Ada apa di anak cabang?" kaget Ken.


"Aku keceplosan pa, ini mulut benar tidak bisa dijaga." sesalnya.


"Kemarin sewaktu kamu masih keritis dianak cabang kabupaten Bandung ada yang berulah, tapi tenang saja Luki sudah mengrusnya." Jelas Deri.


Ken menghela nafas pela. "Syukurlah, sepertinya sejak aku di rumah sakit banyak kejadian yang tidak menyenangkan terjadi, maafkan aku sudah meninggalkan kewajibanku tanpa pamit." Ucap Ken dengan serius .


Luki menatap Ken dengan heran dari kaca yang ada di mobil. "Woi, lagi pula memangnya ada ya orang mau kecelakaan pamit dulu." Heran Luki.


"Terus yang lo maksud tadi apa?"


"Sudah janang ribut lagi, papa akan tidur sebentar papa sedikit lelah, kalau sudah sampai bangunkan papa, papa ingin memeluk mama kalian rasanya." Ucap Deri sambil memejamkan matanya.


"Aku juga rindu istriku, kenapa dia tidak ikut menjemputku." ucap Ken sambil menatap Luki dengan tatapan jenaka.


Luki hanya melihat Deri dan Ken sebentar lalu dia kembali fokus mengemudia. "Apakah kalian berdua tahu jika disini ada seorang jomblo." Ucap Luki tak terima.


"Makanya cari calon istri doang."


"Belum ketemu aja yang pas."


"Alah, paling juga semua cewek pada patah hati gara-gara gombalan lo, dan sekarang mereka tahu jika Luki itu hanya modus belaka."

__ADS_1


"Setelah nyaman si cewek langsung ditinggal, cari yang baru. Atau kalau tidak aku jodohkan saja kamu dengan Raya." Usul Ken. Dia seperti mendapatkan ide yang cemerlang.


"Raya, si gadis bar-bar itu, simpan saja impianmu. Aku tidak suka dengan gadis seperti itu."


"Kau yakin dengan ucapanmu, bukankah dulu saat Raya menjadi karyawan baru kau selalu mengombali Raya."


"Tapi kenapa sekarang kalian menjadi kucing dan tikus." Pikir Ken.


"Lupakan." dengus Luki yang merasa sebal.


"Jangan sampai kamu menelan ludah mu sendiri Luki."


Setelah itu Luki menghentikan mobilnya karena mereka sudah sampai dikediaman Deri.


Ken sudah membeli rumah untuk dirinya dan istrinya, tapi mungkin dia belum sepat mengajak Aira untuk pindah rumah.


Aira dan Nina yang mendegar ada sura mobil berhenti keduanya langsung keluar mereka tahu siapa yang datang, pasti orang yang sedari tadi mereka tunggu-tunggu.


"Assalamualaikum." Sapa ketiga laki-laki itu setelah turun dari mobil.


"Wa'alaikumsalam." jawab Aira dan Nina dengan kompak, keduanya menyambut suami mereka masing-masing sambil, mencium punggun tangan sumai mereka.


Luki hanya bisa menatap keempat orang itu dengan tatapan tak percayanya. "Kenapa kalian tega." Protsenya yang masih menatap mereka dengan tatapan tak percaya.


"Kenapa memang?"


Luki mendengus sebal atas pertanyaan Ken. "Sepertinya anak mama satu ini ingin disambut seperti ini juga, sini biar sama mama." Nina langsung memeluk Luki.


"Weeek." Luki menjulurkan lidahnya pada Ken.


"Aku tidak peduli sudah ada Aira yang akan memerhatikan aku, sedangkan mama dia akan lebih fokus pada papa." Ucap Ken tak mau kalah.


Aira hanya tersenyum melihat suaminya dan Luki bertengkar kecil, menurut Aira hal seperti ini sudah biasa, apa lagi dia juga merasa dirinya dan Afka lebih sering bertengkar dari pada Luki dan Ken.

__ADS_1


"Lebih baik kita makan siang dulu, keburu dingin lagi makanannya." Ajak Aira pada semuanya.


__ADS_2