Ketika Kita Berjodoh

Ketika Kita Berjodoh
Dokter Raja


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Mas, tadi mas bilang Aira buat kejutan untuk mas, kejutan apa?" tanya Aira yang teringat akan ucapan Ken tadi sebelum Afka dan Azzar keluar dari kamar rawatnya.


Ken mengelus pucuk kepala Aira yang tertutup hijab dengan lembut. "Yang mana?"


"Mas jangan pura-pura lupa deh, tadi waktu masih ada Afka sama Azzar." Terang Aira.


Ken yang ingat tersenyum menatap Aira dengan mesra. "Kan kamu yang buat kejutan kok tanya sama mas." Tunjuk Ken pada diri sendiri.


"Hah." Aira menghela nafas pasrah, apa setelah bangun dari keritis suaminya ini mau mengajaknyaa main tebak-tebakan.


"Sudahlah lupakan." Ucap Aira dengan wajah cemberut.


Ken kembali menarik Aira dalam pelukannya. "Sudah jangan ngambek nanti tambah tembem pipinya." Goda Ken.


Aira masih tidak menghiraukan Ken. "Ai, mas mau ngucapin banyak terima kasih sama kamu, ternyata istri mas ini lebih pintar daripada mas." Ken berkata dengan lembut tepat di telinga Aira.


Lalu Ken menangkup pipi istrinya dengan kedua tanganya. Keduanya tersenyum dengan saling menatap satu sama lain saat ini


"Maksudnya?" tanya Aira yang belum paham Ken sedang membahas apa.


"Tapi sayang tidak peka." lanjut Ken yang tidak menjawab perkataan Aira.


"Sayang kamu hebat bisa menaikan posisi perusahaan mas jadi di nomor dua, selama ini mas tidak bisa mengungguli perusahaan lain." 


Aira mulai mengerti suaminya ini sedang membahas apa sedari tadi dia tidak peka sama sekali jika suaminya membahas masalah perusahaan.  


"Pake strategi apa hmm? Kok bisa sehebat itu?" tanya Ken penasaran.


"Suami Aira Nazwa Anggrania. Istrimu ini tidak melakukan apa-apa Aira hanya berusaha dan berdoa yang terbaik untuk perusahaan mas itu saja kok tidak lebih."


"Dan Alhamdulillah Allah mengijabah doa Aira. Yang satu lagi Aira berdoa agar  mas Ken segera sembuh, Alhamdulillah nya Allah mengijabah doa Aira, bahkan bukan hanya Aira semua orang rumah mendoakan untuk kesembuhan mas Ken." Ucapnya sambil tersenyum pada suaminya itu.


"Terika masih banyak sayang." Ken kembali memeluk Aira berulang kali. 

__ADS_1


Tanpa keduanya sadari sedari tadi ada seseorang di luar sana yang memperhatikan Aira dan Ken.


"Sepertinya kamu sangat bahagia Aira, tapi tidakkah kamu mengingatku sedikit saja." Ucap orang itu di hatinya ada rasa sedih yang dia rasakan tapi apa sebabnya?


Seorang suster menghampiri orang yang berada di depan kamar rawat Ken. "Doktor Raja tidak jadi masuk?" tanya suster yang mendekat ke arah Raja dengan bingung.


"Aah, iya sus saya akan masuk." Raja dan suster tadi masuk secara bersama ke dalam kamar rawat Ken. Aira yang menyadari jika ada orang masuk segera melepas pelukan nya dari Ken begitu juga dengan Ken.


"Kapan sadarnya kenapa tidak memanggil dokter atau suster?" tegur Raja.


"Maaf dok saya kira kakak dan adik saya tadi sudah mengabari dokter dan suami saya tidak bicara apa-apa kalau belum diperiksa oleh dokter." Jelas Aira yang merasa tidak enak dengan dokter tersebut.


Sementara itu entah kenapa Ken tidak suka dengan dokter yang sedang memeriksanya itu.


"Saya sudah baik-baik saja dok, terima kasih banyak sudah mengurus sayam." Ucap Ken dengan cuek. Ken yakin dokter di depannya ini yang selama ini telah merawat dirinya.


Walaupun Ken tidak suka dengan Raja tapi Ken harus tetap menghargai dokter muda itu.


"Keadaanya sudah sangat membaik dok." ucap suster itu yang sudah memeriksa suhu badan Ken.


"Kapan kira-kira saya bisa pulang?" tanya Ken tak sabar.


"Baiklah."


"Kalau begitu kami permisi mari." Ucap dokter Raja ramah, dia tahu sepertinya jika Ken tidak nyaman dengan keberadaanya.


"Ai sini." Ken menyuruh Aira agar mendekatinya kembali.


"Kenapa mas kok mukanya ditekuk gitu?"


"Mas mau tanya setiap dokter itu periksa mas kamu ada disini?" Ken menatap tajam Aira, sedangkan Aira bingung sendiri dengan pertanyaan suaminya itu.


"Iya mas, kan Aira selalu jagain mas Ken, memangnya kenapa?"


"Mas sama dokter tadi ganteng siapa?" pertanyaan yang Ken lontarkan  kembali membuat Aira bingung.

__ADS_1


"Selama ini Aira tidak pernah berani menatap seseorang yang bukan mahram Aira mas, jadi jelas dong dengan pertanyan mas barusan siapa yang paling ganteng."


"Tentu saja suami Aira, karena Aira hanya berani menatap wajah mahram Aira. Dulu sewaktu kita belum menikah apakah Aira pernah melirik atau menatap mas Ken?" kini Aira yang baik bertanya. Kini Aira menangkup pipi Ken dengan kedua tanganya dia melakukan apa yang tadi suaminya lakukan pada dirinya.


Ken menggeleng cepat atas pertanyaan yang istrinya berikan pada dirinya. "Bahkan mas dulu sampai bingung ada apa di bawah seakan tidak ada yang menarik selai di bawah, karena kamu selalu menunduk."


"Bahkan mas masih ingat saat kita sudah sah menjadi suami istri saja, saat kamu menghampiri mas dan sampai duduk disamping mas kamu tidak berani menatap mas sama sekali."


Ken sangat mengingat betul bagaimana Aira dulu dari saat pertama kali dia bertemu dengan Aira, sampai keduanya dipersatukan dengan ikatan pernikahan Aira masih saja menundukan wajahnya.


Mungkin rasa malunya yang amat tinggi, sungguh wanita yang punya rasa malu itu adalah wanita yang baik, karena malu merupakan sebagian dari iman. 


Aira dan Ken terus ngobrol sambil bercanda, sesekali pula Ken menjahili istrinya, sampai tak lama kemudian suara salam dari kamar rawat Ken menghentikan tawa kedua orang yang sama-sama menahan rasa rindu mereka dengan waktu yang cukup lama.


"Assalamualaikum." Sapa mereka semua yang sudah masuk ke dalam kamar rawat Ken.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ken dan Aira dengan kompak, keduanya tersenyum pada mereka semua.


"Alhamdulillah kamu sudah siuman nak." Nina segera mendekat pada putranya itu.


Luki yang tadi sedang berada dikantor mendapatkan kabar jika Ken sudah siuman dengan segera menyelesaikan pekerjaannya. Dan sekarang dia ikut menemui Ken, sementara itu Afka dan Azzar sudah pulang ke rumah abi mereka.


"Alhamdulillah ma." 


"Jadi kapan sadarnya?" tanya Luki dengan wajah tengilnya.


Luki yang tidak mendapatkan jawaban dari Ken kembali bicara. "Sudah sadar kok nggak langsung kasih tau orang rumah, sok jago sih atau biar nggak ada yang kesini."


"Agar tidak ada yang mengganggu kemesraan dengan istri yang baru dinikahi dua minggu langsung di tinggal, tadinya sih mbak Aira mau gue gebet juga." Canda Luki.


"Berani lo incer istri gue jangan harap bisa bebas dari gue!" ancam Ken.


"Dan satu lagi kalau iri makanya cari istri dong, jangan bisanya gombalin cewek aja. masa waktu itu juga umi Aqila ikut digombalin." 


Mereka semua yang mendengar perkataan Ken terkekeh, tadinya sih Luki niat ingin membuat Ken malu tapi dia kena sendiri sih.

__ADS_1


Ini yang dinamakan senjata makan tuan, niat hati ingin membuat Ken malu malah dia kena batunya.


 


__ADS_2