Ketika Kita Berjodoh

Ketika Kita Berjodoh
Meminta maaf


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Ken tidak main-main dengan ucapanya yang akan menghukum Raya dan Luki. Raya bersyukur karena dirinya tidak jadi di pecat dari Qatar group. Raya tidak papa jika harus dihukum memang kesalahanya sendiri, tapi jika keluar dari Qatar group Raya tidak sanggup, karena gaji di Qatar group tidak main-main dan juga Ceo mereka berlaku adil pada semua karyawan.  


"Ibu Aira yang tadi saya minta maaf ya bu dari lubuk hati saya yang paling dalam." Ucap Raya tulus dia benar-benar menyesal atas perbuatannya dan perkataan nya pada Aira tadi.


"Tidak papa Ra, tapi jangan diulangi lagi walaupun bukan dengan saya, sama siapa aja tidak boleh ya Ra." 


"Iya bu makasih banyak udah mau maafin saya." Raya senang sekali karena Aira peremupan yang baik hati ternyata selain itu juga Aira perempuan yang pemaaf dan berhati lembut pantas saja pak Ken bisa jatuh cinta pada Aira pikir Raya.


"Sama-sama Ra, panggil saya Aira aja Ra." Suruh Aira pada Raya, dia tidak enak jika harus dipanggil ibu oleh Raya. Aira yakin dia dan Raya masih seumuran.


"Tapi-" ucap Raya ragu sambil melirik dua laki-laki yang masih setia berdiri diantara Aira dan juga dirinya.


"Ikuti saja apa mau istri saya." 


"Benar pak!" Sahut Raya yang tidak menyangka jika dirinya diperbolehkan memanggil Aira dengan nama saja.


"Hmmm." Jawab Ken dingin.


"Kalau sudah selesai kalian berdua ikut saya." Tunjuk Ken pada Luki juga Raya.


"Entah hukuman apa yang akan diberikan pak Ken." Batin Raya menjerit dalam hati.


"Ini semua gara-gara sekretaris play boy satu ini. Tapi salah gue juga sih." Raya mengingat kembali kebodohnya yang terjadi beberapa jam lalu. Yang sudah berani menyuruh dan merendahkan istri Ceo nya sendiri. Dia juga teringat perdebatan dengan Luki di depan ruang hrd.


Luki dan Raya ikut berhenti kala Ken dan Aira memberhentikan langkah mereka di gudang milik Qatar group.

__ADS_1


"Saya mau kalian berdua membersihkan gudang ini sampai bersih paham!"


"Ta-"


"Tidak ada bantahan kalau kalian tidak ingin hukumannya lebih dari ini." Cegah Ken sebelum Luki angkat bicara. "Jadi tunggu apa lagi silahkan lakukan tugas kalian."


Aira hanya bisa menatap suaminya tak percaya bisa-bisanya Ken menyuruh Raya dan Luki membersihkan gudang sebesar ini ditambah lagi hanya mereka berdua. Salah satu yang Aira takutkan adalah jika Raya dan Luki hanya berdua di gudang ini  Aira takut timbul fitnah diantara keduanya.


"Mas bener nyuruh Luki sama Raya beresin gudang ini berdua aja." Ucap Aira ragu.


"Iya biar mereka berdua tahu rasa, kenapa kamu khawatir sama Luki atau sama Raya?" Ken mencibik kesal pada istrinya bisa-bisanya Aira mengkhawatirkan laki-laki lain, padahal Ken saja yang selalu berpikiran negatif.


"Dua-duanya mas, mas bisa tambah satu orang lain biar Luki sama Raya nggak cuman berdua digundang ini, kalau cuman ada mereka beruda takut timbul fitnah mas." jelas Aira sebelum suaminya itu salah sangka semakin terus menerus.


"Baik Ai, mas akan panggil salah satu ob disini. Dan buat kalian berdua jangan ditutup pintunya tetap terbuka." Pesan Ken pada Raya juga Luki, setelah itu Ken dan Aira meninggalkan gudang.


"Ibu pak Ken yang nyuruh kesini?" tanya Luki sopan.


"Benar pak Luki."


"Kalau gitu ayo mulai kerja." Ajak Raya pada Luki.


Sebelumnya Ken sudah berpesan pada ob tadi hanya untuk mengawasi Raya dan Luki saja dia tidak boleh membantu, boleh membantu jika Raya atau Luki kesusahan mengambil atau meletakkan sesuatu. 


"Ini semua gara-gara lo tau nggak, gue jadi disuruh bersihin gudang sama Ken."  


"Salah bapak sendiri." Sahut Raya sewot dia tidak mau kalah dengan Luki.

__ADS_1


"Lo! Dasar perempuan aneh nggak je."


"Apa! biris tau nggak." Ketus Raya.


Luki menatap Raya tak percaya berani membentaknya. "Raya kamu berani bentak saya, saya ini masih atasaan kamu." Tukas Luki.


"Heheh, maaf pak abisnya pak Luki itu berisik banget + cerewet banget nggak kayak tokoh di dalam cerita yang saya baca. Biasanya tangan kanan Ceo itu kalem, dingin, perfect deh pokoknya hampir sebelas dua belas sama Ceonya, lah tapi kalau bapak kagak playboy malah." Cicit Raya lagi.


"Ups gue salah ngomong." Raya membekap mulutnya sendiri.


Sumpah apapun sebenarnya Raya tidak ingin bicara seperti barusan, tapi sayangnya tidak tahu kenapa mulutnya kebablasaan saat mengatai Luki.


"Maaf pak Luki bu Raya bisa dilanjut kerjanya pak Ken sedari tadi mantau kalian lewat cctv." Tunjuk  ibu-ibu tadi tepat dimana cctv diletakkan di gudang tersebut.


Ken memberitahu ibu itu lewat telepon kantor menuju gudang, yang memiliki fitur wa memang itu telepon dibuat khusus kantor. 


Di ruangan Ken. Aira dan Ken hanya melihat Luki dan Raya yang terus berdebat tanpa ada yang mengalah. 


"Udah kayak gitu taunya nanti jodoh." Celetuk Aira begitu saja.


"Nggak papa Ai, biar si Luki kagak jadi playboy lagi, masa waktu acara wisuda kamu itu umi juga mau diembat sama dia, mana muka abi kelihatan marah lagi." Aira hanya terkekeh mendengar cerita suaminya.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar."


"Mas disini ada mushola nggak?" tanya Aira saat mendengar adzan.


"Ada Ai di lantai bawah tapi mas biasanya kalau sholat di sini sama Luki." Aira mengangguk mengerti.

__ADS_1


__ADS_2