
Mereka tidak sadar jika Ken melihat Arka dan Nadira menolong kedua orang tuanya saat itu. Ken yang merasa khawatir pada mama dan papa nya segera mencari keberadaan mereka.
Betapa kagetnya Ken saat ikut terjebak macet, ternyata macet terjadi karena adanya kecelakaan. Yang tidak Ken percaya kedua orang tuanyalah yang mengamai kecelakaan yang terjadi itu.
Ken melihat kedua orang taunya sudah masuk ke dalam ambulan, segera mengikuti ambulan itu akan pergi ke rumah sakit mana. Sebenarnya Ken ingin mengucapkan terima kasih pada Nadira dan Arka. Tapi dia tidak sempat, Ken berpikir nanti saja.
Ken memang sempat melihat wajah dua orang yang sudah menolong papa dan mama nya walaupun hanya sekilas.
"Ya Allah selamatkanlah mama dan papa. Aku sangat berterima kasih pada mereka yang telah menolong mama dan papa."
"Aku akan menemui mereka nanti dan mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya." Ucap Ken yang masih merasa khwatri dengan keadaan orang tuanya.
Sampai di rumah sakit Ken segera mengikuti mama dan papanya dibawa oleh dokter mereka harus diperiksa terlebih dahulu, tak lupa Ken menghubungi Luki, karena sudah waktu pulang sekolah.
Luki yang mendapat kabar dari Ken segera menuju rumah sakit diantar oleh supir. "Ken bagimana keadaan mama dan papa?" tanya Luki dengan kahwatri.
"Entahlah dokter masih memeriksanya." Jawab Ken lesu.
"Bagimana bisa terjadi?" tanya Luki lagi.
"Aku tidak tahu pasti, tapi yang gue lihat ada sepasang suami istri yang menolong mama dan papa, gue juga tidak melihat wajah mereka dengan jelas. gue hanya melihat sekilas saja wajah mereka." Jelas Ken.
Luki yang sudah paham tidak lagi bertanya pada Ken. "Semoga tidak terjadi apa-apa pada mama dan papa." Doa Luki.
"Aminn." Sahut Ken.
Keduanya menunggu dokter keluar dengan perasaan tak menenut, mereka berdua terus berdoa dalam hati masing-masing untuk meminta keselamatan mama dan papa mereka.
***
Sementara itu dirumah sakit yang sama.
Afka dan Aira masih menunggu hasil mama mereka. Sedangkan sang papa sudah benar-benar dinyatkan tiada. Keluarga dari Nadira maupun Arka sudah sampai.
__ADS_1
Semua langsung mengucapkan kata 'inalilahiwainalilahirojiu'n.' saat mendegar kabar telah tiadanya Arka. Ayah dari dua orang anak itu.
Abi Misbah dan pak Jaya sedang mengurus jenazah Arka, agar bisa dibawa pulang dan dikuburkan secara layak di makam umum yang ada didekat rumah abi Misbah.
Dokter keluar dari ruang Nadira. "Dok bagimana keadaan mama saya?" Aira yang melihat dokter sudah keluar dari ruang periksa pasenin segera bertanya.
"Maaf, pasien ini bertemu dengan keluarganya." Hanya kata itu yang keluar dari mulut dokter wanita paruh baya tersebut.
"Apa yang terjadi dok?" tanya Afka penasaran. Karena dokter tak memberikan jawaban apa-apa pada Aira.
Umi Rika yang paham akan semua ini menyuruh Afka dan Aira untuk menemui mama mereka. "Biar kita lihat dudu keadaan mama, Ai, Af." Ujar umi Rika lembut pada kedua cucunya.
"Iya nek." mereka semua masuk untuk menemui Nadira.
"Mama." Aira segera mendekat pada sang mama.
"Sini sayang." Suruh Nadira dengan suara yang dipaksakan.
"Mama, mama harus sembuh oke."
"Allah lebih saya papa ma, Allah rindu papa." Ucap Afka dengan lirih.
Nadira tersenyum. "Mama juga rindu Allah Af, maaf setelah ini umi harus pergi, tolong jaga kembaran sekaligus adik kamu ini ya Af. ada yang harus umi bicarakan pada oma dan nenek kalian." Ucap Nadira dengan susah payah.
Afka dan Aira yang paham memebeikan ruang untuk oma dan nenek mereka. "Umi, mama, Nadira cuman mau menyampaikan sebuah amahan saja sebelum Nadira pergi." Ibu dua anak itu masih bisa tersenyum pada kedua mamanya yang sangat berarti dalam hidupnya.
Nadira memberikan kartu nama milik Nina orang yang telah dia bantu tadi dan suaminya. Kartu nama itu yang merupakan kartu nama Ken dan Deri anak dan suami Nina.
"Apa ini Dir?" tanya umi Rika bingung.
Nadira mengengam erat tangan mama dan mama mertuanya. "Umi, mama, Nadira dan mas Arka sudah berjanji akan menjodohkan Aira dengan anak sahabat aku."
"Mas Arka juga sudah menyetujuinya, Nadira mohon setelah Aira beranjak dewasa nikahkan dia dengan laki-laki itu. Kartu nama orang tuanya yang umi pegang." Pinta Nadira dengan tatapan memohonnya.
__ADS_1
Janji adalah sebuah janji yang harus ditempati, itulah pesan yang selalu abi Misbah ucapkan pada anak dan menantunya. Janji merupakan utang dan utang harus dibayar. Maka Nadira menepati janjinya. Menurutnya itu juga sebuah amanah yang harus Nadira lakukan.
"Tolong ceritkan hal ini pada Abi dan papa juga, maaf Nadira harus pergi." Ucapnya dengan suara yang sangat susah.
Afka dan Aira yang masih bisa mendegar percakapan mama mereka dengan oma dan nenek mereka hanya bisa diam menyimak, keduanya belum terlalu paham dengan maksud Nadira.
Cekel!
Nadira tersyum melihat siapa yang baru saja masuk. Aqila cepat menghampiri Nadira. "Nad kamu nggak papa kan?" tanya Aqila dengan nada khawatir.
Nadira mengangguk lemah bermaksud memberi tahu Aqila jika dirinya baik-baik saja. "Aku titip Afka dan Aira pada kamu ya mbak."
"Kamu ngomong apa sih Nad, Afka sama Aira itu sudah kayak anakku sendiri, sudah jangan bilang yang aneh-aneh." Peringat Aqila.
Nadira menggeleng lemah. "Maaf mbak tapi aku sudah tidak tahan lagi, Afka, Aira sini sayang." Afka dan Aira menghampiri mama mereka yang terbaring lemah dibrankar rumah sakit.
"Baik-baik sama umi Qila ya sanyang. Jangan membantah sama beliau, beliau sekarang yang akan menjaga kalian."
"Iya kan mbak?" Aqila mengangguk dengan cepat.
"Terima kasih banyak semuanya. Lailahillallah." Nadira benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya.
"Inalilahiwainalilahiroji'un." Ucap umi Rika dan Aqila bersama.
"Mama." suara Aira dan Afka sama sama terhatan.
"Nadira!" Lina yang melihat itu sedikit histeris, bagimana dia sanggup ditinggal oleh anak satu-satunya dengan waktu selama-lamanya.
"Mama sadar, kita doakan agar Nadira mendapatkan posisi terbaik dari sang Robb. Kita juga berdoa semoga kita bisa berkumpul lagi dengan Nadira disyurganya Allah." Hibur Aqila.
Lina langsung memeluk erat Aqila yang ada dihadapannya. Afka dan Aira juga saling berpelukan menguatkan satu sam lain. Dalam sehari mereka kehilangan kedua orang tua mereka untuk selama-lamanya.
"Kamu telah menyelesikan rukun islam yang terakhir Nadira, anak umi. Umi yakin kamu tiada dengan keadaan husnul khotimah."
__ADS_1
"Aaminn."