
Bismilahirrohmanirrohim.
Deri dan sekeluarga memutuskan untuk berziarah ke makam kedua orang tua kandung Aira dan Afka. Setelah dua hari ke pulangan Ken dari rumah sakit.
Mereka pergi saat hari masih pagi, sekita jam 8 mereka semua sudah mulai berangkat menuju makam kedua orang tua Aira. Hanya menggunkan satu mobil, karena Luki tidak ikut bersama mereka.
Luki harus menguru perusahaan Ken untuk hari ini, karena Ken belum masuk kerja setelah pulang dari rumah sakit, sementara itu tugas Aira sebagai pengganti Ceo di perusahaan Qatar group sudah selesai. Aira memutuskan untuk tidak menjadi Ceo pengganti lagi di Qatar group, karena suaminya itu sudah sembuh. Dan Ken dapat kembali memjadi Ceo di Qatar group.
Suasana pagi di kota Bandung menuju jalan ke rumah abi Misbah. Masih terkesan asri, jadi mereka masih bisa menghirup suasana pagi yang menyegarkan.
Di dekat pesantren yang dipimpin oleh abi Misbah memang ada tempat pemakaman umum, dan disitu kedua orang tua Aira dimakamkan.
"Kita sebenarnya mau berkunjung ke makam siapa?" Ken sudah penasaran.
Dia memang pernah berziarah ke makam Nadira dan Arka, yang merupkan orang tua kandung Aira, tapi Ken belum tahu siapa sebenarnya mereka itu. Apakah mereka adalah orang penting di hidup keluarga Ken atau keluarga Aira?.
"Kita mau ke makam yang waktu itu Ken. Makam yang kita ziarah sebelum kamu menikah dengan Aira." Nina yang duduk di depan menoleh pada kursi belakang dimana, Aira dan Ken duduk disana.
"Makam yang waktu itu." Ulang Ken, seperti dia mengingat sesuatu.
"Bukankah kamu juga pernah kesana Ai?"
Aira yang sedari tadi diam langsung menatap suaminya, saat mendegar namanya disebut.
"Aira memang sering kesana mas." Ken dapat melihat wajah sedih Aira.
"Kenapa sedih? Dan memangnya mereka siapa kamu Ai?"
Aira tidak menjawab pertanyaan Ken sama sekali, mungkin saat ini Aira sedang merasa sedih, karena rindu akan orang tuanya.
__ADS_1
"Nanti kamu akan tahu Ken, sudah biarkan saja Aira dulu kasihan dia." Ucap Nina yang mewakili Aira. Deri sedari tadi hanya mendengarkan ketiga orang itu berbicara.
Ken yang mengerti maksud Nina lansung menagguk patah. Ken memawab Aira ke dalam peluaknya. "Kamu ingin menangis Ai? Menangislah." Suruh Ken pada Aira.
Ken membenamkan muka istrinya itu didadanya yang tertutup baju, Aira selalu nyaman diposisi seperti itu. Mungkin saat ini Aira lupa, Kerena rasa sedihnya yang menghampiri dirinya. Aira jadi lupa jika diantara dirinya dan Ken ada mertunya.
"Apakah mereka kedua orang tua Aira?" tebak Ken dalam batinnya.
Ken masih mengingat saat dirinya mengucapkan ijab qabul untuk Aira. Dia bukan menyebutkan nama Arga untuk binti dari Aira. Melainkan nama Arka yang disebut. Dan nama orang itu juga memakai almarhum, yang tandanya orang tersebut sudah tiada.
"Sebenarnya ada apa dengan semua ini." Batin Ken lagi, dia terus mengusap-usap kepala Aira yang tertutup hijab, sampai-sampai Ken tidak sadar jika Aira sudah tidur dengan nyenyak di dalam pelukanya.
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Deri, memasuki kawasan banyak pohonya. Mungkin tempat itu masih bisa disebut hutan.
Yang membuat tempat tersebut terkesan alami, karena pepohonananya yang tumbuh dengan baik, angin sepoi-sepoi yang diantarkan oleh pohon-pohon itu mampu menyegarkan diri mereka yang melawati tempat tersebut.
Aira saja tidak terbangun dari tidurnya kala angin itu terus menerpa dirinya. Ken memamang membuka sedikit kaca jendela mobilnya agara dapat merasakan suasana sejuk. Aira bahkan lebih mengeratkan pelukannya pada sang suami.
"Iya ma, kayaknya dia kecapean deh." Ken menatap Aira dengan nanar.
"Sudah lama tidurnya?" timpal Deri yang mulai bersuara.
"Belum pa, baru berapa menit."
"Ya sudah biarkan dia tidur dengan nyenyak, selama ini Aira sepertinya kurang tidur, saat kamu masih berada di rumah sakit."
Tak lama kemudian Deri memberhentikan mobilnya, karena memang mereka sudah sampai di tempat yang akan mereka tuju.
Aira yang merasa mobil sudah tidak bergerak lagi segera bangung. "Maaf aku ketiduran." Ucap Aira tidak enak sekaligus malu karena tidur di dada suaminya.
__ADS_1
Ken terseyum pada Aira. "Masih ngantuk?" Aira menggeleng untuk menjawab pertanyaan Ken, dia memang sudah tidak mengantuk lagi.
"Ayo kita turun." Ajak Deri dan Nina.
"Iya ma." Jawab kedua orang itu kompak.
"Mas Aira lama ya tidurnya? Pasti dada mas Ken sakit." Cicitnya merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, kamu mau tidur sampai besok di dada mas juga tidak apa-apa." Gombal Ken pada Aira.
"Aiss, mas Ken. Aira malu tau." Kesalnya.
"Sudah ayo turun."
Mereka bertempat segera menuju makam kedua orang tua Aira. "Assalamualaikum ma, pa. Maaf Aira baru sempat datang lagi ke makam kalian."
"Lihat Aira bawa siapa kesini, sebulan lalu Aira kesini sama Afka dan umi Qila. Tapi hari ini Aira tidak datang bersama mereka."
"Aira kesini sama suami Aira ma, pa. Terima kasih sudah menjodohkan Aira dengan mas Ken, Aira sangat bahagia ma, pa. Semoga kalian juga selalu bahagia di alam sana. Aira selalu mendoakan kalian."
Tak terasa buliran bening sudah membasahi pipi Aira. Begitu juga dengan Nina yang tak kausa menahan tangisnya saat mendegar kata-kata yang terlontar dari mulut Aira. Rasa campur aduk yang saat ini Nina rasakan saat melihat manutnya yang selama ini selalu terlihat kuat. Tapi apa saat ini seakan Aira yang tetap kuat dalam setiap keadaan kini menjadi rapuh.
"Assalamualaikum ma, pa. Aku Ken suami Aira. Maaf belum mengenal kalian sebelumnya. Terima kasih sudah memberikan putri soleha, pintar dan cantik kalian pada aku, laki-laki yang masih banyak kekurangan ini." Tidak tahu kenapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Ken.
Deri dan Nina saling tatap satu sama lain, setelahnya mereka beruda juga mengucapkan sama pada ahli kubur.
Seperti biasa ketika kekuarga Aira berziarah ke makam kedua orang tuanya pasti mengirim yasin, dan mendoakan orang yang sudah tiada, agar mendapat tempat terbaik disisi sang penciptanya. Yaitu Allah SWT.
Begitu juga yang dilakukan Aira dan keluarga suaminya. Setelah selesai semuanya mereka menaburkan bunga diatas kuburan mama dan papa Aira.
__ADS_1
Tidak lupa Aira selalu menungkan wangi-wangian dikuburan kedua orang tuanya. Agar tempat mereka selalu berbau harum.
Terbukti saat Aira dan yang lainnya tadi masuk ke sana, wangi harum langsung memasuki indera pencium mereka. Bau harum yang sangat menyegarkan. Setiap keluarga mereka yang berziarah kesana tak pernah lupa untuk membawa wewangian.