
Afka dan Deri dengan cepat membantu Ken masuk ke dalam kamar Aira. Terlihat jelas sekali khawatiran Aira akan suaminya. Yang sudah kedua kali ini mengalami sakit kepala dengan tiba-tiba.
"Kenapa dia bisa kambuh lagi sakit kepalanya." Gumun Nina menatap sendu sang putra.
Dia tidak tahu jika sudah kali keduanya Ken kembali merasaka sakit kepala yang sangat amat hebat itu. Hal itu hanya Aira yang tahu karena keduanya tak pernah bercerita pada siapa-siapa toh itu hanya masalah kecil saja.
"Ada apa sebenarnya ma, dengan keadaan mas Ken?" tanya Aira memastikan. Aira tak sambil begong dia cepat meminjat pela kepala Ken, agar rasa sakit di kepala suaminya itu berkurang.
Aira melakukan hal yang sama pada Ken, sama seperti pertama kalinya mereka berdua, untuk pertama kalianya hidup disatu kamar yang sama tanpa ada penghalang atau pun pemisah.
Apa yang dilakukan Aira tak luput dari mereka semua yang masih berada di kamar Aira dan Ken. Begitu juga dengan umi Rika dan Abi Misbah keduanya masih berada di kamar tersebut, saat Aira tengah memijit kepala Ken dengan cekat perlahan rasa sakit dikepala Ken menghilang.
Ken kembali merasaka saat Aira pertama kali memijat kepalanya. Hal yang dilakukan Aira pada Ken. Mampu membuat Ken tertidur sejenak untuk mengistirahatkan kepalanya yang sudah mulai berkurang pusingnya. Lantaran pijatan yang istrinya berikan.
"Aira sangat cekat sekali." Ucap Nina dalam benaknya, dia sangat bersyukur memiliki menantu yang sangat menyayangi anak nya Ken.
Nina tatap putranya dengan sedih pertanyaan Aira membuat dirinya teringat masa disaat Ken berumur 21 tahu. Dimana kala itu kepala Ken pernah terbentur keras, akibat berkelahi dengan temannya. Saat mengetahui hal itu Deri dan Nina menjadi was-was takut Ken diluar sana sering berkelahi dengan orang lain. Mereka berdua tidak mau putra mereka terjebak dalam pergaulan bebas. Pergaulan bebas disini takut Ken balapan liar, berkelahin tanpa mau berhenti. Itu lah yang yang ditakutkan Nina dan Deri.
Untuk masalah peremupan keduanya masih percaya pada Ken. Karena sejak kecil Deri dan Nina mengajari Ken dan Luki untuk tidak asal menyentuh seorang wanita. Hal semacam itu tertanam sampai keduanya dewasa, ya walaupun Luki tetap sering mengombali peremupan cantik dengan kata-kata manis yang keluar dari mulutnya.
Sejak saat itu Ken sering merasakan sakit di kepala, dia terponis lupa akan beberapa ingatan yang sangat penting, termasuk saat kecelakaan kedua orang tuanya dan dia juga melupakan orang yang sudah menolong mereka.
__ADS_1
"Ken pernah berkelahi dengan kawannya dulu, sampai dia mengalami lupa beberapa ingatannya yang sangat penting." Nina menjawab jujur pertanyaan menantunya yang dilontarkan pada dirinya sendiri.
"Tapi sejak tiga tahun terakhir ini, Ken tidak pernah lagi mengalami sakit kepala yang luar biasa seperti barusan." Ucap Nina lagi meneruskan perkataannya.
Aira menyerit heran atas ucapan sang mama mertua. "Tapi saat malam setelah Aira dan mas Ken ijab, mas Ken sakit kepala seperti tadi juga ma." Aira mengatakan apa yang dialami oleh suaminya saat pertama kali mereka dalam satu kamar berdua.
"Astagfirullah." Mereka semua mengucap istighfar dengan kompak, termasuk Deri dan Nina keduanya tak menyangka jika Ken akan mengalami hal seperti itu lagi. Padahal sudah beberapa tahun ini Ken tak mengalami hal semacam itu lagi.
"Lalu bagimana Ken bisa sembuh?" tanya Deri memastikan.
"Aira memijat kepala mas Ken pa, sama seperti yang Aira lakukan tadi."
Mereka semua mengerti, setelah itu kamar Aira yang terdapat banyak orang itu terlihat hening, sampai abi Misbah menyuruh mereka untuk membiarkan Ken beristirahat dengan lebih baik, abi Misbah menyuruh mereka untuk meninggalkan kamar Aira, agar tidak menganggu istirhat Ken.
Mereka semua meninggalkan kamar Aira, sedangkan Aira menemani suaminya sampai bangun, takut Ken membutuhkan sesuatu.
Setelah satu jam akhirnya Ken sadar. "Ai." Suara Ken mamapu mengalihkan perhatian Aira yang sedari tadi sendang fokus melantunkan ayat-ayah suci Al-quran.
"Mas." Aira berjalan cepat mendekati tempat tidur. Dia sodorkan segelas air putih pada suaminya itu.
"Minum dulu mas." Suruh Aira.
__ADS_1
Ken meminum air putih itu dengan cara yang pernah dijelaskan Aira pada dirinya. "Allhamadulilah." Aira tersenyum mendengar suaminya mengucapkan hamdalah setelah minum.
Ken menyenderkan punggungnya di dinding kasur. "Duduk sini Ai." Suruh Ken duduk disebelahnya.
Tanpa membantah Aira langsung menuruti perintah suaminya. "Ai, mas sudah ingat sesuatu, kamu tahu kenapa malam itu mas mengalami sakit kepala?" Ken menatap teduh mata sang istri. Disana dia menemukan sebuah kenyamana yang sangat berarti bagi hidupnya.
Aira menggeleng atas pertanyaan Ken, karena dia tidak tahu sama sekali apa penyebab Ken sakit kepala waktu itu. Setelah selesai bicara Ken menunjuk pada foto Nadira dan Arka yang terlihat sangat bahagia dimata Ken. Aira mengikuti arah tunjuk Ken.
"Mas berusaha mengingat siapa mereka, karena mas merasa sangat familiar degan kedua orang yang ada di foto itu. Ternyata mereka orang yang selama ini mas cari. Mas mau mengucapkan terima kasih pada keduanya. Tapi siapa sangka takdir tidak mempertemuka kami bahkan sampai mas menjadi bagain dari mereka."
"Tak pernah terlintas sedikitpun di kepala mas jika skenario Allah akan seindah ini, walaupun mas tidak diperkenankan bertemu dengan mereka, tapi mas diperkenankan bertemu dengan putra putri keduanya. Bahkan mas menjadi bagian dari mereka. Mas menjadi menantu mereka."
"Mas mengucapkan banyak terima kasih pada mama dan papa Ai. Mas menyesal karena tidak pernah bertemu dengan mereka lagi saat itu. Maaf." Ujar Ken yang menyelesaikan ucapannya.
"Mas Ken ngomong apa sih, yang berlalu sudahlah biar berlalu." Aira tersenyum tulus pada Ken.
Cepat dia masuk ke dalam pelukan suminya untuk memberikan ketenangan untuk sanga suami. "Terima kasih banyak Ai sudah selalu setia bersama mas." Ucap Ken dengan tulus.
Aira melepaskan pelukannya pada Ken. Dia tatap dalam kedua bola mata suaminya. "Kita akan tetap bersama mas sampai maut memisahkan kita. Dan semoga kelak kita bisa berkumpul bersama di syurga-Nya."
"Aminn." Ken mengamini doa istrinya yang terdengar sangat tulus itu.
__ADS_1
"Sepertinya ingatan mas sudah kembali pulih semua Ai. Mas bersyukur kecelakan saat itu tidak menambah parah luka yang ada di kepala mas."
Saat kecelakaan yang Ken alami itu memang kepalanya tidak terbentur sama sekali, bahkan dari seluruh tubuh Ken yang terkenal imbas kecelakaan itu hanya kepalanya yang baik-baik saja.