Ketika Kita Berjodoh

Ketika Kita Berjodoh
rumah Arga


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Ai hari ini pulang ke rumah mama ya."


"Aira akan ikut mas Ken pulang ke rumah siapa aja mas, tap-" Aira ragu untuk meneruskan kalimat nya.


"Tapi apa Ai?" heran Ken.


"Tapi ambil baju Aira dulu ya mas di rumah abi sekalian pamit sama orang rumah."


"Sekarang kita ke rumah abi." Ajak Ken.


Suasana sore yang begitu sejuk menemai Aira dan Ken di tengah perjalanan pulang ke rumah Arga. Aira membuka sedikit kaca jendela mobil Ken untuk menikmati hembusan angin sore hari ini dengan semilir.


Ken sengaja mengendarai mobilnya dengan pelan membiarkan istrinya agar bisa menikmati hembusan angin sore hari ini, perjalanan menuju rumah orang tua Aira atau mertua Ken memang tidak terlalu banyak mobil atau kendaraan lain yang wira-wiri di daerah jalan sana, karena tempatnya yang memang masih bisa disebut desa daripada kota. Letak tempat itu dari pusat kota Bandung memang tidak terlalu dekat butuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai kesana jika dari pusat kota Bandung. 


Aira yang sedari tadi terus menikmati semilir angin di sore hari tidak sadar jika Ken sudah memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Arga. Ya, Ken yang baru saja pulang dari kantor mengajak Aira untuk tinggal di rumah Nina, mertua Aira. Aira juga pasti ingin menyapa kedua mertuanya. Saat acara pernikahan Aira dengan Ken. Memanag Aira hanya sempat mengobrol sebentar dengan mertuanya. kemudian mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing lagi. Padahal Aira ingin mengobrol lebih lama lagi pada mertuanya. Tapi sepertinya waktu belum mengizinkan.


"Ai ayo turun." Ajak Ken.


Aira yang sedang memejamkan matanya langsung membuka matanya saat mendengar suara Ken yang dia rasa begitu dekat dengannya, bahkan Aira dapat merasakan hembusan nafas teratur suaminya, hal pertama yang Aira lihat saat membuka matanya dengan sempurna adalah muka Ken, kini Ken sudah berdiri tepat di jendela mobil samping kemudi dimana Aira duduk disana.


"Eh, mas udah sampek." Ucap Aira kiku.


Bagaimana tidak saat ini Ken tengah menatapnya lembut sambil senyum mengembang di wajah ganteng Ken.


Cup

__ADS_1


Tanpa permisi Ken mencium kening istrinya, Aira yang tidak sadar pergerakan dari suaminya begitu cepat hanya bisa menundukan kepalanya malu, setelah Ken melepas ciumannya, demi apapun saat ini Aira tidak berani mengangkat kepalanya.


Blus….


Aira sama sekali tidak sadar akan pergerakan Ken yang begitu cepat mungkin saat ini muka Aira sudah sangat merah pasti bak tomat matang. Bagaimana Aira bisa sadar jika Ken akan menciumnya dengan mendadak begitu, Aira saja tidak tahu sejak kapan Ken sudah berada di sebelahnya.


"Ai ayo turun mau di dalam mobil aja emang, kalau iya biar mas ambilin bajunya." Tawar Ken.


Seakan sadar dengan ucapan Ken. Aira buru-buru turun dari mobil dengan kepala yang masih ditundukkan.


"Ai ngapain dari tadi nunduk aja kayak waktu belum nikah aja, sekarangkan sudah jadi mahrom Ai." Goda Ken pada istrinya.


Aira sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya, mendengar perkatan Ken. Aira semakin menundukan kepalanya. "Ai angkat kepalamu." Titah Ken.


"Tapi Aira malu mas." Ucapanya ragu.


"Wa'alaikumsalam." Ken dan Aira langsung menoleh ke sumber suara.


"Af dari tadi?" tanya Aira memastikan dia takut Afka melihat apa yang Ken lakukan pada dirinya kalau Afka lihat mau ditaruh dimana muka Aira, dia pasti akan tambah malu saat ini.


"Ada yang nggak beres nih sama ini anak, kerjain lah." Batin Afka tersenyum penuh misteri. Sedangkan Ken menatap curiga pada kakak iparnya itu yang lebih muda dari pada dirinya.


"Lumayan sih Ai dari tadi." Sahut Afka enteng. Kan benar apa yang Ken duga jika Afka akan berbuat ulah.


"Kamu nggak liat apa-apa kan Ken?" tanya Aira lagi penuh selidik dan juga dilanda rasa panik.


"Lagian kalau Afka lihat juga nggak papa sayang."

__ADS_1


Blus….


Aira tambah malu saat ini, ketika Ken memanggilnya dengan kata 'sayang' tapi Aira berusaha menterlakan ekspresinya.


"Inget woy, disini masih ada yang jomblo jangan umbar kemesraan di depan orang jomblo." Afka sedikit merasa kesal. Entahlah sepertinya dia iri pada pengantin baru di depannya ini.


Padahal tadi dia yang mulai ingin mengerjai saudara kembarnya kok dia yang jadi marah. Afka, Afka.


"Ada apa ribut-ribut, terus ini pula kenapa pada nggak langsung masuk ke dalem malah ngobrol di depan pintu." Cecer Aqila, dia segera keluar saat mendengar ada sedikit kegaduhan di depan pintu masuk rumahnya, Aqila tahu sura siapa itu kalau bukan si kembar.


"Heheh, Assalamualaikum umi." Sapa ketiganya kompak.


Aqila hanya bisa geleng kepala. "Wa'alaikumsalam, ya udah yuk masuk." Ajak Aqila pada kedua anaknya dan menantunya itu. Mereka langsung mengikuti Aqila masuk ke dalam rumah Arga.


"Oma sama opa sudah pulang umi?" tanya Aira yang sudah tidak melihat keberadaan Nina dan juga Jaka. Kini mereka sudah duduk di ruang tamu.


"Sudah Ai, kan tadi pagi sudah pamit."


"Lalu mbah yang dari Malang juga sudah pulang umi?" tanya Afka bergantian.


"Sudah juga Af, tadinya Azzar mau ikut mbahnya ke Malang, tapi dia nggak jadi ikut karena ada kegiatan kampus yabg mengharuskan semua mahasiswanya hadir."


"Pasti Azzar mau ketemu sama mbak Mila tuh." Tebak Afka yang tahu sifat sepupu satu-satunya itu.


"Tau aja kamu Af."


"Bahkan semua orang tau umi kalau Azzar mau ke Malang pasti cuman kangen sama mbak Mila doang." Cibik Afka.

__ADS_1


Sedangkan yang dibicarakan masih sibuk kuliah di kampusnya.


__ADS_2