
Bismillahirohmanirohim.
Malam pun tiba kini semua tamu undangan telah pulang ke rumah masing-masing, tapi masih ada beberapa kerabat dari jauh yang menginap di kediaman abi Misbah.
"Ken mau kemana?" tanya Arga pada menantunya.
"Saya cari kamar saya pak." Ucap Ken dengan kaku.
Arga mengerti pasti menantunya itu masih merasa canggung, sedangkan kedua orang tua Ken sudah pulang satu jam yang lalu.
"Panggil abi saja Ken."
"Eeh, iya bi." Ucap Ken masih dengan lidah kakunya.
"Kamar kamu ada di lantai 2 yang tengah, itu kamar Aira dan sekarang sudah menjadi kamarmu juga."
"Istirahatlah kamu pasti capek."
"Baik bi, terima kasih banyak."
Ken segera menuju kamar yang dimaksud oleh Arga, Aira bukannya tidak menunggu suaminya terlebih dahulu ke kamar, tapi tadi saat tamu pada menyibukan diri untuk berpamitan pulang perut Aira terasa sakit.
Ken menyuruh Aira untuk istirahat di kamar saja, tadinya Ken yang akan mengantar Aira, tapi dia urungkan karena harus menemani Arga dan yang lainnya mempersilahkan tamu pulang. Jadilah Afka yang mengantar kembarannya itu.
"Yang mana kamarnya." Ken menatap satu persatu kamar yang ada di hadapannya ada lima kamar lebih yang kini dihadapan Ken.
"Yang mana kamar tengah."
Saat Ken tengah berpikir keras mencari dimana kamar yang dimaksud oleh abi Arga, seorang keluar dari salah satu kamar di hadapannya.
"Bang cari kamar Aira?"
"Iya Af, yang mana ya?" Ken balik bertanya.
Umur Ken lebih tua dari pada Afka, maka dari itu walaupun Ken merupakan adik ipar dari Afka. Afka tetap memanggil ken dengan sebutan abang.
"Ini bang kamarnya sebelah Afka, abang Ken masuk aja."
"Makasih kalau gitu Af." Ucap Ken sambil berlalu masuk ke kamar Aira.
__ADS_1
Entah mengapa Ken merasakan atmosfer yang sangat panas dingin di kamar Aira. "Kenapa apa cuman perasaan gue doang."
Krek….
Saat Ken tengah menatap kamar itu suara pintu yang terbuka dari kamar mandi yang ada di dalam kamar Aira membuat Ken menoleh.
"Astagfirullah." ucap keduanya dengan reflek.
"Maaf." Lagi-lagi Ken dan Aira bicara bersama.
"Oh ayolah Ai dia suamimu, dia berhak melihat apa saja milikmu." Batin Aira dalam hati.
Aira tidak tahu kenapa dirinya merasa sangat gelisah sekarang, sementara itu Ken yang tahu Aira sedang gugup segera mencairkan suasana.
"Ada handuk lagi? aku juga ingin mandi."
Dengan cepat Aira memberikan handuk pada Ken.
Tanpa bicara sepatah katapun Ken langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas." Panggil Aira saat Ken hampir masuk ke dalam kamar mandi.
"Makasih." Ken bicara sambil tersenyum matanya sedari tadi tak pindah dari dada putih bersih Aira yang tidak tertutup apa-apa. Karena Aira hanya mengenakan handuk sebatas dada.
"Mas Ken nggak jadi mandi?"
"Ja-di." Ucap Ken cepat saat tertangkap basah sedang terpesona oleh leher dan dada, putih bersih milik Aira istrinya.
Sementara itu Aira bernafas lega saat melihat Ken sudah masuk ke dalam kamar mandi. "Syukurlah."
Aira segera mengganti pakaian nya, setelah itu Aira menyiapkan pakaian untuk Ken juga yang ada di dalam koper, sepertinya yang membawa baju Ken kemari mama Nina.
Setelah itu Aira memasukan semua baju Ken yang ada di dalam koper ke dalam lemari Aira, sambil bibir kecilnya terus melantunkan bersholawat yang merdu.
Krek..
Suara pintu kamar mandi terbuka Ken keluar dari sana tapi dia bingung karena tidak memiliki baju, baru melangkah Ken langsung mendengar suara merdu milik istrinya. "Masya Allah." Gumun Ken.
Sepertinya Aira sangat asyik dengan kegiatanya sendiri sampai tidak menyadari jika Ken sudah berada di belakangnya.
__ADS_1
"Bukan itu baju gue." Ken menyerit bingung bagaimana bisa Aira mengambil bajunya, Ken yang masih melamun tak sadar jika Aira sudah menghadapnya. "Mas bajunya sudah Aira siapin di kasur."
"Eh, iya Ai makasih."
Entah kenapa Ken tersenyum senang kala mendengar Aira sudah menyiapkan bajunya.
"Semoga ini awal yang baik."
"Semoga ini awal yang baik." Doa sepasang suami istri itu di dalam lubuk hati mereka masing-masing.
"Apa ini lah yang dikatakan jodoh, sepertinya senyumku tak akan pudar jika mengingat cinta pertamaku adalah jodohku."
"Tak masalah Aira belum mencintaiku setidaknya aku menikahi orang yang aku cintai, agar aku yang berjuang." Batin Ken.
"Mas Aira ambil minum dulu." Ucap Aira menunduk malu karena Ken hanya menggunakan handuk sebatas pinggang saja, hal ini memang sudah menjadi kebiasaan Ken sehari-hari jika setelah selesai mandi.
"Mas mau minum apa?" lanjut Aira lagi.
"Apa Aja Ai, asal jangan yang pahit."
Aira menangguk lalu meninggalkan ken sendiri di dalam kamar.
"Mbak kok mukanya merah? Mbak Aira sakit?" tanya Azzar yang tak sengaja bertemu dengan Aira saat baru keluar dari kamarnya.
"Merah malu itu mah Zar, hayo abis ngapain Ai." Sahut Afka enteng dia juga baru keluar dari kamarnya.
"Apa sih Af, jangan mulai deh ini tadi Aira abis pake balsem lang sedikit soalnya tadi muka Aira gatel banget." Bohong Aira.
"Ya Allah maaf Aira harus bohong." Batin Aira.
"Bohong dosa loh Ai."
"Bohong dosa lo mbak."
Aira menghela nafas kesal mendengar perkataan Azzar dan Afka yang sangat kompak itu.
"Terserah!!" Aira meninggalkan kedua laki-laki yang ada di hadapannya ini begitu saja.
"Lah kok marah." Cengo keduanya.
__ADS_1