
Bismillahirohmanirohim.
"Papa, apa yang dokter tadi katakan tenang mas Ken?" Aira bertanya sopan kepada papa mertuanya itu.
Deri yang baru saja keluar dari ruang dokter langsung kembali ke depan kamar rawat Ken.
"Kita doakan yang terbaik ya Ai untuk suamimu." Deri tidak ingin menjelaskan apa-apa saat ini. Untungnya Aira paham apa yang papa mertuanya itu maksud.
Aira yang mendapatkan jawaban seperti itu dari mertua mengangguk paham.
"Mama dimana Ai?" Deri menyapa besan terlebih dahulu tadi sebelum diajak bicara oleh Aira.
"Lagi liat mas Ken pa." Deri ikut duduk di kursi tunggu depan ruang rawat Ken yang sudah disediakan disana.
"Pa, Luki dulu ya yang liat Ken baru abis itu papa." Ucap Luki cepat sebelum Deri masuk terlebih dahulu daripada dirinya.
"Masuklah tapi ingat Ken masih sakit jadi harus sopan." Pesan Deri. Deri sangat paham seperti apa sifat Luki.
"Asipa pa."
Setelah menunggu sekitar hampir 30 menit akhirnya Nina keluar juga dari ruang rawat Ken. "Mama lama bener." Protes Luki dia juga ingin menemui Ken dengan segera.
"Huss Luki nggak boleh kagak gitu." Tegur Deri.
"Iya pa, kalau gitu Deri masuk dulu." setelah Luki masuk ke dalam ruang rawat Ken. Mereka semua memutuskan untuk melaksanakan sholat dzuhur, karena waktu dzuhur memangs sudah masuk waktunya.
"Nanti setelah shalat papa akan kembali ke perusahan Ai, ma tidak papa kan ditinggal?"
"Tidak papa, pa lagian juga ada abi, umi sama mama nanti."
__ADS_1
"Benar pak Deri biar saya yang menjaga mereka, atau kalau tidak mereka semua bisa istirahat dulu di rumah, biar jagain Ken bisa secara bergantian." Tambah Arga yang ada disana juga.
"Terima Kasih banyak pak Arga, maaf jika saya sudah merepotkan kalian."
"Tidak usah sungkan pak Deri kalian saudara kami."
Setelah selesai melaksanakan shalat dzuhuru mereka kembali berkumpul. Pak Deri yang tadi sudah mengatakan pada istri dan menantunya jika akan kembali ke perusahaan terlihat ragu. Karena beliau belum melihat keadaan putranya.
"Tapi saya belum menemui Ken." Keluh Deri sedia, dia bingung harus melakukan yang mana dulu.
"Pergilah pa, mama tidak apa-apa, nanti setelah papa pulang kerja, papa masih bisa menemui Ken." Ujar Nina yang paham suaminya itu sedang merasa bingung.
"Terima kasih ma." Nina memegang tangan suaminya untuk meyakinkan Deri.
"Baiklah kalau begitu saya titip mereka semua, dan mama maaf papa harus kembali ke kantor ma."
"Assalamualaikum." pamit Deri
"Luki sudah sholat?"
Luki yang mendengar suara Nina segera mengalihkan perhatiannya dari handphone nya menjadi menghadap Nina. Luki memasukan handphone itu kedalam saku celananya.
"Tadi mau sholat ma, tapi di depan kamar rawat Ken tidak ada satupun orang, jadi Luki tungguin dulu." Jelas Luki. Nina mengerti dengan penjelasan yang Luki berikan.
"Kami baru selesai sholat, karena mama dan yang lainnya sudah disini kamu sholat dulu saja." Suruh Nina.
"Kalau begitu Luki pamit sholat ma, terus Luki juga harus langsung balik ke perusahan."
Karena tidak mungki perusahaan yang dipimpin Ken tidak ada yang mengawasinya. Walaupun ada pak Deri, tapi tetap saja sekarang tanggung jawab Ken dan Luki yang besar di Qatar group. Karena Deri juga mengurus perusahaan satunya walaupun tidak sebesar Qatar group.
__ADS_1
"Iya tidak papa, tadi juga papamu kembali ke perusahan setelah sholat dzuhur."
"Iya ma."
"Luki pamit semua, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Mereka berempat menjawab dengan kompak.
Susana di depan ruang rawat Ken terasa hening beberapa menit sebelum Arga berbicara.
"Boleh saya masuk untuk melihat Ken?" Arga bertanya pada Nina dan Aira. Arga menunggu jawaban dari kedua perempuan itu begitu juga dengan Aqila.
"Boleh, kalian juga orang tua Ken."
"Tapi apakah boleh ma masuk sekaligus dua orang, soalnya tadi dokter bilang harus satu-satu yang jenguk mas Ken." Timpal Aira.
Nina tersenyum pada Aira, Nina bisa merasakan jika Aira sangat menyayangi Ken, walaupun Ken masih termasuk orang yang baru dalam hidup Aira. Tapi cinta Aira pada Ken dapat dirasakan oleh Nina yang merupakan ibu dari suami Aira itu.
"Hmm, biar abi dan umi masuk secara bergantian Ai."
"Tapi umi." Ucap Aira ragu.
"Tidak papa kalian berdua masuk secara bersama saja, asalkan tidak berisik Ai dan tidak mengganggu Ken, boleh kok masuknya berdua asal tidak lebih dari dua orang." Terang Nina.
"Alhamdulillah kalau seperti itu ma."
"Abi dan umi masuk dulu Ai, mbak Nina."
Aira dan Nina menangguk untuk merespon ucapan Aqila.
__ADS_1