
Bismillahirohmanirohim.
Arga dan Aqila langsung menuju rumah sakit saat menyaksikan berita jika menantu mereka terkena musibah. Sedangkan umi Rika dan abi Misbah belum bisa ikut datang, begitu juga Jaya dan Lina sang istri.
Sementara itu Aira yang sudah mendapat izin boleh melihat keadaan Ken, ini sudah berada di ruang rawat Ken.
Aira dapat melihat sosok suaminya yang terbaring tak sama sekali membuka kedua kelompok matanya, bahkan seluruh tubuh laki-laki berbadan bugar itu dibantu oleh selang yang terdapat di tangannya maupun untuk membantu pernafasan Ken.
Aira melangkah pelan menuju kursi yang tersedia ada didekat brankar Ken. Aira dapat merasakan jika kakinya sudah kembali terasa lemas. Seakan kaki Aira sendiri melarang untuk mendekati Ken yang tak berdaya, karena pasti Aira suda tidak kuat lagi.
Dengan dipaksakan akhirnya dalam waktu delapan menit Aira bisa sampai di kuris itu, padahal dia bisa sampai lebih cepat jika badanya kuat.
"Mas." Aira memegang lembut tangang suaminya. Ingin rasanya Aira larut dalam kesedihan, tapi Aira harus tetap kuat karena dia tahu semua ini termasuk ujian dalam rumah tangganya yang baru saja dia dan suaminya mulai.
"Mas Ken, Aira mohon mas bertahan lah, Aira yakin mas Ken bisa melewati ini semua, Aira janji akan selalu membantu dan menjaga mas Ken disini." Ucap Aira kini dia terus mengecup tangan suaminya dengan sayang.
Aira masih teringat kejadian di rumah tadi pagi, dimana dia dan Ken masih bisa tertawa bersama. "Aira akan terus berdoa untuk kesembuhan mas Ken. Aira belum siap untuk kehilangan orang yang Aira cintai untuk yang kedua kalinya mas. Jadi Aira mohon bertahanlah untuk Aira dan semua orang yang menyayangi mas Ken."
Secepat itukah Aira bisa mencinati suaminya. Benar, Aira sudah mencintai sang suami saat Ken mengucapkan ijab qabul untuk dirinya. Sedari dulu Aira sudah berjanji pada diri sendiri, dia hanya akan jatuh cinta pada orang yang sudah sah menjadi suaminya nanti. Janji Aira yang dia lakukan selalu disematkan dengan kata Insya Allah. Alhamdulillah sekarang terbukti dia mencintai Ken orang yang sudah sah menjadi suaminya.
"Mas Aira tidak menyangka jika pertemuan Aira dan mas Ken saat di depan restoran dekat taman akan menjadikan kita sampai ke jenjang pernikahan."
"Awalnya Aira tidak tahu kenapa hari itu abi memaksa Aira untuk ikut dengan abi menemui kliennya, padahal ada Afka yang pantas menemai abi."
__ADS_1
"Setelah Aira menikah dengan mas Ken, Aira baru paham kenapa saat itu abi memaksa Aira untuk ikut, dan anehnya lagi umi lebih mendukung abi daripada Aira, padahal biasanya umi selalu membela Aira. Ternyata tujuan abi dan umi bermaksud untuk menemui Aira dengan calon suami Aira secara tidak langsung."
"Mas padahal Aira sudah berjanji akan menceritakan sesuatu pada mas Ken, tapi tidak papa Aira akan menunggu mas Ken bangung. Aira mohon tidurnya jangan lama ya mas."
Gadis yang baru satu minggu ini sah menjadi seorang istri tak dapat membendung lagi air matanya. Air mata itu kembali terjatuh tanpa permisi.
Tanpa Aira sadari saat dia banyak bicara pada Ken, walaupun tidak ada satupun respon dari Ken. Ternyata jari tangan Ken bergerak sedikit setiap kali Aira bicara. Tapi jika Aira berhenti bicara jari tangan Ken juga akan berhenti bergerak.
Seperti Ken juga merasakan apa yang istrinya itu rasakan, Air mata mengalir begitu saja di pipi putih Ken, pipi itu yang tadinya kering kini menjadi basah. Aira yang melihat itu langsung mengelap dengan telaten pipi suaminya.
"Mas, Aira tinggal dulu ya, soalnya harus gantian sama yang lain, semua orang menyayangi mas Ken kini sedang menunggu giliran untuk menjenguk mas Ken."
Cup.
Aira jadi teringat jika Ken sering sekali mencium keningnya dengan mesra, bahkan Aira sangat suka jika Ken selalu mencium keningnya.
Walaupun belum puas menemui suaminya tapi Aira tak boleh egois dia harus bergantian dengan yang lain, apalagi Aira dapat melihat dari ruang rawat Ken jika sang mama mertua sudah tidak sabar ingin melihat anaknya.
Ceklek!
Pintu kamar rawat Ken terbuka menampakkan sosok Aira yang terlihat sedikit lega, walaupun ada rasa yang tak dapat diartikan dari wajahnya.
"Ai bagaimana keadaan suami kamu?" tanya Nina dengan wajah antusias.
__ADS_1
Nina sudah sadar satu jam yang lalu, setelah sadar dia tak memikirkan apa-apa selain sang putra.
Aira tak tau harus menjawab apa atas pertanyaan mertuanya. "Masih sama ma." Jawab Aira lirih.
"Ya sudah mama lihat keadaannya dulu." Kedua wanita itu yang sangat terpuruk atas kejadian yang menimpa anak dan suami harus tetap terlihat tegar dan kuat, walaupun aslinya meraksan sedang merasakan hancur.
"Iya ma, Aira boleh kasih saran." Ucapnya ragu.
"Apa Ai."
"Itu ma, kayaknya mas Ken harus sering-sering kita ajak ngobrol, ya walau dia tidak merespon, siapa tahu dengan kita mengajak mas Ken terus mengobrol dia akan cepat melewati masa kritisnya. Insya Allah."
"Baik Ai."
Setelah itu Nina masuk ke dalam ruang rawat anaknya.
"Umi." Ucap Aira lirih saat melihat Aqila sudah berada disitu juga. Dengan segera Aira masuk ke dalam pelukan uminya.
"Yang sabar ya Ai." Aqila mengelus pucuk kepala Aira yang tertutup hijab dengan sayang.
"Iya umi, bantu Aira untuk tetap kuat." Pintanya.
"Itu pasti sayang."
__ADS_1
"Mama dan papa kamu pasti bahagia disana Ai, memiliki putri cantik, pintar dan solehah seperti kamu." Batin Aqila.