
Bismillahirohmanirohim.
Ken sedang menunggu Aira menyiapkan bajunya ganti untuk dibawa pergi ke rumah kedua orang tua Ken. Sambil menunggu Aira selesai Ken memutuskan untuk pergi melihat-lihat di sekitar rumah mertuanya itu, saat sudah di samping rumah Arga. Ken dapat melihat sebuah rumah yang cukup besar, ukurannya hampir sama seperti rumah abi Arga pikir Ken.
Ken tengah memperhatikan rumah yang berada tepat di samping rumah Arga ayah mertuanya itu. Ken merasa ada yang aneh dengan rumah itu, rumah yang tampak bersih, sepertinya rumah yang terletak tepat di samping rumah Arga itu rumah yang selalu terawat dengan baik.
Yang membuat Ken penasaran kemana penghuni rumah itu, entah kenapa Ken merasa ingin sekali masuk ke dalam rumah tersebut.
Ada satu hal sebenarnya yang ingin Ken tanyakan pada Aira, tapi dia belum sempat menanyakan hal penting itu. Ya, Ken belum tahu jika sebenarnya orang tua kandung Aira dan Afka sudah tiada beberapa tahun lalu, bukan mereka tidak ingin memberitahu Ken, akan tetapi belum ada satupun dari mereka yang siap menceritakan hal tersebut.
Keluarga Anggara dan Jaya belum siap mengenang masa lalu yang sangat mengerikan, dimana masa lalu kelam itu membuat dua orang yang sangat dicintai keluarga Anggara maupun keluarga Jaya meregang nyawa. Sedangkan mereka masih memiliki satu putra dan satu putri yang berumur 15 tahun, dimana mereka berdua masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tua.
"Assalamualaikum bang Ken."
Ken mengelus dadanya karena kaget. "Astaghfirullah hal-adzim. Waalaikumsalam Zar, kamu ngagetin saya aja." Ujar Ken saat melihat siapa yang mengucapkan salam barusan.
Azzar memang tidak ada niatan untuk mengageti Ken, tapi Ken saja yang tadi melamun jadi kaget.
"Bang Ken ngapain disini?"
"Cuman liat-liat aja Zar." Ken menjawab pertanyaan Azzar tapi matanya tak beralih sedikitpun dari rumah sederhana yang terkesan mewah di depannya itu.
"Unik ya bang rumahnya." Ujar Azzar yang tahu kemana arah tujuan mata Ken memandang.
"Iya."
"Hampir lupa." Azzar menepuk jidatnya. "Bang dicariin sama mbak Aira tuh, niatnya aku kesini cuman mau nyusul bang Ken aja, tapi nanggung lah kalau udah disini sekalian ke asrama putra." Ujar Ken.
"Kalau gitu abang temuin mbak Aira dulu Zar, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah kepergian Ken. Azzar langsung melangkahkan kaki menuju asrama putar. Seperti yang Azzar katakan tadi.
Pondok pesantren putra milik abi Misbah kakek Azzar.
Ken sudah berada di rumah Arga, jam sudah menunjukan pukul 17:30 itu artinya adzan maghrib sebentar lagi berkumandang.
Kini rumah yang tadinya hanya ada Aqila saja semua penghuni rumah sudah pulang termasuk Arga.
"Assalamualaikum." Terlihat Aira, Afka dan kedua orang tua mereka sedang duduk di ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka semua, Aira tersenyum senang melihat Ken sudah kembali, tadi Aira kira Ken entah nyasar kemana.
"Dari mana saja Ken?" tanya Arga ramah.
__ADS_1
"Abis liat-liat sekitar sini bi." Jawabnya sambil ikut bergabung duduk disebelah Aira, kebetulan sekali Aira duduk sendiri.
"Ken nanti saja pulang habis magrib atau tidak setelah isya biar sekalian." Saran Aqila.
"Iya umi."
"Iya Azzar nya mana mas?" tanya Aira yang tak melihat Azzar lagi padahal dia hanya menyuruh memanggilkan Ken saja, kenapa sekarang Azzae yang menghilang.
"Oh, itu tadi katanya sih mau ke asrama putra." mereka semua menangguk.
Lalu kemudian Ken melihat Afka. ken menatap Afka tidak percaya yang sedang bersandar pada Aqila. "Itu si Afka kenapa umi?"
Arga dan Aqila hanya bisa tertawa geli. "Biasa lagi pengen dimanja-manja." Bukan Aqila yang menjawab melainkan Aira yang duduk di sebelah Ken.
Aira mencibik kesal pada Afka yang selalu saja bersikap manja pada umi Aqila, coba saja kalau ada Azzar pasti mereka akan berebut.
"Apa! sirik aja kamu." Sahut Afka enteng, tentu saja dia menatap Aira dengan tajam.
"Hah" Arga menghela nafas berat.
"Kenapa bi?"
"Nggak papa Ken, cuman abi masih bingung sama kembar udah pada gede-gede tapi tetap aja nggak pernah akur, padahal yang satu udah punya suami, maklum ya Ken."
"Nggak usah diperjelas bi!" kesel Aira padahal Ken belum menjawab ucapan Arga.
Setelah menunggu akhirnya sholat isya telah terlaksanakan. Setelah menyelesaikan sholat isya dan pamitan pada keluarga Aira, Ken benar-benar membawa Aira pulang ke rumah kedua orang tuanya.
Seperti biasa Ken dan Aira akan mengobrol ringan di dalam mobil. "Loh mas Ken tinggal di daerah sini?"
"Iya Ai, ini rumah orang tua kita, ya udah yuk masuk."
Aira sudah tidak kaget lagi dengan rumah Ken yang menurutnya sangat besar itu. Karena rumah opa dan oma nya juga hampir sama besar dengan rumah kedua orang tua Ken.
__ADS_1
"Akhirnya menantu mama datang juga." Ucap Nina yang langsung membawa Aira menuju sofa, Nina sama sekali tak memperdulikan putranya. Sebelumnya Ken dan Aira sudah mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Jadi ceritanya mama udah lupa sama Ken."
Nina menoleh pada anak tunggalnya itu. "Mohon maaf anda siapa? saya tidak punya anak modelan seperti anda." Ucap Nina bercanda tapi mode bicara yang dia gunakan mode serius.
"Terserah mama, papa dimana?"
Ken sudah paham dengan sifat mamanya yang memang sering aneh pikir Ken. "Papa disini."
"Oh"
"Trus si playboy satu itu kemana tumben nggak bikin gaduh." Ucap Ken lagi.
"Senang banget kayaknya kalau gue bikin rusuh." Sahut Luki yang membawa cemilan dari dapur.
Satu rumah tentu saja paham siapa yang disebut playboy oleh Ken, karena hanya Nina sepertinya perempuan yang tidak terkena serangan gombal dari Luki.
"Biar Aira istirahat dulu ma." Ken tak memperdulikan Luki dia lebih tertarik pada istrinya. Yang sedari tadi hanya menyimak perdebatan mereka.
"Bener kamu harus istirahat Aira." Suruh Nina.
"Maaf ma, pa Aira duluan ya." ucapnya tidak enak.
__ADS_1
Nina dan Deri hanya mengangguk begitu juga dengan Luki yang Aira sempat disapa oleh Aira juga.