
Bismillahirohmanirohim.
Ken yang masih memikirkan masalah tadi pagi di meja makan saat mengendarai mobilnya Ken tidak sadar jika di depannya saat ini ada sebuah mobil yang melaju dengan sangat cepat.
Terlihat mobil itu bergerak tak terkendali, saat Ken menyadari jika ada mobil didepannya sudah terlambat.
"Astagfirullah." Ucap Ken sambil mengambil kendali mobilnya, baru saja Ken hendak membanting stirnya ke arah samping, sayangnya Ken terlambat mobil di depan Ken lebih dulu menabrak.
Brak…brak…brak..
Dar!
Dar!
Terdengar beberapa kali suara benturan antara mobil Ken dengan mobil yang hilang kendali tadi.
"Astagfirullah." ucap orang beramai-ramai saat menyaksikan kecelakaan itu. Mereka segera menghampiri para korban.
Di rumah Ken.
"Astagfirullah." Ucap Nina saat sedang memotong sayur.
"Mama nggak papa?" tanya Aira khawatir.
"Sini Aira obatin ma." Buru-buru Aira mengobati jari tangan mertuanya yang terluka.
"Ai, mama takut terjadi apa-apa sama Ken." Seorang ibu pasti bisa merasakan kekhawatiran pada anaknya.
"Kita berdoa ya mama semoga mas Ken sudah sampai kantor." Aira menengakan mertuanya yang sangat mengkhawatirkan keadaan Ken.
Sebenarnya Aira merasakan perasaan sama seperti mertuanya, Aira tidak tahu kenapa sangat mengkhawatirkan suaminya padahal mereka baru bertemu beberapa menit lalu dan Ken baik-baik saja.
Saat Aira akan meletakan kotak p3k di lemari Aira tidak sengaja melihat sebuah berita yang tayang televisi dimana berita itu menampilkan sosok suaminya sudah pingsang.
__ADS_1
"Astaghfirullah hal-adzim." Aira langsung membekap mulutnya saat menyaksikan berita tersebut, Aira terus beristighfar dalam hati.
"Kenapa Ai?" bingung Nina.
"Mama, mas Ken." Kata Aira dengan ragu.
"Ken kenapa, Ai?"
Aira tidak menjawab pertanyaan Nina, tapi tanganya menunjuk ke arah televisi. Aira tak mampu untuk berkata-kata lagi.
"Ken!" Nina langsung tidak sadarkan diri.
Sementara itu di tempat kejadian yang ditampilkan oleh layar tv beberapa orang membantu membereskan kecelakaan yang terjadi di jalan pusat kota Bandung itu, terlihat tubuh Ken diangkat oleh beberapa orang yang membatu. Dan ada dua tiga orang korban lainnya.
Sungguh kabar kecelakaan itu begitu cepat masuk ke dalam berita di televisi.
"Astagfirullah, Mama!"
"Astagfirullah ibu."
Aira dan bu Tari membantu mengangkat tubuh Nina.
"Pak kita bawa mama ke rumah sakit Advent Bandung saja." Putus Aira, karena Aira mendengar jika Ken juga dilarikan ke rumah sakit tersebut.
Di rumah sakit Nina langsung ditangani oleh pihak rumah sakit, sementara itu Aira mencari dimana ruangan Ken yang sedang ditangani dokter.
"Dok apakah pasien bernama pak Ken Ahmad Deri Azami?" tanya Aira saat sudah menemukan kamar yang diberitahu oleh resepsionis rumah sakit.
Aira yang sampai di depan ruangan itu kebetulan sekali, saat dokter baru keluar dari ruang Ugd.
"Aira." Batin dokter muda itu.
"Benar mbak, tapi mbak siapanya ya?"
__ADS_1
"Saya istrinya dok, gimana kabar suami saya?" Tanya Aira dengan khawatir.
Dokter itu memperhatikan Aira sebentar. "Maaf mbak suami mbak saat ini sedang kritis."
"Astagfirullah mas Ken." Aira langsung lemas bahkan sekarang Aira tak mampu lagi menopang dirinya sendiri beruntung saat Aira akan terjatuh karena merasa lemas ada seorang yang menolong Aira, sebelum dokter tadi yang akan menolongnya.
"Ai kamu nggak papa?"
"Af, mas Ken Af. Hikss…..hiks…..hiks…" Aira menangis sesegukan di dalam pelukan kembarnya itu.
Sedari tadi Aira menahan tangisnya saat di rumah, karena tidak ingin melihat mertuanya lebih terpuruk, ternyata Aira salah dia sudah tak mampu lagi menahan tangisnya saat ini.
Baru tadi pagi dia bermanja dengan suaminya, saat ini suami Aira itu sedang menghadapi perjuangan yang berat, untuk melawan rasa kritisnya.
"Boleh kami menjenguknya?"
"Silahkan tapi saya sarankan satu persatu, agar tidak mengganggu pasien."
Baiklah.
Luki dan Deri juga sudah berada di rumah sakit Advent Bandung, mereka tidak langsung ke ruang Ken, karen sebelumnya Aira sudah memberi kabar Deri lewat wa jika ibu mertuanya itu pingsan saat melihat Ken dari televisi.
Aira mengatakan jika lebih baik papa mertuanya nya melihat keadaan mama mertua terlebih dahulu, karena Aira rasa Nina sangat syok dengan berita yang dia lihat.
Baru satu minggu pernikahan Aira dan Ken. Aira harus menelan pil pahit melihat suaminya kristi di atas brankar rumah sakit.
Bukankah di setiap pernikahan ada cobaan yang akan selalu datang? dan sekarang Aira merasakan hal tersebut.
Cobaan yang datang pada Aira bukan masalah wanita, atau keluarga tapi dia harus menerima kenyatan melihat suaminya yang baru menikah denganya satu minggu lalu kini tak sadarkan diri, terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.
"Ada yang bisa ikut ke ruangan saya sebentar untuk membahas masalah pasien." Ucap dokter tadi.
"Biar saya, saya papa pasien." Sambung Deri yang baru saja sampai di ruang ugd tempat Ken ditangani
__ADS_1