
Bismillahirohmanirohim.
Semua orang berdatangan ke rumah abi Misbah tepatnya di pesantren yang saat ini abi Misbah bina, satu persatu tamu undangan datang untuk menghadiri acara pernikahan Aira cucu perempuan satu satunya keluarga Anggara.
Bahkan mereka yang dari Malang juga tak ingin ketinggalan untuk menghadiri acara ini, walaupun yang bisa datang hanyalah abah dan umi Aqila.
"Masya Allah, Ai kamu cantik banget, bidadari umi emang beda ya." Puji Aqila melihat pantulan Aira dari cermin yang ada di depan Aira.
"Makasih umi."
"Ai umi tinggal dulu ya Ai mau ketemu sama abah dan umanya umi."
"Iya umi, Aira juga pengen ketemu mbah yang dari Malang."
"Nanti saja Ai setelah ijab qabul mu sudah selesai." Aira mengangguk, sambil membairkan Aqila pergi dari kamar riasnya.
Setelah kepergian Aqila, seseorang masuk kamar Aira tanpa permisi. "Cie yang mau nikah."
"Apa sih Af!" dengus Aira kesal, Afka selalu saja mencari gara-gara dengan dirinya.
"Jangan galak-galak atuh Ai sudah mau nikah juga, harusnya kamu baik-baik sama masmu ini, kan mas yang jadi walinya." Terang Afka.
"Kalau kamu nggak mau jadi waliaku Af nggak papa juga kok, lagian kan masih ada abi sama kakek atau tidak opa yang jadi wali Aira."
"Cie... tu kan yang sudah nggak sabar mau nikah." Goda Afka lagi.
"Mas Afka ditungguin di bawah." Kepala Azzar nyembul dari pintu kamar dimana Aira sedang dirias.
"Iya."
Afka dan Azzar berjalan seiringan menuju lantai bawah yang sudah banyak tamu, sementara itu di depan gerbang menuju kediaman abi Misbah, seorang berjalan dengan langkah gemetar dan bimbang.
__ADS_1
"Apa benar gue akan menikah hari ini." Batin Ken.
Kini Ken berjalan dengan digandeng oleh mama dan papanya disini kiri dan kanan, di belakang mereka ada beberapa kerabat yang ikut serta walaupun tidak banyak, tak ketinggalan Luki sekretaris Ken sekaligus anak angkat Nina.
"Kenapa ramai sekali."
Ken hanya bisa menatap orang-orang disekitarnya. Sambil berjalan menuju meja ijab, saat asyik melihat sekeliling kali ini mata Ken berhenti saat dia melihat Afka ada di meja penghulu.
"Apakah ini pernikahan massal bukannya dia laki-laki yang bersama Aira." Pikir Ken.
Tanpa disadari oleh Ken kini dia sudah duduk berhadapan dengan Afka.
"Bagaimana apakah langsung kita mulai saja?" tanya penghulu pada kedua pihak mempelai.
"Silahkan dimulai saja pak." Jawab Deri yakin.
"Baiklah nak Ken tolong jabat tangan wali dari perempuan yang duduk di depan kamu." Instruksi penghulu.
Sepertinya saat ini otak Ken sedang loading dia belum paham jika dirinya akan menikah dengan gadis yang membuatnya jatuh cinta pandangan pertama.
Deg….
Jantung Ken hampir copot mendengar nama yang dilafalkan oleh orang yang tidak ia kenal sedang menjabat tangannya saat ini. "Ini beneran gadis itu kan?" Ken masih bertanya-tanya dalam hatinya.
Afka dan Ken memang sudah saling menyapa saat acara wisuda Aira, tapi tetap saja mereka hanya sekedar menyapa saja saat itu. Tidak seperti Azzar yang sempat mengobrol dengan Ken.
"Tapi kenapa bintinya bukan menggunakan nama pak Arga." Bingung Ken.
Setelah Afka selesai mengucapkan kata tunai Ken langsung menyambut dengan lantang.
"Saya terima nikah dan kawinya Aira Nazwa Anggarania binti almarhum Muhammad Arka Anggara dengan maskawin tersebut tunai." Ken menyambar dengan lantang suara Afka. Entah mengapa Ken bisa langsung hafal nama Aira padahal dia baru sekali mendengar nama panjang Aira.
__ADS_1
"Bagaimana para saksi sah?" tanya pak penghulu.
"Sah."
"Sah."
Setelah itu suara semua orang yang mengucapkan kata sah bergema di seluruh kediaman abi Misbah.
Aira yang berada di dalam kamarnya bersama sang umi dan ketiga nenek nya meneteskan Aira mata sesaat setelah mendengar Ken mengucapkan nama dirinya dengan lantang.
"Mama, papa Aira kini sudah menikah dengan jodoh pilihan kalian, terima kasih banyak Aira berharap kalian selalu bahagia dialam sana." Batin Aira.
"Ai kok nangis? nanti bedaknya luntur loh belum juga ketemu sama suami." Peringat Lina.
Buru-buru Aira menyeka air matanya. "Nggak kok oma, Ai nggak nangis." Elaknya.
"Kita temui suami kamu dibbawah ya Ai kasihan kalau dia nunggu lama."
"Iya umi."
Aira berjalan ke bawah dengan dirinya oleh ketiga neneknya. Kini semua mata menatap Aira dengan kagum.
"Masya Allah cantik sekali mempelai wanitanya." Puji beberapa orang.
Aqila menuntun Aira untuk duduk disebelah Ken. Sementara itu Ken masih menatap Aira tak berkedip.
"Tidak sia-sia aku menerima perjodohan ini, terima kasih Ya Allah kau telah menjodohkan aku dengan bidadari cantik di sebelahku." Batin Ken saat ini Ken sedang merasa sangat bahagia.
"Ai ayo cium punggung tangan suamimu." Perintah Afka. Masih diposisi yang sama bahkan Aira tak berani sekalipun melihat Ken, dia masih ragu untuk mengangkat pandanganya.
Mendengar instruksi dari Afka reflek Ken menyodorkan tangannya pada Aira, sementara itu Aira dengan ragu mencium punggung tangan Ken, para tamu harus menunggu 3 menit untuk Aira dapat mencium punggung tangan Ken.
__ADS_1
Aira memang tidak pernah memegang tangan lawan jenis selain mahramnya. Maka dari itu saat Afka memberi dirinya instruksi untuk mencium punggung tangan Ken, Aira ragu-garu untuk melakukannya.
"Tidak papa Ai, sekarang Ken suamimu." Ucap Arga yang melihat putrinya masih ragu menyalami punggung tangan Ken.