
Abi Misbah terus tersenyum mendengar penuturan cucu perempuannya. Abi Misbah merasa jika didikan Arka dan Arga pada cucu-cucunya berhasil. Ya, walaupun sebenarnya papa kandung kembar itu sedikit jahil, sifat Arka hampir sama seperti keponakanannya Azzar.
Jika orang-orang bilang Azzar itu lebih pas jadi anak Arka, sedangkan Afka lebih pas menjadi anak Arga, karena sifat mereka yang saling bertukar. Afka lebih kalem seperti Arga.
Abi Misbah kembali bersuara. "Jadi kamu sudah betul-betul ikhlas Ai?" tanya abi Misbah sekali lagi pada sang cucu, setelah beliau menyelesaikan ceritanya.
Cerita bagimanan kejadian orang tua Aira dan Afka tiada, saat menolong orang yang mengalami kecelakaan itu. "Bagimana bisa Aira tak ikhlas kek, papa dan mama tiada dengan cara yang sangat indah. Setelah mereka pulang dari ibadah haji, lalu mereka membantu orang yang sedang kesusahan."
"Dimana kala itu banyak orang yang berlalu lalang di tempat tersebut, tapi tidak ada satupun orang yang mau membantu mereka, sedangkan mama dan papa tanpa melihat siapa mereka, hanya karena nita baik dari hati mereka. Hati merekalah yang Allah gerakan untuk menolong suami dan istri itu." Ucap Aira.
"Apalagi Afka bercerita dengan Aira, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri papa meninggal dengan keadaan tersenyum. Bagi Afka yang sudah sering mengikuti sholat mayit baru kali itu dia melihat jasad seorang yang sudah tiada tersenyum, senyum seperti orang yang bahagia." Jelas Aira.
Abi Misbah menatap sekekiling, dia telah menggantikan umi Rika bicara, semua orang menatap Aira dengan bangga, termasuk suaminya Ken.
"Apakah Afka iklas Ai?" abi Misbah kembali bertanya.
Kenapa abi Misbah kembali membahas masa lalu yang sangat menyakitkan ini, karena semua hal ini bersangkutan dengan rumah tangga Ken dan Aira untuk ke depannya, menurut abi Misbah lebih baik diberi tahu sekarang dari pada nantinya ada hal yang membuat rumah tangga cucunya itu hancur, hanya karena sebuah rahasia yang mereka sembunyikan selama bertahun-tahun.
Di dalam rumah tangga pasti ada cobaan, tidak mungkin sebuah rumah tangga yang dijalani tidak memiliki cobaan sama sekali. Rumah tangga tidak akan terasa manis bila hanya datar-datar saja.
Jangankan sebuah rumah tangga, bisa dibayangkan jika kita hidup tidak ada rasa sedih, senang, manis, pahit, bahagia dan menyakitkan. Pasti semua itu akan terasa hambar. Tidak mungkin hidup seseorang akan merasakan enak-enak saja.
__ADS_1
Orang kaya mendaptakan cobaan, begitu pula orang miskin, jangankan kita yang hanya manusia biasa Nabi saja mendaptkan cobaan yang begitu amat beratnya. Pertanyaannya bisakah kita sabar menerima semua ujian dan cobaan yang Allah berikan pada kita?
Sederhana saja jika kita sabar maka akan mendapatkan sebuah kepuasan nantinya. Bukankah Allah sudah berjanji pada orang-orang yang sabar menghadpai ujian dan cobaan didunia ini akan mendaptkan balasan yang setimpal diakhirat kelak.
Suasanan di ruang tamu kediaman abi Misbah itu terlihat hening sesaat saat abi Misbah melontarkan pertanyaan tersebuat pada Aira.
Disitu Deri dan Nina yang meras sangat bersalah pada Aira maupun Afka. "Ai yakin kek, Afka pasti mengikhlaskan semuanya sama seperti Aira. Insyaallah." Jawab Aira dengan yakin.
Tanpa mereka sadari sedari tadi Afka mendengar semua cerita yang diucapkan abi Misbah dan umi Rika secara bergantian. Benar apa yang dikatakan Aira, sama seperti dirinya Afka tidak sedikitpun meraskaan dendam di dalam hatinya. Dia sudah ikhlas dengan takdir yang telah Allah tetapakan pada kedua orang tuanya.
Toh kita tidak tahu kapan mati akan mendatangi kita, mati adalah sebuah teka-teki yang benar-benar akan terjadi pada setiap manusia. Tapi takdir jodoh belum tentu akan datang pada kita, karena tanpa kita sadari mati adalah hal yang pasti. Bisa jadi saat kita mengharapkan jodoh tapi takdir kita harus bertemu dengan malaikat Izrail lebih dulu. Jodoh belum pasti, tapi mati sudah tentu datang.
Mati bukanlah sebuah hal yang dapat kita tebak, seorang tidak dapat menghindari mati. "Insya Allah Ai." Abi Misbah juga menjawab dengan yakin.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka dengan kompak.
"Maaf sedari tadi Afka mendegar kakek dan nenek cerita bukan maksud Afka ingin menguping." Sesalnya.
"Tidak apa duduk dulu Af." Suruh Abi Misbah.
Afka duduk tepat di sebelah abi Misbah. "Ada yang ingin bicara dengan si kembar." Abi Misbah melihat Deri untuk meyakinkan, begitu pual yang dilakukan umi Rika, beliau menatap Nina, mama Ken sekaligus mertua Aira itu dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Deri mendekati Afka yang duduk disebelah abi Misbah. "Maafkan papa, semua ini karena papa. Andai hari itu mama dan papamu tidak menolong papa dan mama saat itu pasti mereka masih ada sampai kalian sekarang."
"Tidak pa, kita tidak boleh terus berandai-andai, atas sesuatu yang telah terjadi, bukan begitu Kek?" abi Misbah mengangguk.
"Apa yang Aira katakan benar jika semua ini sudah takdir yang ditetapkan oleh Allah, kematian tidak ada yang tahu kapan akan datang. Jadi papa tidak perlu meminta maaf Afka sudah iklas." Lagi-lagi Afka mengulangi ucapannya.
Deri memang menyuruh Afka untuk memanggilnya dengan sebutan papa, karena Deri juga sudah menganggap Afka anak sendiri begitu juga dengan Nina.
Kini giliran Nina yang mendekat pada Aira, Aira yang tahu jika mama mertuanya itu sangat merasa bersalah segera memeluk sang mertua.
"Maaf Ai." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Nina. Air matanya masih terus mengalir. Ken mengelus pundak mamanya yang dirangkul oleh sang istri. Dia juga merasa bersalah pada Aira dan Afka. Ken tak pernah melihat mama dan papanya semenyesal ini.
"Tidak apa ma, ini bukan salah kalian." Aira meyakinkan mama mertaunya. Umi Rika dan abi Misbah menjadi saksi begitu lembut dan baiknya hati si kembar, sedari kecil diajarkan untuk selalu ikhlas oleh kedua orang tuanya, maupun kakek dan neneknya, kini tertanam sampai mereka beranjak dewasa.
"Semua sudah ada yang mengatur, seknario Allah itu indah, mungkin Aira tidak akan bertemu dengan mas Ken saat ini, jika hal tersebut tidak terjadi." Ucap Aira, setelah mama mertuanya melepaskan pelukan pada dirinya.
"Terima kasih banyak Ai, Af." Ucap Deri dan Nina dengan sangat tulus.
"Terima kasih Ai, mas sangat beruntung mendapatkan istri seperti dirimu, yang berhati lembut, seorang pemaaf bahkan kamu bisa menyembunyikan sakit hatimu tanpa orang lain ketahui."
"Aku juga berterima kasih pada Afka, aku bukan saja dikaruniai seorang istri solehah, tapi juga kembaranya dan keluarganya sangat baik, sugguh keluarga kami sangat beruntung."
__ADS_1
"Astagfirullah, au..." keluh Ken tiba-tiba saja setelah selesai bicara beberapa detik.
"Mas." Aira mulai khawatir, kedua kalinya Aira melihat suaminya itu meremas kepala sendiri dengan begitu kuat.