
Bismillahirohmanirohim.
Satu minggu setelah kabar buruk menimpa keluarga Deri, dimana hari ini Ken belum juga terbangun dari masa kritisnya.
Tapi seakan belum cukup rumah tangga Aira terkena musibah dimana Ken mengalami kecelakaan sampai hari ini belum sadarkan diri, ditambah lagi kabar yang tidak menyenangkan datang dari kantor yang Ken pimpin.
Karena berita kecelakaan yang menimpa Ken satu minggu lalu sudah tersebar luas di seluruh kota Bandung, bahkan di kota-kota tetangga lainnya. Banyak para pengusaha yang memanfaatkan hal ini.
Banyak para perusahaan pesaing yang merebut para investor dari perusahaan Qatar group, karena yang mereka tahu pemimpin Qatar group sedang dalam kondisi melawan hidup atau mati.
Padahal tidak akan ada yang tahu kapan kematian itu akan menjumpai kita kecuali Allah saja.
Hingga terjadinya kerugian besar yang dialami oleh anak jabang Qatar group, dimana anak cabang Qatar group yang berada di perbatasan kabupaten Bandung hampir bangkrut. Para manajer di anak cabang Qatar group juga seakan memanfaatkan hal ini.
Sementara itu Luki harus terus berada di kantor pusat Qatar group, selama Ken belum bangung dari masa kristisnya.
Di ruang keluarga rumah Deri. Luki sedang menceritakan masalah yang menimpa anak cabang Qatar group yang hampir bangkrut.
"Pa, gimana solusinya anak cabang Qatar group yang ada di kabupaten Bandung harus segera diurus, sementara itu Luki tidak bisa meninggalkan kantor pusat." Keluh Luki.
Deri masih berpikir sebelum menjawab pertanyan yang dilontarkan oleh Luki padanya hingga Nina ikut bergabung di ruang keluarga Deri belum juga menemukan solusi yang pas untuk masalah penyelesaian anak cabang.
"Kamu kenapa Ki?" tanya Nina dengan wajah keheranan. Nina ikut bergabung dengan Luki dan Deri di ruang tamu.
__ADS_1
"Anak cabang di kabupaten hampir bangkerut ma, mereka para perusahan pesaing memanfaatkan kecelakaan Ken sebagai alat untuk menjatuhkan qatar group."
"Jadi apa solusinya mas?" Nina kini juga ikut berdiskusi dalam masalah perusahaan yang dimiliki Ken.
Perusahaan yang saat ini sedang Ken pemimpin adalah perusahaan milik Ken sendiri. Murni dari hasil kerja kerasnya selama beberapa tahun tanpa bantuan sang papa, sedangkan Deri sendiri mengurus perusahaannya yang dia bangung saat awal menikah dengan Nina.
"Papa belum ada solusinya ma, tidak mungkin papa meninggalkan Trans group untuk menstabilkan Qatar group."
"Bagaimana dengan kamu Luki, apakah tidak bisa pergi ke anak cabang, atau diwakili oleh salah satu manajer Qatar group?"
"Bisa saja ma Luki pergi ke anak cabang, tapi siapa yang akan mengurus kantor pusat."
Nina diam sejenak untuk mencari solusi bagaimana Luki bisa pergi ke anak cabang agar anak cabang bisa kembali normal seperti sedia kala, tapi saat Luki pergi ke anak cabang kantor pusat harus tetap ada yang mengisi.
"Huuh!" Nina membuang nafas karas, sedari tadi dia mencari ide untuk masalah satu ini, tapi Nina belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Astagfirullah."
"Kenapa Pa?" tanya Luki dan Nina secara bersama saat Deri berucap istighfar sambil memperlihatkan jam tangannya.
"Sudah hampir magrib ma Aira belum pulang sekarang jadwal Luki dan papa yang menjaga Ken."
"Astagfirullah." Ucap Nina juga yang tersadar.
__ADS_1
"Tapi tunggu dulu, Aira! bukankah Aira bisa menggantikan Ken di Qatar group selama Ken masih belum siuman."
"Jugaan Aira adalah salah satu mahasiswa-mahasiswi lulusan terbaik tahun ini dari fakultas ekonomi dan bisnis, juga sastra hukum." Nina yang mengingat jika menantunya adalah salah satu lulusan mahasiswa-mahasiswi bisnis terbaik di negara mereka.
"Papa setuju sama usulan mama, tapi kita harus bicara baik-baik dulu sama Aira, kalau dia nggak mau jangan dipaksa."
"Iya pa mama ngerti kok cuman kasih usulan aja."
"Tenang saja ma, usulan mama paling the best bagi Luki, Luki yakin mbak Aira bakal mau untuk menggantikan Ken sementara di qatar group, asalkan mama yang bicara dengan mbak Aira."
Nina tersenyum pada Luki, dia dan Ken selalu membuat Nina merasakan menjadi seorang ibu yang berharga dan selalu dibutuhkan.
Nina menyukai sifat Ken dan Luki karena jika ada sesuatu yang tidak dapat mereka pecahkan Ken dan Luki bukan hanya mengajak Deri untuk berdiskusi dengan masalah perusahaan, tapi juga mereka mengajak Nina ikut terlibat dalam diskusi mereka.
"Sudah nanti kita bahas lagi sekarang ayo kita menggantikan Aira menjaga Ken, Luki biar mamamu yang mengurus Aira. Mama bisa kan."
"Insya Allah pa, semoga menantu papa mau, tapi mama juga tidak enak dengan Aira, barus saja masuk ke dalam keluarga kita sudah membuat dia susah saja."
"Sudah ya ma nanti saja mikirin itu, Luki sama papa berangkat dulu, Assalamualaikum." Pamit Luki dengan segera diikuti oleh Deri pula.
"Ya sudah mama titip menantu mama dan anak mama disana. Wa'alaikumsalam." Jawab Nina, sambil mengantar suaminya dan Luki ke depan.
"Hati-hati dijalan Luki, jangan ngebut bawa mobilnya." Pesan Nina sebelum Luki keluar dari gerbang rumah mengendarai mobil yang disebelahnya bangku kemudi ada Deri sudah duduk disana.
__ADS_1
"Iya mamaku yang paling cantik." Balas Luki setelah itu mobil yang Luki kendari perlahan-lahan menghilang mengikuti jalan raya.