Ketua Osis Vs Ketua Kelas

Ketua Osis Vs Ketua Kelas
HAMIDUN??


__ADS_3

Karena frustasi, Dhika langsung meminta kontak Rangga ke Rein (Sepupu Rangga). Beberapa kali pesan yang dikirim Dhika hanya centang dua warna biru membuat Dhika kesal sendiri.


"Rein mana sih? kalau kagak dibalas, gue sumpahin ponselnya remuk!" Proted Dhika.


tringg


Reina Adinda.


-Jangan nyumpahin gue lo!


-RanggaNyebelin (kontak)


Dhika07


-Lo lama soalnya. Thanks


Dhika langsung menelpon Rangga dengan tergesa, setelah beberapa saat, panggilan dari Dhika tersambung dengan Rangga. Dhika menceritakan semua tentang Nay ke Rangga. Sahutan penuh kekawatiran dari seberang membuat Dhika mengerutkan dahi. Ada hubungan apa diantara mereka? kira-kira seperti itu pertanyaan yang ada di benak Dhika. Pria itu merasakan rasa sakit saat Nay menyebut nama Rangga, bukan namanya. Cukup lama ia termenung hingga tak sadar jika Rangga sudah sampai.


"Gimana kondisi Nay?" Panik Rangga.

__ADS_1


"Belum tau, dokter belum keluar." Balas Dhika membuat Rangga menghela nafasnya.


"Lo ada hubungan apa sama Nay?" Tanya Dhika.


"Gue-


Krieeeeetttttttt.


Pintu kaca didorong oleh seseorang dan menghasilkan suara yang mendecitkan telinga. Dokter wanita keluar dari ruang IGD sambil memperlihatkan wajah sendu.


"Keluarga pasien?"


"Saya."


"Bagaimana kondisi Nayara dok?" Tanya Rangga tak sabaran.


Dokter menggeleng, "Maaf, saya tidak bisa menyelamatkan janin yang ada dikandungan pasien. Pasien sedikit depresi dan kelelahan." Jelas dokter membuat Rangga lemas.


"Di.. Dia hamil? keguguran?" Tanya Rangga dan berharap jawabannya adalah tidak.

__ADS_1


Dokter mengangguk, "Kami selaku tim medis turut berduka cita. Kita sudah membersihkan kandungan nona Nayara." Ujar Dokter.


Rangga diam tak bergeming, dia menangis dalam diam. Karena keteledorannya ia kegilangan buah cinta nya dengan Nayara. Dokter yang tau kalau Rangga adalah suami Nay pun menepuk bahu Rangga untuk memberikan semangat.


"Jangan terlalu larut dalam masalah, hal seperti ini bisa dijadikan pengalaman agar lebih berhati-hati dalam bertindak. Usia kalian masih sangat muda untuk menjadi orang tua. Dan saya harap kalian tidak melakukan hubungan badan dulu sebelum kandungan Nayara kembali seperti semula." Nasehat Dokter membuat Rangga mengangguk perlahan.


"Terimakasih dokter, saya permisi." Ujar Rangga diangguki Dokter.


Rangga keluar ruangan dengan wajah yang lesu. Didepan ruangan Nay, para orang tua sudah menunggunya dengan raut wajah khawatir. Rangga menarik nafas dalam sebelum menceritakan semua apa yang dikatakan dokter kepada keluarganya. Dia melihat kanan kiri tidak mendapati adanya Dhika. Ya pria itu dititahkan Daniel untuk pulang agar beristirahat dan berterimakasih telah membawa Nay kerumah sakit.


Para orang tua ikut menitikan air mata mendengar penjelasan dari Rangga. Rangga menarik nafas dalam sebelum masuk ke ruangan Nay. Disana Nay duduk bersandar dan menatap lurus dengan tatapan kosong, Rangga tersenyum kecut saat Nayara sudah tau kebenaran tenyang bayinya.


"Aku jahat, maafin Mama nak. Gara-gara Mama kamu tidak bisa melihat indahnya dunia." Nayara menangis dalam diam sambil bergumam membuat hati Rangga sakit.


Rangga memeluk erat tubuh Nay, tidak ada penolakan tak ada balasan. Nay hanya diam mematung dengan air mata yang selalu luruh turun tanpa pamit.


"Nay." Panggil Rangga lirih ikut meneteskan air mata.


"Hikss, gue jahat! Gue udah bunuh anak kita Kak. Gue gak pantes jadi ibu yang baik. Gak bisa jagain anak kita Hiksss.. " Isak tangis Nay semakin keras membuat Rangga makin terpukul.

__ADS_1


"Nggak sayang, lo gak salah. Kita masih ada kesempatan buat jadi orang tua. Kita harus ikhlasin dia." Ujar Rangga berusaha tegar.


"Hiksss, gue orang tua yang buruk!!"


__ADS_2