Khanza

Khanza
Bertemu kembali


__ADS_3

Sebelum membaca budayakan vote & comment ya, karena itu semua bisa jadi bentuk semangat untuk penulis☺, Happy Reading!❤


------------------------------------


Hari ini adalah hari Senin, hari yang paling dibenci semua orang mungkin? Karena tepat dihari itulah hari dimulai nya pekerjaan seseorang mulai dari sekolah, kuliah, maupun bekerja. Tapi tidak bagi seorang gadis cantik yang bernama Khanza Raihana Rifqi 'Kenapa harus benci hari Senin? Bukankah Nabi Muhammad SAW lahir dihari Senin? Orang-orang muslim pun banyak yang bilang 'don't hate monday (Jangan benci hari senin)' pikirnya.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.


*Tok tok tok*


"Assalamu'alaikum za, udah rapih belum?" Tanya seorang wanita paruhbaya yang masih terlihat cantik walaupun usianya sudah bisa dibilang tak muda lagi.


"Wa'alaikumsalam, udah umi, masuk aja gak dikunci kok pintunya," Jawabnya.


"Gak usah za, cepetan kebawah aja kamunya, abi sama abang udah nungguin kamu dibawah, umi turun duluan ya!" Titah umi nya.


"Siyap umi," Jawabnya dari dalam kamar.


Setelah dirasa sudah rapih dan tidak ada barang yang tertinggal iapun melangkahkan kaki menuruni tangga menuju ruang makan.


"Assalamualaikum semuanya, Shobahul Khoir!" Ucapnya riang ketika sudah sampai di ruang makan.


"Waalaikumussalam, Shobahun nur!" jawab kedua orangtuanya dan abangnya.


Mendengar jawaban dari kedua orangtua dan abangnya, iapun langsung mengerjakan rutinitasnya tiap pagi sebelum sarapan, yaitu langsung mengecup pipi kedua orang tuanya.


"Umi sama abi doang yang dicium, Abang nggak?" Ucap abangnya dengan nada merajuk.


"Tiap hari ngomongnya begitu mulu bang, Cari istri sana makanya," Jawabnya dengan nada mengejek.


"Sini deh, abang mau ngomong sama kamu," Titah abangnya.


"Ngomong apa bang? Tinggal ngomong aja juga," Jawabnya.


"Rahasia, Sini abang berisikin," Jawabnya.


Dengan wajah polosnya iapun mengikuti perintah abangnya, mensejajari telinganya ke wajah abangnya.


*Cupp*


"Yeuhh abang mah modus cium-cium pipi adek," Ucapnya.


"Abisnya kamu disuruh nyium pipi abang gak mau, lagian modus sama adek sendiri gak dosa kan?" Jawab abangnya.


"Cari istri sana makanya bang," Ucap uminya melerai perdebatan mereka.


Abi dan khanza yang mendengar perkataan sang umi pun tertawa mengejek Reza yang notabene nya adalah abang Khanza.


"Adekkk, liat aja nanti pembalasan abang nanti!" ucap Reza dengan nada kesal dan penuh penekanan.


"Udah-udah ayo makan udah siang nih, nanti adek terlambat ke sekolah," Ucap uminya menghentikan aksi mengejek Reza.


Mendengar penuturan uminya, dengan sigap iapun langsung menduduki kursi kosong yang tepat berada di samping abangnya lalu mereka berdoa sebelum makan dan makan dalam keadaan hening.


"Abang anterin khanza ke sekolah yu!" Ucapnya dengan nada yang dibuat-buat.


"Gak mau ah," Jawab abangnya.

__ADS_1


"Yahh abang masih ngambek, maafin Khanza ya! Khanza kan cuma bercanda tadi," Ucapnya.


"Iya-iya tapi ada syaratnya," Kata Reza memberi negoisasi.


"Apa bang?"Tanyanya penasaran.


"Pulang sekolah traktir abang makan mie ayam pak udin," Jawab Reza


"Yaudah deh, ayo sekarang berangkat Khanza udah kesiangan nih" Ucapnya.


"Umi, Abi khanza pamit berangkat sekolah dulu ya," pamitnya seraya mengecup punggung tangan kedua orangtuanya.


"Iya hati-hati dek, belajar yang rajin ya," Pesan abinya.


"Siyap bi," Jawabnya.


"Abang juga pamit langsung berangkat ke kampus ya, soalnya ada kelas pagi"? Pamit Reza kepada kedua orangtuanya sambil mengecup kedua punggung tangan orangtuanya.


"Iyya bang, hati-hati bawa mobilnya," Pesan umi nya.


"Ahsiappppp," Jawab Reza.


"Assalamualaikum" Ucap keduanya bersamaan dan langsung pergi meninggalkan rumah.


🌼


Khanza POV


"Aduh abangku makasih yaa udah mau nganterin sampe sekolah, baik banget deh," Ucapku dengan nada yang sengaja dibuat-buat.


"Kan abang baik terus ganteng lagi, udah ganteng sholeh pula, nanti pulang sekolah adek nggak jadi traktir abang makan mie ayam pak udin ya, dompet adek udah menipis nih bang,"ucapku sambil menunjukan senyum terbaik yang aku punya.


"Kalo ada maunya aja muji-muji abang," Ucapnya sewot.


"Kan abang baik, jadi gak usah ya?" Ucapku dengan wajah melas .


"Iya deh," Jawab abangku pasrah .


"Makasih abangku, yaudah kalo gitu aku masuk ya! Abang hati-hati Assalamu'alaikum!" Ucapku sambil mengecup punggung tangannya dan berlalu keluar dari mobil.


Setelah memastikan abangku sudah keluar dari pekarangan sekolah akupun melangkahkan ke kelas baruku tepatnya dikelas XI IPA 2 yang berada dilantai 2 sekolah ini.


"Assalamu'alaikum," Ucapku ketika sudah berada didepan pintu.


"Wa'alaikumsalam," Jawab siswa-siswi yang lain.


"Eh muridnya nggak di rolling?" Tanyaku pada mereka.


"Nggak za, seneng deh bisa bareng kalian lagi," Jawab Dino dengan nada yang sengaja dibuat seriang mungkin.


"Senengnya lu, kalo nggak ngerjain PR ya tinggal nyontek," Jawab Al yang baru memasuki kelas.


"Yeuh nggak boleh gitu Al," Jawabnya sambil terkekeh membenarkan.


Malas mendengar mereka berdebat, aku melangkahkan kaki menuju mejaku yang sudah ada Dina -sahabatku- yang asik dengan ponselnya.


"Din!" Panggilku.

__ADS_1


"Kenapa Za?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel nya.


"Ada orang cantik disini masa dianggurin sih, malah lebih milih Handphone daripada aku," ucapku memuji diri sendiri.


"Pede banget kamu Za," Ucapnya sambil memutar kedua bola matanya malas.


"Jadi orang tuh harus jujur Din," jawabku.


"Siap-siap bu Maryam otw kelas" Teriak Alif yang tiba-tiba masuk kedalam kelas dengan nafas yang tidak beraturan dan keringat yang sudah bercucuran dari pelipisnya.


"Lari ya? Darimana larinya?" Dina menyerahkan tisu kerah Alif yang diterima baik olehnya.


"Lumayanlah, dari koridor lantai 1," Jawabnya sambil tertawa kecil.


"Kurang jauh Lif, nggak sekalian aja dari gerbang depan," Timpalku bercanda yang dibalas kekehan olehnya.


"Btw Ali sama Fatimah mana? Ko belum dateng?" Tanya Alif.


"Tadi di grup si dia-" Ucapan Dina terhenti karena mereka berdua sudah berada tepat didepannya.


"Assalamu'alaikum!" Seru Ali dan Fatimah berbarengan.


"Wa'alaikumsalam," jawab kami.


Tak...Tak...Tak..


Terdengar suara langkah kaki dari depan pintu kelas yang sontak membuat aku, Alif, Ali, Fatimah dan Dina berhenti mengobrol, semua murid yang sedang asik bergosip ria, dan bermain game online di ponsel nya pun langsung menghentikan aksi mereka dan kembali ke mejanya masing-masing.


"Assalamu'alaikum anak-anak," ucap Bu Maryam.


"Wa'alaikumsalam bu," jawab kami kompak.


"Assalamu'alaikum Bu! Maaf saya terlambat," Ucap seorang siswa yang tiba-tiba masuk.


"Wa'alaikumsalam, ah kamu pasti Khalid kan?" Jawab Bu Maryam


"Tunggu? Khalid? Ah gak mungkin Khalid itu dia kan masih di pesantren! Abinya juga belum kontak abi juga kalo mau pindah lagi ke Jakarta," Batinku.


Karena penasaran dengan wajah siswa yang baru masuk itu aku pun mengangkat wajahku dan melihat kearah siswa yang baru datang itu.


"Khalid!" Ucapku spontan dan hampir berteriak.


Orang yang kusebut namanya pun menoleh kearahku.


"Khanza!" Ucapnya dengan mata berbinar dan senyum yang merekah.


"Kalian saling kenal?" Tanya bu maryam.


"Mmm gimana ya bu, jelas kenal, dia sahabat saya dari kecil bu," Jawabnya sambil menggaruk belakang telinganya yang kurasa tidak gatal.


Seketika semua yang dikelas menatapku dan dia dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Khalid silahkan kamu duduk di kursi yang masih kosong," Ucap Bu Maryam.


"Terimakasih Bu," Jawab Khalid disertai senyuman dan melangkahkan kaki ke meja Alif.


"Eh tunggu? Kursi kosong kan cuma disamping Alif, Dia mau duduk di tempat Alif? Alif kan duduk disamping meja aku! Bisa bahaya ini mah!" Batinku berteriak.

__ADS_1


__ADS_2