
Dekorasi aula gedung hotel di ganti dengan nuansa merah muda dan putih.
Dalam dekorasi pengantinnya, di penuhi dengan bunga mawar segar. Bunga mawar yang berwarna senada dengan seluruh isi ruangan.
Lampu-lampu kristal indah tergantung di atas atap gedung. Kilauan kristalnya menyorot ke seluruh ruangan gemerlapan menambah kesan mewah disana.
segala macam makanan melimpah , minuman, camilan atau apapun terhidang dalam jumlah besar.
Sebuah kue tart besar berukuran 1 meter juga tinggi 1 meter di letakkan di sebelah dekorasi pengantin. Kue berwarna merah muda dengan hiasan bunga-bunga buatan yang indah. Juga terdapat patung seorang pangeran dan putri bergerak dansa diatasnya.
Seluruh tamu undangan dari pihak Abimana telah hadir, juga dari pihak Hanafi.
Hanafi dan Insha secara mendadak mengundang beberapa rekan kerjanya, untuk semakin memeriahkan acara pesta resepsi anak mereka Hafsah.
Semua yang ada di dalam pesta bersuka cita termasuk Hafsah dan Zoya sendiri. Hafsah memakai setelah jas berwarna putih, di beberapa bagian jasnya di berikan aksen merah muda, menserasikan dengan dekorasi ruangan juga dengan Zoya. Yang memakai gaun mengembang berwarna putih dengan hiasan permata berwarna merah muda yang memenuhi seluruh gaun nya.
Mereka bagaikan pasangan pangeran dan ratu yang sangat serasi. Hafsah sangat menawan dengan setelan jasnya. Sedangkan Zoya sangat anggun dengan gaun besar mengembangnya.
Pesta di gelar sampai malam hari, sedikit perbincangan antara keduanya saat pesta sudah akan usai, karna para tamu undangan yang sudah mulai sedikit.
"Sayang...apa kau lelah..."
kata Hafsah memegang erat tangan Zoya.
"Sama sekali tidak sayang...ntah kenapa aku sangat bersemangat hari ini..."
kata Zoya memandang Hafsah penuh makna.
"hmm..syukurlah..."
"Kenapa memangnya..."
tanya Zoya sambil mengeryitkan dahi heran dengan pertanyaan Hafsah.
" Tak apa karna aku juga sudah menyiapkan tenaga lebih untuk hari ini...."
"Maksudnya..."
"Untuk malam pertama kita..."
kata Hafsah membisik di telinga Zoya.
"Astaga....masih sempat-sempatnya ya berfikir seperti itu....kalau begitu aku tarik kata-kata ku tadi....aku sangat lelah hari ini...."
"Ahhh...sayang jangan gitu donk...papa bahkan sudah menyiapkan kamar khusus untuk kita bukan..."
"Kamar...kamar apa..."
__ADS_1
Zoya memandang Hafsah penuh tanya.
"Suite room khusus yang sudah di hias untuk malam pertama kita...kata papa aku harus segera memberikan cucu untuknya....dia tak sabar untuk menimang cucu dari kita..."
"Astaga papa...."
Zoya bereaksi dengan menepuk dahinya, kesal dengan ulah Abimana dan Hafsah yang di nilainya sangat memalukan itu.
Sementara Hafsah hanya tertawa kecil sambil memandang Zoya yang sudah geram sendiri dengan perkataan Hafsah barusan.
Di dalam hotel bintang 5 yang sedang mengadakan pesta resepsi mewah penuh suka cita. Berbanding terbalik dengan villa yang sedang di tempati Khanza sekarang.
Semenjak malam dimana Tian telah menghabiskan malam lagi dengan Khanza.
Tian tak pernah terlihat lagi disana, Khanza sendiri tak tau persis dimana dia sekarang berada, ponsel pun telah hilang ntah kemana segala fasilitas komunikasi disana juga tak dapat di gunakan.
Mobil Khanza pun kala itu di tinggalkan begitu saja di depan resto 99.
Masih berfikir positif tentang Tian, Khanza menganggap dia mungkin banyak pekerjaan sehingga tak dapat berkunjung ke villa nya untuk melihat Khanza.
Khanza yakin bahwa Tian sangat mencintainya, karna dulu Khanza tau sendiri bagaimana Tian mengejar-ngejar dirinya waktu kuliah.
Khanza pun menikmati berbagai fasilitas yang ada disana, makanan dan camilan pun masih tersedia lengkap dan cukup banyak jika hanya untuk Khanza yang seorang diri. Hanya saja Khanza harus memasaknya sendiri apa yang akan dia makan, juga merawat rumah sendiri karna tak ada seorang pelayan pun disana.
Villa itu juga jauh dari keramaian, hampir 2 hari disana Khanza hanya melihat beberapa orang yang lalu lalang, itu pun sepertinya mereka petani yang memiliki tanah di sekitar sana .
Sedang menonton acara Tv favoritnya, Khanza seketika menoleh ke arah depan Villa karna terdengar suara mobil disana. Berharap Tian yang datang Khanza pun segera saja berlari kecil menuju pintu depan.
Khanza menaikkan kedua alisnya karna yang dia lihat bukanlah mobil dari Tian.
"Apa dia mempunyai mobil lain ya..."
kata Khanza lirih kepada dirinya sendiri.
Masih berharap Tian yang datang, Khanza pun menunggu sang pemilik mobil keluar. Khanza cukup terkaget ketika seorang yang tidak dia kenal keluar dari mobil itu.
"Anda siapa..."
kata Khanza dengan cepat setelah orang itu keluar dari mobilnya.
"Saya teman Tian..."
jawab pria itu dengan santai sambil memandang Khanza dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Ada apa anda datang kesini..."
"Saya ingin memberikan ini padamu...ini titipan dari Tian..."
__ADS_1
kata Pria itu sambil mendekati Khanza dan memberikan sebuah paperbag pada Khanza.
**
Sementara di rumah mewah Insha, seluruh anggota keluarga baru saja pulang dari pesta resepsi Hafsah.
Hafsah dan Zoya sendiri tak ikut pulang, mereka menginap di hotel tempat pesta, karna Abimana telah memberikan kamar khusus untuk mereka berdua sesuai penuturan Hafsah sebelumnya.
Hanafi, Insha, Adam dan Zakki tak langsung beristirahat meski mereka lelah. Mereka semua masih berada di ruang keluarga berkumpul bersama, memakan cake coklat yang di beri oleh Abimana sebelum pulang dari pesta tadi.
"Ini benar-benar cake terenak yang pernah aku makan..."
kata Zakki sambil mengambil satu cake lagi dari kotaknya.
"Hey...enak ya enak...tapi jangan di makan semua donk...sisakan untuk ayah dan ibu...mereka bahkan belum memakannya sama sekali...tapi kau sudah mau menghabiskan separuhnya..."
kata Adam menepis tangan Zakki.
"Biarkan Adam...kami akan membelinya nanti jika menginginkannya..."
kata Hanafi dengan santai.
"Makanlah sayang...kau makan juga Adam habiskan jika kalian menyukainya..ibu akan belikan lagi nanti jika kalian mau lagi..."
Kata Insha dengan tersenyum.
"Tuh kan...ayah dan ibu saja tidak marah...kenapa kakak yang marah..."
kata Zakki mengejek.
Adam pun hanya terdiam melihat tingkah adiknya yang memang sedari dulu memiliki tingkah seperti anak kecil.
Setelah berbincang banyak tentang hal yang terjadi di pernikahan Hafsah dengan bahagia. Tiba-tiba Adam berkata.
"Kak Khanza kemana ya..."
kata Adam dengan wajah datarnya.
Seketika Hanafi dan Insha merubah expresi wajahnya dengan wajah masam. Mereka bahkan enggan membahas apapun tentang Khanza dan memilih pergi dari sana dengan alasan tubuh yang sudah lelah.
"Apa mereka masih marah pada kak Khanza..."
kata Adam kepada Zakki.
"Mungkin... menurutku lebih baik kita tak membahas tentang kak Khanza dulu dari pada harus melihat expresi ibu yang menakutkan itu....."
jawab Zakki sambil menatap Hanafi dan Insha yang sudah berjalan jauh dari mereka.
__ADS_1
Bersambung....