Khanza

Khanza
Maaf


__ADS_3

Di malam penangkapan itu, Khanza berada di depan pintu rumah mewah Insha. Tengah berdiri sambil memandangi tas yang dia bawa.


Polisi telah mengantarkannya pulang kembali ke rumah Insha. Tapi Khanza enggan masuk dan hanya berdiri di depan pintu.


Khanza merasa dirinya sudah tak pantas lagi untuk masuk ke dalam rumah itu. Apalagi dirinya yang kini sudah ternodai oleh banyak orang. Khanza merasa dirinya adalah wanita paling hina dan tak pantas lagi menjadi bagian keluarga dari Insha.


Setelah proses yang panjang, Tian juga sudah di bawa oleh polisi, dirasa semua keadaan sudah beres akhirnya semua anggota keluarga Insha pulang bersama-sama.


Mereka semua menaiki mobil yang berbeda-beda. Mereka semua turun dan memandangi Khanza yang hanya berdiri di depan pintu dengan kepala menunduk.


Insha pun lebih dulu menghampirinya, tanpa berkata apapun Insha langsung memeluk Khanza dengan hangat.


"Jangan sentuh aku ibu...aku sungguh tak pantas mendapatkan pelukan dari ibu...aku bukan anak ibu lagi...aku wanita yang kotor ibu...jangan peluk aku..."


rengek Khanza yang berusaha melepaskan pelukan Insha.


"Apa yang kau katakan...selamanya kau akan tetap menjadi anakku...apapun keadaanmu..."


kata Insha semakin mempererat pelukannya.


Mendengar kata-kata Insha, seketika Khanza semakin terisak keras.


"Maafkan aku ibu...sungguh maafkan aku...atas semua perbuatanku pada ibu..."


kata Khanza lagi sambil terisak.


"Sudahlah...lupakan semuanya...yang terpenting sekarang kau dalam keadaan yang baik-baik saja ...."


jawab Insha sambil mengelus rambut Khanza lembut.


"Kak Khanza apa kakak baik-baik saja..."


kata Zoya yang menghampiri keduanya.


Insha pun melepaskannya, berganti Zoya yang memeluk Khanza.


"Maafkan aku Zoya...atas semua perbuatanku...dan ya...apa Zidan memaafkanku..."


"Sudah lah kak...kami sudah memaafkanmu dan melupakan kejadian itu...Zidan sudah memaafkanmu kak...bahkan dia sekarang sudah mempunyai kehidupan baru...."


Khanza hanya menatap Zoya dengan penuh tanya, seakan mengerti arti tatapan Khanza, Zoya pun berkata lagi.


"Ya...Zidan sudah mempunyai kekasih baru kak...dia sudah memaafkanmu dan melupakan semua itu..."


kata Zoya dengan senyumnya.


"Syukurlah...aku turut bahagia...semoga dia menemukan yang terbaik untuk kehidupannya nanti..."


kata Khanza dengan airmata yang masih membasahi pipinya, tapi dia berusaha tersenyum dalam kata-katanya.


Zoya pun menyingkir dan berganti dengan Hafsah, Adam dan juga Zakki yang tiba-tiba datang dan memeluk Khanza dengan sangat hangat. Ketiganya memeluk Khanza bersamaan, membiarkan tubuh Khanza yang mungil hilang di tengah-tengah pelukan mereka.


"Terimakasih karna kalian semua telah membantuku...maafkan aku juga atas semua kesalahanku..." kata Kahza di tengah-tengah pelukan itu.


"Tak perlu berterimakasih karna itu sudah merupakan tugas kami bukan...untuk menyelamatkan kakak..."

__ADS_1


kata Zakki sambil menepuk-nepuk Khanza.


"Kami sudah memaafkanmu kak...tak perlu minta maaf lagi..."


jawab Hafsah cepat.


"Perlukah berterimakasih dengan keluarga sendiri.."


kata Adam menimpali juga.


"Terimakasih untuk kalian semua...masihkah kalian menganggap aku kakak...setelah semua yang terjadi..."


Khanza menatap ketiganya bergantian.


"kau masih tetap menjadi kakak kami...."


kata Hafsah sambil mencium kening Khanza.


"Benar kan..."


kata Hafsah lagi memandang pada Adam.dan Zakki.


Baik Zakki dan Adam mengangguk bersamaan setuju dengan apa yang baru saja di katakan oleh Hafsah.


"Baiklah...ayo kita makan malam bersama...sebagai formasi keluarga yang lengkap...iya kan ibu..."


kata Zoya pada Insha dan semua yang ada disana.


"Kau benar sayang...ayo kita siapkan makanannya..."


kata Insha sambil memeluk Zoya, membawanya masuk kedalam rumah.


kata Adam sudah ingin beranjak dari tempatnya.


"Iya aku juga benar-benar lapar sekali setelah bermain dengan kak Khanza tadi..."


kata Zakki menggoda dan menyenggol Khanza yang ada di sebelahnya.


Semua yang ada di sana pun tertawa karna perangai Zakki itu, mereka semua pun beranjak masuk masih dengan tawa yang menghiasi wajah mereka.


Hanafi hendak berjalan untuk masuk dalam rumah tapi tangannya di tarik oleh Khanza untuk berhenti.


"Ada apa Khanza..."


kata Hanafi heran dengan tarikan tangan Khanza.


"Apa ayah juga memaafkanku.."


tanya Khanza dengan mata yang berkaca-kaca kembali.


"Tentu saja sayang...ayah memaafkanmu...Ayo kita makan dulu..."


kata Hanafi sambil mengelus lembut puncak kepala Khanza.


"Terimakasih ayah..."

__ADS_1


Khanza pun memeluk Hanafi dengan erat.


"Sudah-sudah ayo masuk...kita makam malam dulu ya...kau pasti lapar..."


"Tapi ayah..aku malu...aku malu pada mereka semua..atas semua kelakuanku...aku wanita kotor ayah...aku tak pantas berada disini..."


"Kau mengatakan apa Khanza...kau adalah bagian dari keluarga ini...dan kau pantas berada di antara kami....lupakanlah apa yang sudah terjadi...dan jalani semuanya seperti dulu lagi..."


"Tidak bisa ayah...aku sungguh tak bisa...aku malu pada adik-adikku....apalagi pada ibu...atas semua tingkah lakuku sebelumnya...aku benar-benar tak pantas berada di rumah ini lagi....aku ingin pergi ayah..."


"Kau akan pergi kemana Khanza..dunia luar tak baik untuk keadaanmu sekarang...dan lagi ayah tak mau kau terjebak lagi dalam keadaan yang sebelumnya..."


"Aku mohon ayah...."


Khanza pun terus memohon pada Hanafi untuk tidak tinggal serumah lagi dengan Insha dan adik-adiknya. Dia merasa malu, apalagi saat melihat perutnya yang sudah mulai membuncit. Yang mengingatkannya lagi pada kejadian memalukan yang pernah dia lakukan.


*****


"Nona Khanza....keluarga anda akan berkunjung esok hari..."


kata seorang pelayan yang menemani Khanza.


"Keluarga....ayah dan ibu..."


kata Khanza dengan mata yang berbinar.


"Benar nona...mereka mengatakan akan sampai disini esok hari sekitar jam 8 pagi..."


"Syukurlah....sungguh aku senang sekali mbak....ayo kita memasak untuk menyambut kadatangan mereka besok..aku akan membantu mbak di dapur...."


kata Khanza dengan semangat.


"Kita buat cemilan yang tempo hari itu mbak...cemilan khas daerah sini...kue itu benar-benar enak sekali...aku yakin baik ayah maupun ibu tak pernah memakannya..dan aku yakin mereka pasti akan suka..."


imbuh Khanza lagi.


"Baiklah nona ayo...."


kata sang pelayan juga dengan semangatnya.


Tapi baru saja Khanza hendak beranjak dari duduknya untuk membantu pelayan membuat kue, tapi suara tangisan bayi sudah terdengar dari dalam kamar Khanza.


"Astaga...dia sudah terbangun mbak...hehe maaf ya..."


"Iya nona tak apa... saya bisa membuatnya sendiri..."


mereka berdua pun berjalan di kedua arah yang berbeda.


Sejak saat di malam kepulangan Khanza dari penyekapannya. Hanafi telah memutuskan untuk membawa Khanza ke sebuah rumah di pedesaan, karna permintaan Khanza sendiri yang tak mau tinggal serumah dengan keluarganya lagi. Khanza merasa malu jika harus tinggal bersama lagi, Khanza memilih pergi dan tinggal sendiri serta melahirkan dan merawat bayinya dengan tangannya sendiri meski tanpa seorang ayah untuk anaknya.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2