
Sore itu pembahasan tentang pernikahan Zoya dan Hafsah telah selesai di bahas, banyak keputusan telah di buat tentang pernikahan dadakan yang di gelar 2 hari lagi.
Baik pihak keluarga Hanafi maupun Abimana sama-sama bekerja sama mengurusi berbagai kebutuhan pernikahan.
Setelah semua keputusan sudah di buat, pihak keluarga Abimana segera pulang ke kediamannya. Mereka tak melihat adanya mobil Zidan di garasi rumahnya.
Setelah kebahagiaan yang Zoya dapatkan kembali, dia baru teringat bahwa adiknya sangat tersakiti karna kejadian ini. Memang bukan karnanya tapi karna Khanza. Tapi Zoya merasa khawatir karna Zidan pergi dalam keadaan marah dan kecewa.
"Kemana Zidan pa....ma..."
"Biarlah mungkin dia masih perlu waktu sendiri...setelah semua yang dia alami.."
kata Abimana sambil menepuk-nepuk bahu Zoya, Abimana tau betul bahwa Zoya khawatir dengan keadaan adiknya.
"Iya sayang....biarkan dia menenangkan diri dulu...Zidan pasti akan pulang nanti setelah amarahnya mereda...dia sudah dewasa mama yakin dia pasti akan lebih bijak dalam berbuat.."
kata Amira menambahkan.
"Iya...aku mendapatkan laporan bahwa mobil Zidan sekarang berada di rumah barunya....dia pasti sedang istirahat disana...menikmati waktu sendiri disana sampai dia bisa menerima keadaan ini.."
kata Abimana lagi sambil melihat pesan di ponselnya.
Mereka pun beristirahat ke kamar masing-masing di hari yang sudah mulai gelap itu. Berbeda dengan Abimana dan Amira yang bersikap tenang atas kepergian Zidan. Zoya lebih khawatir akan keadaan adiknya, dia merasa tak enak hati takut terjadi sesuatu padanya.
Akhirnya Zoya memutuskan untuk pergi sendiri menuju rumah baru Zidan, mengendarai mobilnya sendiri.
Sesampainya di rumah Zidan, Zoya segera mencari keberadaannya. Dan dia menemukan Zidan yang sedang terbaring di kursi santai pinggiran kolamnya, dalam keadaan meracau tak jelas.
"Hei...astaga Zidan apa yang sedang kau lakukan..."
kata Zoya sambil menepuk-nepuk wajah Zidan.
Zoya melirik botol-botol anggur di sebelah Zidan, ntah sudah berapa jumlahnya tapi dia bisa menyimpulkan bahwa botol-botol itu sudah kosong tak tersisa.
"Maaf nona....tuan Zidan terus saja meminta botol anggur kepada kami...dia akan marah jika kami tak memberinya...kami tak dapat mencegahnya..."
__ADS_1
kata seorang pelayan yang berjalan mendekat sambil membawa sebotol anggur lagi.
Khawatir dengan keadaan adiknya yang sudah mabuk parah, juga baju yang masih basah . Zoya segera meminta sang pelayan untuk membantunya membawa Zidan menuju kamarnya.
Zoya juga membuang botol anggur yang baru saja di bawa oleh pelayan, dia membanting botol itu hingga pecah di depan Zidan. Karna Zidan terus memaksakan dirinya untuk meminum anggur meski dia sudah mabuk parah.
Malam itu pun Zoya mengganti baju Zidan, memaksa Zidan untuk meminum susu beberapa gelas untuk menetralkan alkohol dalam tubuhnya.
Malam itu Zoya tertidur di kamar Zidan, dia merawatnya sepanjang malam, membersihkan muntahan Zidan, juga menjaganya agar tak pergi lagi kemana pun. Melihat keadaan adiknya yang sekarang Zoya menitikkan air mata. Zoya melihat betapa Zidan sangat kecewa dan sakit hati atas semua kejadian yang menimpanya.
Sementara di Resto 99 malam itu, Khanza masih berusaha membuat Tian menikahinya.
Khanza semakin bingung harus kemana lagi jika Tian benar-benar tak mau bertanggung jawab atas anaknya.
Seluruh keluarganya bahkan sudah membencinya dan tak peduli padanya lagi.
aku benar-benar tak tau lagi harus berbuat apa....semua ini memang salahku...aku sendiri yang membuat kekacauan ini...aku mohon Tuhan untuk kali ini ...buat Tian untuk mau bertanggung jawab dan menikahiku...aku tak tau akan kemana lagi....
batin Khanza getir sambil memandang Tian penuh harap.
Cukup lama Khanza membiarkan Tian untuk berfikir. Hingga tiba-tiba Tian terlihat menyeringai dan memandang Khanza.
"Sayang..jangan bermuka sedih seperti itu....aku hanya mengetes mu apakah kau benar-benar ingin menikah denganku...dan hidup bersamaku..."
"Aku serius Tian...apa kau masih tidak percaya...aku bahkan sudah rela datang padamu..."
"Iya sayang....aku percaya tentu aku akan menikahimu....karna dia anakku kan..aku akan bertanggung jawab padanya..."
Tian yang duduk di kursi samping Khanza kini mengelus rambut Khanza dengan lembut.
Menaruh satu tangannya lagi di atas lutut Khanza yang memakai dress hitam selutut itu.
"Apa yang kau lakukan...jangan menyentuhku...."
kata Khanza dengan ketus, terkaget dengan sentuhan Tian yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa...kau tak mau aku sentuh...bukankah kita akan menikah sebentar lagi..."
kata Tian menyeringai lagi.
"Dan ya...bukankah kita juga sudah menghabiskan malam panjang sayang...ini bukan yang pertama kali lagi untuk kita kan..."
kata Tian lagi membisik pelan di telinga Khanza.
"Lepaskan aku Tian....setidaknya jangan sentuh aku sebelum kita benar-benar sah menjadi suami istri...dan ya...apa kau tak malu dengan tingkahmu ini....ada banyak pasang mata disini yang akan melihat perbuatanmu ini..."
kata Khanza mendorong-dorong tubuh Tian risih.
"Untuk apa malu...mereka bahkan melakukan hal lebih dari itu disini....kau tak tau kau sedang berada dimana sekarang..."
kata Tian tak mau menjauh dari tubuh Khanza.
Khanza seketika melihat ke segala arah di sekitarnya, benar saja ada banyak pasangan disana. Banyak yang melakukan hal yang tak pantas dilihat oleh orang lain, bahkan banyak dari mereka berciuman tanpa memperdulikan orang di sekitarnya.
astaga benar....tempat apa ini sebenarnya....
batin Khanza begidik ngeri takut sendiri.
"Tenang saja....aku akan menikahimu secepatnya...sekarang bawa barang-barangmu....aku akan mengantarmu ke villa ku...kita akan tinggal disana untuk sementara waktu sebelum kita menikah..."
kata Tian sambil menggandeng tangan Khanza berdiri, menarik tangan Khanza untuk mengikuti langkahnya.
"Aku juga akan mengenalkanmu pada ayahku....kita akan tinggal di rumah pribadiku setelah kita menikah..."
Dan Tian berbicara banyak sepanjang perjalanan menuju villa. Mengutarakan janji-janji manis pada Khanza dan mengungkapkan betapa dia sangat mencintainya.
Malam itu juga Khanza sudah berada di villa milik Tian, Khanza sendiri tak tau dimana tepatnya letak villa itu. Jalanan malam hari membuatnya tak bisa melihat dengan jelas di daerah mana dia sekarang.
Dan Malam itu hanya ada Khanza dan Tian disana. Dengan segala rayuan Tian, malam itu Khanza kembali mendapat perlakuan yang sama dari Tian.
Tian membuat tubuh Khanza sampai lemas tak berdaya, tetapi berbeda dengan sebelumnya. Kini Tian bermain dengan cukup lembut pada Khanza, memperlakukan Khanza dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Setelah puas, Tian pun meninggalkan Khanza yang sudah terpulas di kamarnya, dengan senyuman menyeringai yang sulit di artikan.
Bersambung....