Khanza

Khanza
Butik


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu dan semakin mendekati hari pernikahan Khanza.


Dan saat ini Zidan tengah berada di ruang tamu di kediaman Insha.


Dia tengah menunggu Khanza yang sedang bersiap untuk pergi dengannya.


Hari ini Zidan ingin membawa Khanza ke sebuah butik gaun pengantin untuk membeli sebuah gaun untuk pernikahannya nanti.


Butik yang cukup terkenal di kalangan atas dengan harga yang cukup fantastis.


Zidan sendiri yang memilih butik itu untuk pakaian di hari pernikahannya. Karna Zidan tau kwalitas dari baju-baju, jas maupun gaun disana yang sangat bagus.


"Sudah selesai.."


kata Zidan yang melihat Khanza sudah berdiri di depannya.


"Sudah...ayo..."


Kata Khanza sambil melangkah ke arah pintu, ingin segera pergi dari rumah.


"Loh aku ingin pamit dulu dengan ayah dan ibumu...kemana mereka..."


kata Zidan yang menahan tangan Khanza.


"Mereka sedang sibuk Zidan...sudahlah ayo kita pergi...pasti mereka akan mengerti nanti..."


Kata Khanza sambil memalingkan wajahnya, karna tak ingin Zidan melihat wajah kesalnya saat membahas Insha maupun Hanafi.


"Apa kau sudah bicara pada mereka bahwa kita akan kemana ..."


tanya Zidan lagi memastikan.


"Sudah...ayolah...nanti kita kesiangan..."


Kata Khanza yang mulai menarik tangan Zidan untuk segera pergi.


"Baiklah ayo..."


Mereka berdua pun pergi keluar dari rumah, dan mengendarai mobil Zidan, mereka hanya pergi berdua tanpa di temani oleh siapapun.


Sementara di atas lantai 2, teryata Insha mendengar dan melihat tingkah Khanza sebelum meninggalkan rumah.


Insha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa dia bisa tiba-tiba berubah 180 derajat begini ya....pasti ada sesuatu yang di sembunyikan...atau pun sesuatu kesalah fahaman di antara kami......aku tak pernah melihat dia dengan tingkah yang tak menghormati orangtua seperti ini....dia mungkin adalah salah satu kunci kenapa sifat Khanza bisa berubah...."


Kata Insha fikirannya sambil menerawang lagi, mengingat rekaman cctv yang di lihatnya dengan Hanafi tempo hari.


Hanafi sendiri beberapa hari ini tengah sibuk berada di luar kota karna perjalanan bisnisnya. Dia di sibukkan kembali dengan pekerjaannya seperti dulu. Karna peran Hafsah di tinggalkan, dan dia harus kembali menjalani rutinitas yang biasa di gantikan oleh Hafsah.


Tapi Hanafi tak melupakan begitu saja tentang Khanza, dia tetap membayar beberapa orang untuk terus menyelidiki anak yang di kandung oleh Khanza.


Saat itu juga Insha berangkat ke rumah sakit untuk menemui seorang yang di maksud dalam cctv tersebut. Dia menyuruh dokter Arya untuk mempertemukan dia dengan wanita yang ada di rekaman tersebut. Ingin menanyakan apa hubungan dia dengan Khanza. Karna Insha pun tak pernah kenal dengan wanita itu, dia hanya tau bahwa wanita itu adalah teman lama Hanafi.


Sementara di dalam butik mewah, Khanza tengah mencoba beberapa gaun pengantin berwarna putih, dengan berbagai aksen hiasan yang tak sama setiap modelnya.


"Bagaimana dengan yang ini Zidan..."


Kata Khanza sambil berputar-putar di depan cermin, melihat tubuhnya dari berbagai arah.


"Memakai apapun kau akan terlihat cantik...pilihlah manapun yang kau sukai..."


kata Zidan sambil tersenyum melihat Khanza.


"Ahh...kau ini sama sekali tak membantuku.."


Kata Khanza terlihat kesal menatap Zidan, karna sedari tadi Khanza telah mencoba beberapa gaun, tapi Zidan tetap saja tersenyum dan mengatakan perkataan yang sama.


Kata Zidan lagi dengan tertawa semakin lebar.


"Hmm..ya sudah lah aku pilih yang ini saja...aku rasa semua gaun terlihat indah...aku sampai bingung ingin memilih yang mana...dan kau Zidan...mana jas yang kau pilih..."


kata Khanza lagi sambil melihat Zidan sedikit kesal.


"Tentu saja aku akan memakai jas yang senada dengan gaunmu...kau memilih itu...maka aku akan memakai pasangan dari gaun itu...simple bukan...tak perlu khawatir seperti itu..."


kata Zidan dengan ringannya.


"Tapi gaun itu akan terlihat sedikit memfokuskan penampilan pada perutmu...yang mungkin terlihat sedikit membesar nanti...bukankah itu akan menarik perhatian para tamu nantinya..."


kata Zoya yang tiba-tiba saja ada di ruangan yang sama.


"Zo...zoya..".


kata Khanza sampai terbata karna dia kaget Zoya yang tiba-tiba saja ada di sana.


" Iya ini aku...menurutku itu kurang cocok untukmu...pakailah gaun yang sedikit mengembang di bagian bawahnya...itu akan sedikit menyamarkan perutmu yang membesar nanti..."

__ADS_1


kata Zoya sambil menunjuk beberapa gaun besar yang tergantung di lemari kaca.


"Loh kak Zoya kok tiba-tiba kesini..."


kata Zidan yang juga terkaget karna kedatangan Zoya.


"Iya...tak sengaja aku lewat jalan ini.. papa dan mama tadi membahas tentang tujuanmu kemari...jadi aku sekalian mampir untuk melihat mana yang kalian pilih...mungkin aku bisa sedikit membantu..."


kata Zoya dengan wajah tersenyum yang terlihat di paksakan.


"Pilihlah gaun yang sedikit mengembang di bagian bawahnya...seperti ini....ini akan menyamarkan perutmu nanti...dan ya... sepertinya ini kelihatan cocok untukmu.."


kata Zoya lagi sambil menunjuk sebuah gaun yang berada di samping Khanza.


Baik Zidan maupun Khanza terlihat canggung karna kedatangan Zoya disana. Karna mereka telah merenggut kebahagiaan yang bahkan sudah ada di depan matanya. Dan kabar yang di dengar oleh Zidan dan Khanza, bahwa Zoya dan Hafsah sebenarnya juga telah memilih sebuah gaun di butik yang sama yang sekarang tengah mereka kunjungi.


Tentu itu akan membuat Zoya juga teringat dirinya dan juga Hafsah yang harus rela mengalah demi mereka.


Siang itu pun, Khanza di bantu oleh Zoya memilih gaun untuk pesta pernikahannya. Zoya sendiri memang banyak membantu dalam pernikahan keduanya kali ini. Meski sangat sulit untuknya menyembunyikan kesedihannya. Tapi Zoya tetap bisa membaur dengan mereka, sebaliknya dengan Hafsah yang memilih untuk pergi dan tak melihat mereka berdua. Karna menurutnya melihat keduanya akan membuat luka hatinya semakin sulit untuk sembuh.


Siang itu setelah Zoya pergi lebih dulu dari butik, Zidan dan Khanza meneruskan perjalanannya. Zidan akan membawa Khanza menuju kediamannya yang baru di beli beberapa bulan yang lalu, hasil dari kerja kerasnya sendiri.


Keduanya masuk di daerah perumahan Elite yang di penuhi dengan rumah-rumah mewah berjajar di setiap jalan.


"Zidan...kenapa kita pergi kesini..."


kata Khanza menatap Zidan heran, karna dia belum tau maksud dari Zidan membawanya kesana.


"Lihatlah rumah berwarna putih itu...itu adalah rumah yang akan kita tempati setelah menikah nanti..."


kata Zidan sambil menunjuk sebuah rumah yang berada tidak jauh dari mereka.


"Itu...rumahmu..."


"ya....rumah yang baru saja aku beli beberapa bulan yang lalu..."


astaga...dia sudah mampu membeli rumah semewah itu...rupanya aku tak salah jika harus berjodoh dengannya...


Itu calon rumah kita nanti nak..


batin Khanza sambil mengelus perutnya lembut.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2