Khanza

Khanza
Pergi


__ADS_3

"Betapa mudahnya kau mengatakan itu..setelah kau meyakinkan kami tentang anak yang kau kandung adalah anak dari Zidan...sekarang tiba-tiba kau memutuskan untuk membatalkan semuanya dan mengatakan dia bukanlah anaknya..."


kata Abimana dengan nada tinggi pada Khanza.


"Tuan Hanafi dan nyonya Insha saya benar-benar kecewa dengan sikap anak anda...seharusnya anda mendidik anak anda agar bisa mengerti dan menghargai perasaan orang lain..."


kata Amira menatap kecewa pada Hanafi dan Insha.


"Maaf nyonya...dan Tuan Abimana kami sungguh minta maaf atas semua kekacauan ini..."


kata Hanafi sambil menunduk dalam malu dengan segala tingkah Khanza.


"Sekarang bagaimana...apa yang akan kita lakukan selanjutnya...semua persiapan pesta sudah siap...saya tak akan bisa membatalkannya...kami telah membayar semuanya dan telah menyebar undangan satu minggu yang lalu...kami tak bisa menariknya lagi....dan saya tak mau di buat malu oleh seluruh klien saya..."


kata Abimana dengan kesal.


"Saya mohon biarkan Hafsah dan Zoya yang menikah...karna memang seharusnya mereka yang bahagia..."


kata Khanza masih dengan isaknya.


Seketika semua yang ada di dalam ruangan itu menatap pada Hafsah dan Zoya bergantian. Wajah mereka seakan penuh dengan harapan bahwa mereka benar-benar bisa bersama lagi dan bahagia menjalani hidup berdua.


Tapi baik Hafsah maupun Zoya tak ada yang berbicara apapun, mereka tak berani meminta sebuah keputusan yang cukup besar ini, setelah apa yang terjadi. Setelah kedua orangtuanya sendiri yang memisahkan mereka demi kebahagiaan anak yang lainnya.


Cukup lama terdiam, akhirnya Abimana lah yang mengambil sebuah keputusan.


"Baiklah..Zoya dan Hafsah yang akan menggantikan menikah di hari itu..."


Mendengar perkataan dari Abimana seketika Zoya dan Hafsah pun berbinar senang.


"Benarkah papa..."


kata Zoya mendekati Abimana.


"Iya sayang...menikahlah dengannya...berbahagialah....maafkan papa telah berusaha memisahkan kalian..."


kata Abimana merentangkan tangannya, dan tersenyum memeluk Zoya yang mulai berlinang airmata karna rasa bahagianya.


Pelukan terlepas, Zoya pun beralih pada Amira.


"Terimakasih mama.."

__ADS_1


kata Zoya sambil memeluk erat Amira.


"Tentu sayang...memang seharusnya kalian yang bersatu...dan mama selalu mendukung itu..."


kata Amira yang juga berderai airmata melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah putrinya.


Sementara Hafsah seketika itu juga memeluk Adam dan Zakki yang berada di sebelahnya. Mereka bertiga berpelukan, Adam dan Zakki menepuk-nepuk bahu Hafsah pelan.


"Kau pantas mendapatkan semua ini kak...inilah hadiah dari kesabaranmu..."


kata Adam membisik di telinga Hafsah.


"Selamat kak...semua kebahagiaan telah kembali berpihak kepadamu...jangan biarkan kak Zoya pergi lagi..."


kata Zakki juga membisik pelan di telinga Hafsah.


Hafsah tak dapat berkata apapun, dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan airmata yang sudah menganak di ujung matanya.


Hanafi dan Insha juga mendekat ke arah Hafsah.


Hanafi menepuk lembut bahu Hafsah.


"Maafkan ayah nak...kurang tegas dengan semua yang telah terjadi ini...dan tak menyelidiki dulu semua yang telah terjadi...ayah bahkan mengetahui di hari-hari terakhir menjelang pernikahan mereka...mengungkap sebuah kebenaran...berbahagialah bersama Zoya nak...ayah sangat mendukungmu..."


kata Hafsah beralih memeluk Hanafi.


"Sayang...Zoya memang takdir terbaik untukmu...menikahlah dengannya...ibu akan selalu mendoakan untuk kabahagiaan mu..."


Insha bergantian memeluk Hafsah dengan eratnya.


Setelah mengungkapkan terimakasih mereka pada keluarganya. pandangan Hafsah dan Zoya pun bertemu, tanpa malu-malu lagi keduanya berjalan mendekat dan memeluk erat satu sama lain, rindu dan rasa sakit karna terpisahkan seketika hilang tergantikan dengan rasa bahagia karna dapat kembali bersama.


"Aku tak akan membiarkanmu pergi lagi dariku...aku berjanji akan itu..."


Kata Hafsah dengan tulus.


"Mulai sekarang tak akan ada lagi yang memisahkan kita...aku akan pastikan itu...aku mencintaimu Zoya..."


kata Hafsah lagi memeluk Zoya semakin erat.


Zoya tak dapat menjawab apapun, Karna Zoya tengah terisak dia hanya mengangguk-angguk kapalanya di bahu Hafsah.

__ADS_1


Semua yang ada di dalam ruangan itu, memandang ke arah keduanya dengan tatapan bahagia. Seakan juga merasakan apa yang tengah mereka rasakan.


Khanza juga menatapnya dengan penuh rasa lega, melihat semua orang tersenyum ke arah Hafsah dan Zoya.


aku telah menunaikan janjiku memperbaiki semuanya...


batin Khanza sambil mengusap air matanya.


Kini dia melangkah mundur dan pergi dari ruang tamu, melangkah kembali masuk ke dalam kamarnya. Mengemasi seluruh barang-barang miliknya. Lalu pergi lewat pintu belakang tanpa di ketahui oleh siapapun disana.


Mobil mulai berjalan keluar gerbang besar rumahnya, Khanza pun berkata dengan lirih.


"Kini saatnya aku mencari kehidupanku...aku akan menemui ayahmu nak..."


kata Khanza sambil mengelus perutnya pelan.


Sementara itu Zidan yang sedari tadi sudah pergi dengan mobilnya, kini berada di kawasan perumahan elite tepatnya di rumah mewah miliknya.


Dia masuk langsung menuju ke kolan renang pribadi miliknya, melepas semua pakaiannya, menyisakan celana pendek yang di kenakannya.


Lalu begitu saja menceburkan dirinya dalam kolam renang yang luas itu, berusaha meredam amarah yang sedang meluap-luap di hatinya.


Rasa kecewanya telah di bohongi, juga rasa sakit hatinya karna dia yang mulai mencintai Khanza, tapi dengan mudahnya Khanza memutuskan untuk pergi begitu saja dari hidupnya.


Lama berputar-putar di kolam renang itu, kini Zidan menepi dengan nafas yang terengah-engah. Menaruh kedua tangannya di tepian kolam dan menyandarkan kepalanya disana.


Zidan menangis sejadi-jadinya, tubuhnya sampai gemetar karna tangisnya.


"Kenapa kau melakukan semua ini padaku Khanza...wanita sialan..."


Zidan berkata dengan keras dan menghentak-hentakkan tangannya di air dengan kasar. Meluapkan semua emosinya disana. Dia juga berteriak meminta sebotol anggur pada para pelayan di rumahnya.


Zidan pun meneguk anggur itu sambil terisak di tepian kolam, meneguknya beberapa kali sampai seluruh isi botol tersebut kandas sepenuhnya.


Kembali ke kediaman Insha, disana baik pihak Abimana dan Hanafi telah berdamai dengan keadaan. Mereka membicarakan rencana pernikahan yang akan di gelar 2 hari lagi.


Mengganti segala berkas-berkas dengan nama mempelai yang berbeda. Namun dengan penataan pesta yang masih sama.


Dengan rona wajah bahagia Hafsah dan Zoya mengiyakan segala rencana pernikahan yang telah di buat oleh kedua belah pihak keluarganya. Apapun konsep pestanya yang terpenting bagi mereka adalah mereka segera menikah dan hidup bersama selamanya.


Tengah membahas pernikahan Hafsah dan Zoya. Insha melihat ke segala arah, dia baru menyadari bahwa Khanza tak lagi ada di ruangan itu. Hanafi juga baru menyadarinya saat Insha menoleh melihat ke seluruh ruangan, dia juga melakukan hal yang sama. Tak melihat kehadiran Khanza, keduanya malah bersikap acuh dan tak peduli, karna mereka sudah terlanjur marah dan kecewa pada Khanza.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2