Khanza

Khanza
Petunjuk


__ADS_3

Hanafi terlihat berfikir sejenak, melihat rekaman cctv yang sedang di putar Insha.


"Siapa dia sayang...dan kenapa kau melihat rekaman cctv di rumah sakit...apa terjadi sesuatu dengan Hafsah waktu di rawat disana..."


kata Hanafi menatap Insha dengan khawatir.


"Ini bukan tentang Hafsah...sudahlah lihatlah lagi...siapa dia....apa kau mengenalnya...aku ingin tahu siapa dia sebenarnya..."


kata Insha dengan wajah yang sangat penasaran.


"Sungguh aku tak mengenalnya sayang.."


"Benarkah...tapi dokter Arya bilang kau mengenal siapa dia...dan aku di minta menanyakannya padamu langsung.."


Merasa ada sesuatu yang penting, Hanafi segera melihat dengan seksama lagi, dan mengulang beberapa kali video yang ada, berusaha melihat wajah wanita yang ada di sana dengan jelas.


"Ya...aku mengenalnya..."


kata Hanafi sedikit acuh.


"Katakan siapa dia..dan apa hubungan dia dengan Salma ataupun Khanza..."


kata Insha dengan antusias.


"Salma dan Khanza...aku sama sekali tak mengerti dengan itu sayang...dia hanya seorang temanku...lalu apa hubungannya dengan Khanza..."


kata Hanafi semakin di buat penasaran.


"Aku juga tak tau sayang...tapi yang aku dengar dari penuturan dokter Arya...dia akhir-akhir ini sering...."


kata-kata Insha terhenti begitu saja saat mendengar suara barang pecah di luar kamarnya.


"Ada apa.."


tanya Insha sambil memandang Hanafi.


Mereka berdua pun keluar dari kamar, dan mendapati Khanza yang tak sengaja menabrak vas bunga kristal, karna dirinya yang merasa pusing.


"Khanza..."


Hanafi segera berlari kecil menghampiri Khanza dan mencoba membantunya berdiri di antara pecahan vas kristal yang menghambur di lantai.


"Khanza.."


Insha juga menghampiri Khanza tapi segera di cegah dengan tangan Hanafi karna dia tak mau Insha terkena pecahan vas yang ada di mana-mana.


"Diam disitu biarkan aku membantunya..."


kata Hanafi sambil memberi isyarat pada Insha.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa terjatuh disini Khanza..."


tanya Insha dengan nada khawatir.


"Hati-hati banyak pecahan vas di lantai.."


kata Hanafi sambil memegang bahu Khanza,menariknya berdiri.


"Maaf aku telah memecahkan vas ini...aku merasa pusing..."


kata Khanza dengan suara lemah.


"Aku bisa berdiri sendiri..."


kata Khanza lagi sambil berusaha menepis tangan Hanafi


"Tak masalah dengan vas nya...yang terpenting apa kau tak apa..."


kata Insha terhenti ingin berkalimat lagi tapi melihat kelakuan Khanza pada Hanafi, Insha seketika terdiam.


"Kau lemas Khanza...ayah akan membantumu ke kamar...jangan menolak kau bisa terluka nanti..."


Hanafi sudah berusaha menggendong tubuh mungil Khanza membawanya ke kamar.


Khanza ingin menolak tapi Hanafi segera bergerak cepat yang membuatnya seketika terdiam, dan hanya pasrah. Karna kepalanya yang terasa amat pusing.


Hanafi menaruh Khanza di ranjangnya, di ikuti oleh Insha yang berada di belakangnya.


"Aku sudah memanggil dokter kemari...mereka akan memeriksa keadaanmu..."


kata Insha masih fokus ke layar ponselnya.


"Tak perlu...tak perlu panggil dokter kemari bu...aku baik-baik saja...dan aku ingin sendiri...lebih baik kalian pergi dari sini..."


kata Khanza yang tak memandang ke arah Hanafi dan Insha sama sekali


"Menurutlah...kau akan mendapatkan obat nanti...kondisimu tak baik-baik saja sekarang..."


kata Hanafi berusaha menyelimuti Khanza.


"Tak usah melakukan apapun untukku ayah...itu tak akan merubah apapun...cara pandangku pada ayah akan tetap sama..."


kata Khanza sambil memandang Hanafi penuh kesal.


"Aku sungguh ingin segera menikah dan segera pergi dari rumah ini...."


imbuh Khanza lagi.


Melihat kelakuan dan mendengar perkataan Khanza pada Hanafi, seketika Insha merasa sangat kesal kepadanya. Bagaimana tidak setelah semua yang dia lakukan pada keluarganya. Insha masih saja memberikan perhatian kepadanya, tapi Khanza dengan angkuhnya menolak dan menyuruh mereka pergi dengan cara yang tidak sopan.

__ADS_1


"Jaga sikapmu Khanza...kami orangtuamu..."


kata Insha setengah membentak karna dia sudah merasakan kesal yang teramat sangat.


Khanza tak menjawab apapun, dia hanya melihat Insha sekilas dengan tatapan sinisnya.


"Kau kira berumah tangga adalah perkara yang mudah....kau kira setelah menikah semua akan berjalan lancar begitu saja...tidak seperti itu nak...bahkan orang yang saling mencintai pun dalam rumah tangga pasti akan mengalami pertengkaran...apalagi kalian yang menikah tidak di dasari dengan cinta...kalian menikah karna adanya anak bukan..."


kata Insha dengan nada suara yang masih meninggi.


"Jangan bertingkah seperti ini pada kami...bukan hal yang mudah untuk kami menerima semua ini Khanza...bersikaplah dewasa...berfikirlah sebelum bertindak...fikirkan orang lain sebelum melakukan semua yang kau mau...kau bukan anak kecil lagi nak..."


kata Insha lagi dengan nada suara yang sudah mulai lembut.


Khanza hanya mendengarkan tanpa ingin menjawab perkataan dari Insha, dia bahkan tak melihat ke arah Insha sama sekali.


"Sadarlah sayang..apa yang sebenarnya kau inginkan dari semua ini...jangan menghancurkan masa depanmu sendiri...ibu tau kau sudah mengetahui tentang ibu kandungmu...tapi aku juga ibumu...aku yang telah membesarkanmu..."


kata Insha ntah kenapa tiba-tiba Insha mengalirkan airmata di pipinya.


Dia merasa sedih karna anak yang sedari kecil berada dalam pelukannya dan mendapat kasih sayangnya kini tiba-tiba berubah sikap padanya.


"Kalau pun aku tau atas semua yang telah terjadi dengan ibu kandungku....sedari kecil aku pun tak mau hidup dengan ibu dan ayah...lebih baik aku sendiri....dari pada harus hidup dengan orang-orang yang sudah memberikan luka pada ibuku...."


Jawab Khanza sambil menatap Hanafi dan Insha bergantian dengan tatapan sinisnya.


"Jadi kau menyesal hidup bersama kami selama ini..."


kata Insha seketika dengan tatapan tak percaya pada Khanza.


"Ya...aku menyesal telah memanggil ibu selain pada ibu kandungku..."


"Lalu kau akan hidup dengan siapa Khanza katakan...bahkan kau.."


Hanafi tiba-tiba berdiri dan memeluk Insha menghentikan perkataannya.


"Sudahlah sayang...dia tak akan faham...dia masih di liputi dengan amarah..."


kata Hanafi melirih membisik di telinga Insha.


"Tapi dia benar-benar sudah kurang ajar mas....dia mengatakan hal yang seharusnya tak pernah dia katakan..."


Kata Insha mencoba membantah Hanafi.


"Sudahlah ayo kita pergi...biarkan dia sendiri dulu...berikan waktu padanya...sampai dia benar-benar mengetahui semuanya...."


Insha yang mendengar kalimat terakhir dari Hanafi, dia segera saja pergi dan menuju kamarnya kembali, masih dengan airmata yang mengalir di pipinya.


Tak lama setelahnya para medis yang telah di panggil Insha datang dan mulai memeriksa keadaan Khanza. Mereka memberikan beberapa obat dan vitamin untuk kehamilannya.

__ADS_1


Sementara Hanafi tetap ada di kamar Khanza menemani para dokter sampai mereka selesai melakukan pemeriksaannya pada Khanza.


Bersambung....


__ADS_2