Khanza

Khanza
Sakit yang sama


__ADS_3

Masih dengan perasaan sakitnya, Insha menatap Khanza yang masih tertunduk. Dia menghampirinya, berjongkok di depannya dan menaruh kedua tangannya di wajah Khanza.


"Khanza tatap aku..."


kata Insha sambil menatap lekat-lekat mata Khanza, di lihatnya sepasang mata yang menahan air mata.


"Apa benar yang di katakan mereka..."


kata Insha lagi.


Khanza tak menjawabnya, dia berusaha menghindari tatapan Insha langsung, Khanza memandang ke arah bawah menghindari tatapan Insha.


"Maaf bu..."


kata Khanza lirih.


"Sayang katakan...kenapa kau minta maaf...katakan bahwa semuanya tak benar..."


kata Insha meyakinkan.


"Maafkan aku bu..."


Kini Khanza berkata dengan berderai air mata.


Insha melepaskan begitu saja tangannya dari wajah Khanza, dia berdiri menatap Zidan.


"Kenapa kalian bisa melakukan ini..."


kata Insha dengan suara bergetar menahan tangis.


"Bukankah kalian tahu hubungan ini tidak pantas...ada Hafsah dan Zoya yang akan hancur di antara kalian...."


imbuh Insha dengan airmata yang sudah menetes di pipinya.


Hanafi menarik Insha duduk di sampingnya, memeluk Insha dengan satu tangannya.


"Sudah sayang...kita akan selesaikan ini baik-baik...."


kata Hanafi sambil mengusap air mata Insha.


"Bagaimana dengan Hafsah sayang...dia sangat mencintai Zoya...apa yang akan aku katakan pada mereka nanti..."


jawab Insha sambil menaruh kepalanya di bahu Hanafi.


"Tenanglah dulu..kita akan bicarakan ini dan mencari solusinya..."


kata Hanafi lagi mengelus kepala Insha.


"kenapa ini bisa terjadi..."


tanya Hanafi kepada Zidan dengan suara dinginnya.


"Maafkan saya om...ini memang salah saya...ini terjadi di malam pesta Khanza waktu itu.."

__ADS_1


Zidan pun menceritakan semua yang terjadi dengan sangat terperinci pada semua yang ada disana.


"Maafkan saya om....saya akan bertanggung jawab atas ini om.."


kata Zidan di akhir ceritanya.


"Bukan itu masalahnya...aku tau kau harus bertanggung jawab atas ini semua...tapi bagaimana dengan pernikahan Hafsah dan Zoya...ini tak bisa di batalkan..."


kata Insha terpancing amarahnya lagi, Hanafi mengusap-usap bahu Insha berharap dapat meredakan amarahnya.


"Saya rasa ini hanyalah sebuah ketidak sengajaan nyonya Insha....mereka bahkan di bawah pengaruh alkohol waktu itu..."


kata Abimana mencoba membela.


"Benar nyonya....kita sebagai orang tua harus mengambil jalan tengah untuk semua ini...melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita..."


kata Maira menambahkan.


"Apa maksud ucapan anda nyonya..."


kata Hanafi masih bingung dengan penjelasan Maira.


"Kita harus segera menikahkan keduanya....sebelum perut Khanza mulai membesar nantinya...kehamilannya kini sudah berjalan 6 minggu...tentu kita tak akan membiarkan orang-orang tau tentang ini bukan..."


jawab Maira dengan yakin.


"Apa mereka Hafsah dan Zoya telah mengetahui semua ini..."


jawab Hanafi lagi.


ungkap Abimana lagi.


Bagaimana dengan perasaan Hafsahku nanti....dia pasti tak akan terima dengan semua ini...dia sangat berharap bisa hidup bersama Zoya....bahkan aku bisa melihat cinta yang besar di antara mereka berdua....


batin Insha dengan perasaan berkecamuk.


Tak mengatakan apapun Insha beranjak dari sana dan pergi begitu saja menuju kamarnya.


Hanafi tak dapat mencegahnya, ia berbicara sebentar dengan keluarga Abimana, menyuruh pelayan untuk menjamu mereka, lalu menyusul Insha ke dalam kamarnya.


"Sayang..."


kata Hanafi sambil memeluk Insha dari belakang, ia bisa merasakan getaran tubuh Insha karna tangisnya.


"Kita tak bisa melakukan ini pada Hafsah sayang...."


kata Insha sambil berusaha mengusap air matanya.


"Kita harus bersikap bijak sayang sebagai orangtua..."


kata Hanafi yang sedang beralih ke depan Insha dan menatapnya.


"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu..."

__ADS_1


"tuan Abimana dan nyonya Maira benar... kita harus segera menikahkan mereka karna sudah ada kehidupan di dalam rahim Khanza...sedangkan Hafsah dan Zoya harus bisa mengerti dengan keadaan ini mereka harus mengalah...."


"Kenapa ini harus terjadi pada Hafsahku....apa yang akan aku katakan padanya nanti...aku tak sanggup menatap matanya dan mengatakan semuanya.."


"Mau bagaimana lagi...ini adalah sebuah kecelakaan...mereka tak bersalah untuk semua ini...mungkin ini takdir dari yang kuasa....bahwa Hafsah dan Zoya tidak di takdirkan bersama...tuan Abimana dan Nyonya Maira juga tak tega melakukan ini...tapi mereka benar sebagai orangtua kita harus bersikap bijak menyikapi anak-anak kita..."


"Aku bahkan merasakan sakit yang akan di rasakan Hafsah ketika dia harus mengetahui ini semua...dan harus rela menukar kebahagiaannya dengan Khanza..."


kata Insha dengan airmata yang kembali menggenang.


"Aku merasakan rasa sakit yang sama seperti sebelumnya...Dia adalah orang yang sama...dia memiliki darah yang sama bukan...dan dia menciptakan rasa yang sama lagi.."


imbuh Insha lagi dalam isaknya.


Seakan tau arah pembicaraan Insha, Hanafi pun berlutut di Hadapan Insha.


"Jangan mengulang lagi kisah itu sayang..bukankah sudah lama kita melupakannya..."


"Kalau begitu...jangan mengulang cerita yang sama untuk anak-anakku....gugurkan kandungannya...aku tak mau Hafsah merasakan sakit yang pernah aku rasakan...."


jawab Insha tegas menatap Hanafi.


Seketika Hanafi berdiri.


"Kita tak mungkin melakukan itu Insha...kita juga orangtua...apa kita harus membunuh cucu kita untuk kebahagiaan anak yang lainnya..."


"Mungkin itu juga yang kau lakukan dulu...kau enggan untuk membuangnya hingga menciptakan sebuah rasa sakit yang besar kepadaku....lalu kau sekarang akan mengulang rasa sakit yang sama untuk Hafsahku....aku tak akan membiarkan itu....Dan ingatlah....Hafsah adalah anak kita...anak yang kita tunggu-tunggu kehadirannya...apa kau dengan mudahnya menghancurkan kebahagiaannya setelah dia dewasa..."


jawab Insha berdiri di belakang Hanafi.


"Aku tak pernah menginginkan itu sayang...tapi keadaan slalu mendesakku....melakukan tindakan yang tak di inginkan hatiku..."


Hanafi menoleh dan menatap Insha.


"Maka gugurkan dia..aku tak menginginkannya...biarkan Hafsah kita bahagia...."


"Apa kita benar-benar akan membunuhnya...dia tak memiliki dosa atas semua ini.."


Hanafi menatap lekat pada Insha.


"Apa kau tega membunuh bayi kecil yang masih suci ...dia tak tau apa-apa tentang semua ini..."


imbuhnya lagi.


"Lalu bagaimana dengan Hafsah..."


kata Insha dengan airmata yang mulai berjatuhan lagi, dia memikirkan kata-kata Hanafi yang memang ada benarnya.


"Pelan-pelan kita akan memberitahunya...aku yakin mereka akan bisa mengerti dengan keadaan ini..."


Mereka berdua pun berpelukan dengan tangis Insha yang semakin pecah.


Sementara pagi itu keluarga Abimana harus pergi meninggalkan kediaman mewah Insha, tanpa membawa keputusan bagaimana kehidupan anak-anak mereka selanjutnya.

__ADS_1


Baik Insha maupun Hanafi masih harus berdiskusi bagaimana mereka menyikapi kehamilan Khanza, sekaligus pernikahan Hafsah yang akan di gelar sebentar lagi.


Bersambung.....


__ADS_2