Khanza

Khanza
Penderitaan Khanza


__ADS_3

"Apa yang sedang kau lakukan disini Khanza...kenapa kau menjadi seperti ini..."


kata Will menatap Khanza heran.


"Aku telah di jebak Will...aku mohon jangan lakukan itu padaku..."


"Siapa yang telah menjebakmu menjadi seperti ini...katakan"


Will mulai mendekati Khanza yang sudah terisak, dan dalam isaknya Khanza pun bercerita.


**


Di malam yang sama saat di gelarnya pesta resepsi Hafsah. Datang seorang pria dengan sebuah mobil, dia mengatakan bahwa dia adalah salah satu teman dari Tian. Dan dia membawakan Khanza barang titipan dari Tian.


Pria itu memberikan Khanza sebuah paperbag, setelah itu dia pergi begitu saja meninggalkan Khanza sendiri. Saat pria itu akan pergi Khanza sempat bertanya dimana keberadaan Tian. Tapi pria tersebut hanya menjawab sebentar lagi Tian akan mengunjungi Khanza.


Merasa senang dengan penuturan pria itu bahwa Tian akan segera menemaninya, Khanza pun masuk dengan semangat dan membuka paperbag yang telah dibawanya.


Khanza melihat isi dari paperbag itu, ternyata sebuah baju tidur yang cukup seksi, dan tertuliskan sebuah pesan disana.


"Pakailah sayang...sebentar lagi aku akan kesana..."


Melihat sebuah pesan di dalam baju tersebut, Khanza yang sudah sangat percaya pada Tian, sebagai calon suaminya, segera membersihkan diri dan memakai baju yang sudah di berikan padanya.


Dan benar saja selang beberapa menit dari itu, Khanza segera mendengar sebuah mobil berhenti di depan Villa. Khanza sengaja tak membukakan pintu, karna dia yang masih berdandan menyambut Tian datang.


Suara pintu kamar pun di buka, Khanza yang sudah selesai dengan dandanannya segera menoleh dan mendapati seorang pria lain berada di dalam kamarnya.


"Siapa kau...keluar... pergi dari sini..."


kata Khanza spontan sambil menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.


"Tentu aku akan pergi sayang...setelah kita selesai menuntaskannya nanti..."


pria bertubuh kekar itu melihat setiap inchi tubuh Khanza dengan detail dan dengan senyum yang menyeringai.


Khanza sendiri semakin geram karna melihat tatapan pria itu padanya.


"Pergi dari sini...aku tak mengenalmu...pergi..."

__ADS_1


kata Khanza dengan melemparkan sebuah bantal padanya.


"kau cukup agresif juga ya rupanya...tapi tak apa aku suka...dan aku semakin ingin untuk mendekatimu sayang..."


kata pria itu semakin mendekati Khanza dan mencoba meraihnya.


"Hey....hentikan...aku bilang pergi...pergi dari sini...kau benar-benar kurang ajar..."


teriak Khanza sambil berusaha menepis tangan pria kekar itu, tapi pria itu semakin mendekat dan mencoba untuk memeluk Khanza. Dengan segala perlakuan yang di dapatkannya Khanza secara reflek menampar sang pria sampai pipinya terlihat memerah.


"Apa yang kau lakukan..."


kata pria itu memegang pipinya dengan wajah penuh amarah.


"Sudah aku bilang lepaskan aku...kau benar-benar kurang ajar..."


kata Khanza dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau yang sudah kurang ajar...aku sudah membayarmu mahal untuk melayaniku malam ini...tapi kau malah menamparku...rupanya kau memintaku untuk bermain kasar ya..."


"Apa kau bilang..melayanimu....aku bukan wanita seperti itu...sekarang pergi kau dari rumahku..."


pria itu kembali memeluk Khanza dengan paksa, dan mendorong Khanza sampai terjatuh di ranjang besarnya.


"Aku mohon..pergilah...kau mungkin salah tempat...aku bukan wanita yang kau maksud..."


Menerima tingkah kasar dan juga paksaan dari sang pria, Khanza pun ketakutan dan memohon untuk di lepaskan.


"Aku tak mungkin salah tempat...anak buah Tian sendiri yang telah mengantarku padamu...dan kau sudah aku sewa dengan harga mahal...puaskan aku malam ini...maka kau akan mendapatkan bayaran dari boss mu si Tian itu...."


Tanpa banyak bicara lagi pria itu segera mendekati Khanza lagi, memaksa Khanza untuk melayaninya malam itu.


Dan di malam itu Khanza barulah tersadar bahwa dia telah di bohongi oleh Tian. Semua yang tian katakan adalah sebuah kebohongan, sekarang Tian malah menjualnya sebagai wanita malam pada pria hidung belang.


Sampai dini hari pria itu baru keluar dari kamar Khanza. Badan Khanza yang sudah lemah, meringkuk di samping tempat tidurnya, menutupi tubuh polosnya dengan selimut yang sudah berserakan di lantai.


Khanza menangis sejadi-jadinya karna kebohongan Tian, karna harapan palsunya. Hati Khanza terasa sakit dan hancur, begitu juga dengan masa depannya. Khanza menangis sampai pagi menjelang, meratapi nasibnya dan menyesal atas semua perbuatannya, yang membuat hidupnya kini berada dalam kegelapan karna ulahnya sendiri.


Pagi itu Khanza mencoba untuk kabur dari villa tersebut, tapi tanpa di sangka villa tersebut sudah di kunci dari luar dan di jaga ketat oleh 2 orang suruhan dari Tian. Untuk menjaga Khanza supaya tak kabur dari sana.

__ADS_1


Pintu villa hanya terbuka saat sang penjaga memberikan Khanza makanan dan minuman, serta terbuka saat ada seorang pria yang harus di layani Khanza. Selebihnya semua terkunci dengan rapat, Khanza pun pasrah tak bisa melakukan apapun, selain menuruti semua perintah dari setiap lelaki yang datang kesana.


Memberontak pun percuma karna Khanza pasti kalah tenaga, apalagi keadaannya yang sedang hamil, membatasi setiap geraknya.


Kadang ketika Khanza memberontak pun, dia akan semakin tersiksa karna pria yang menyewanya pasti akan semakin bermain kasar dengannya, ujung-ujung Khanza lah yang akan menyesali perbuatannya.


Dan semenjak malam itu, ntah sudah berapa pria yang datang padanya. Untuk menghabiskan malam dengannya, hampir setiap malam ada pria yang menyusup ke kamarnya, memaksanya untuk melakukan apapun yang mereka mau.


Tian sendiri tak pernah datang kembali ke villa itu untuk menemui Khanza, dia hanya beberapa kali berpesan pada orang suruhannya, untuk menyuruh Khanza menuruti kata setiap pelanggan yang harus dia layani. Dan itu semakin membuat Khanza hancur karna mendengarnya, Tian benar-benar telah memanfaatkannya menjadikannya sebagai wanita sewaan.


**


Setelah Will mendengar semua cerita dari Khanza, dia pun ikut duduk di lantai di depan


Khanza.


"Aku mohon Will...aku mohon...jangan lakukan itu padaku..."


"Tidak Khanza...mana mungkin aku tega melakukannya...kau temanku...dan sekarang katakan...apa bayi yang kau kandung adalah hasil dari semua ini ..."


"Dia adalah bayi dari Tian...pria yang telah menjualku..."


"Benar-benar pria tak tau malu..."


kata Will menatap iba pada Khanza.


"Dan katakan apa ini...apa dia juga yang melakukannya.."


imbuh Will lagi ketika melihat ada sebuah luka lebam di bahu Khanza.


"Tidak...itu adalah perilaku menyimpang dari beberapa pria yang datang...mereka menyiksaku hanya untuk memuaskan nafsu mereka..mereka mengatakan dengan begitu mereka bisa merasa puas.."


kata Khanza masih dengan air mata yang menggenang di pipinya.


"Lalu kenapa kau tak melawan mereka..."


"Aku akan semakin tersiksa...karna anak buah Tian akan menyiksaku jika ada seorang pelanggan yang mengatakan tak puas denganku..."


jawab Khanza getir sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2