
Sebelum membaca budayakan vote & comment ya, karena itu semua bisa jadi bentuk semangat untuk penulis☺, Happy Reading!❤
------------------------------------
"Makasih ya Lhid tumpangannya, kakak duluan ya Kay, Assalamu'alaikum," Khanza berterimakasih sambil membuka pintu mobil dan melangkahkan kaki menuju rumahnya yang berada tepat disebrang rumah Khalid.
----------------------
"Assalamu'alaikum." Khanza memasuki rumahnya disertai senyuman manis yang ia tampilkan seperti biasanya.
"Wa'alaikumsalam, udah pulang Za? Berarti Khalid juga udah pulang dong. " Umi Aisyah menjawab salam sambil memegang cangkir yang berisi teh manis hangat ditangannya.
"Eh, umi Aisyah. " Khanza menghampirinya dan mencium punggung tangannya yang dibalas dengan kecupan dikedua pipi dan pelukan di tubuhnya.
"Ada abi Rasyid juga loh disini." Abinya menghampiri putrinya dan dibalas kecupan di punggung tangan pria paruh baya itu.
Tak lama kemudian abi Rasyid muncul dari belakang tubuh Abinya. Khanza menghampirinya dan mencium tangan Abi Sahabatnya itu.
"Udah besar aja ya kamu, tambah cantik." Abi Rasyid mengacak rambut Khanza yang tertutup kerudung putihnya.
"Masa mau kecil aja bi, kan Khanza dikasih makan nasi sama abi umi. " Khanza menjawab sambil tertawa kecil.
"Umi mana bi?" tanyanya pada Abinya.
"Ada di dapur, kamu ganti baju sana, cuci tangan, cuci kaki, bersihin juga wajahnya, Shalat Dzuhur juga kalau belum shalat." Khanza menuruti ucapan abinya dan berpamitan izin kekamar.
"Jadi pengen jadiin Khanza mantu, kalo kita jadi besan seru kali ya Qi! " Ujar Rasyid.
"Ah seru banget itumah, gimana kalo kita jodohin aja anak kita? " Saran Rifqi.
"Wah boleh tuh, Khalid juga kayaknya nggak pernah nyeritain soal perempuan kecuali Khanza. " Aisyah menjawab sambil menatap penuh arti kepada Rasyid.
"Kalau umi sih, setuju aja bi, cuma Abi tau sendiri Khanza mau ngejar cita-citanya dulu, kalau mereka mau nikah muda Khalid juga udah punya penghasilan sendiri belum? seenggaknya sampe mereka lulus kuliah, sama-sama udah ngejar mimpi mereka, Khalid nya juga udah berpenghasilan sendiri. " Amira menjawab sambil membawa nampan berisi beberapa camilan diatasnya.
"Bener kata Amira, nanti kita bicarain ini lagi, yang pentingnya mah kita harus jadi besan." Rasyid menjawab sambil terkekeh.
Rifqi, Amira, dan Aisyah tertawa mendengar kalimat akhir perkataan Rasyid tadi.
"Assalamu'alaikum," Salam seseorang dari luar rumah.
"Wa'alaikumsalam, " Mereka menjawab dengan kompak.
"Umi ade cariin dirumah nggak ada, taunya disini. " Kayla masuk kedalam rumah dan langsung bergelayut manja dilengan uminya.
"Abang mana?. " Aisyah bertanya sambil mengelus rambut anak bungsunya yang tertutup kerudung.
"Assalamu'alaikum, " Salam Khalid ketika masuk kedalam rumah, dan mencium punggung tangan orangtua yang ada dihadapannya itu.
"Wa'alaikumsalam, " Jawab Rasyid, Aisyah, Amira, Dan Rifqi.
"Khanza nya mana bi? " Tanya Khalid kepada Rifqi.
"Ah kamu bang, kesini yang pertama dicariin Khanza. " Aisyah menjawab tanpa melepas elusan lembut tangannya dikepala Kayla.
Khalid yang dijawab seperti itu hanya menyengir salah tingkah sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Khanza sudah selesai mencuci tangan, mencuci kaki, membersihkan wajahnya yang pasti terkena banyak debu, tak lupa juga menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, ia menuruni anak tangga, menghampiri para orangtua yang berada diruang tamu.
"Pada bicarain apa sih? Khanza denger tadi ketawa nya kedengeran sampe atas loh!" Khanza duduk di sofa yang masih kosong diruangan itu.
"Ah itu, nggak kok dek, kita cuma lagi ngobrolin masa muda kita yang lucu-lucu aja." Rifqi menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal dan menatap Rasyid penuh arti.
"Eh rame-rame lagi pada kumpul, assalamu'alaikum. " Reza datang dengan 2 box berisi martabak ditangannya.
"Wa'alaikumsalam, wih apatuu bang?" Khanza menghampiri abangnya, tatapannya menyelidik pada kresek putih ditangan abangnya.
"Kepo," Jawab abangnya tak acuh.
__ADS_1
Reza membuka kresek di genggamannya dan mengeluarkan 2 box martabak didalamnya tak lupa juga ia membuka tutupnya dan menaruhnya diatas meja tamu.
"Tumben za, kamu mampir-mampir beli martabak, biasanya males kamu, soalnya kan ditempat itu biasanya rame jadinya ngantri. " Amira duduk disamping sang suami dan melihat label nama penjual martabak di box martabak yang dibawa Reza.
"Reza nggak beli mi, tadi pas pulang diparkiran ada yang ngasih, mungkin dia nge-fans sama reza, " Jawab reza santai dan duduk di sofa, samping Khalid.
"Hilih, gaya-gaya an punya fans, yang nge-fans sama abang matanya rabun kali ya. " Khanza tertawa meledek sambil melirik Reza.
"Dih, jangan ngeremehin, secara abang kan punya ketampanan diatas rata-rata jadi wajar lah banyak yang nge-fans , liat aja nanti comment-comment di instagram kalo abang ngepost foto." Jawab reza ke-pedean.
"Udah-udah ributnya, nggak malu? " Amira meleraikan perdebatan kedua anaknya itu.
Reza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Khanza sudah menyembunyikan wajahnya diceruk leher uminya, keduanya tampak lupa kalau ada tamu di rumahnya.
"Yaudah dimakan Syah, Syid, Khalid, Kayla!" Ujar Amira kepada tamunya.
Khalid mengambil sepotong martabak dengan topping coklat keju didepannya, dan memakannya, ia mana tahan kalau hanya melihat martabak dengan rasa kesukaannya itu.
"Zaki gimana kabarnya Syid? Tinggal dimana sekarang?" Rifqi menyesap teh buatan istrinya.
"Ah saya lupa ngabarin kamu Qi, Kira-kira udah satu tahun setengah mungkin zaki menetap di jakarta." Rasyid juga ikut mengambil martabak didepannya.
"Didaerah mana Syid?" Tanya Rifqi.
"Jakarta barat, oh iya zaki mau ngadain syukuran ulang tahun anaknya tanggal 25, nanti dateng ya kita bareng kerumahnya," Ajak Rasyid yang di iyakan oleh Rifqi.
"Zaki? Bang Raihan?" Tanya Khanza bingung.
"Iya, dulu kamu kan yang minta Raihan dipanggil Zaki , Za, " Jawab Aisyah.
"Masa sih mi?" Tanya Khanza dengan alis yang mengkerut.
"Ya dulu kamu manggil Khalid kan Raihan Za, sedangkan nama abangnya Khalid itu namanya Raihan Muzakki Rasyid, kamu yang minta supaya panggilan abangnya Khalid jadi Zaki biar nggak ada yang samain katanya," Jelas Aisyah.
Tawa mereka meledak begitu saja saat mengingat kelakuan Khanza waktu itu. Aneh memang, tapi begitulah kenyataannya.
"Dulu mah kalian nempel terus, kemana-mana bareng terus, udah kayak sepasang sepatu." Amira mengenang memori kebersamaan Khanza dan Khalid saat kecil.
Yang dibicarakan hanya Diam, menyimak pembicaraan mereka, tanpa berniat menimpali.
"Yaudah ayo makan siang dulu, aku udah bikin soto betawi, sayang kalo nggak dimakan jatuhnya malah mubadzir ." Amira mengajak mereka makan siang.
Mereka beranjak dari sofa ruang tamu, dan melangkahkan kaki ke ruang makan, menyisakan Khanza yang malah berjalan kearah pintu rumah untuk menutupnya.
Amira menyusun soto betawi yang baru diambilnya nya dari dapur, dan langsung duduk disebelah kanan suaminya.
"Khanza duduk dimana dong ini? " Tanya Khanza ketika ia sudah sampai diruang makan.
"Di lantai juga gapapa dek, " Jawab Reza meledek.
"Hush, abang nggak boleh gitu, itu disamping abang kamu za," Timpal uminya.
"Hehe, bercanda umi. " Reza menaikkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf 'v'.
Khanza duduk disamping Reza, yang juga bersebrangan dengan Khalid yang berada tepat didepannya.
Semuanya makan dalam keadaan hening setelah Rasyid memimpin doa sebelum makan. Mereka makan dengan khidmat, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang bertubrukan dengan mangkuk berisi soto Betawi itu.
Setelah selesai makan mereka kembali berbincang hangat sebentar, setelah itu keluarga Rasyid pamit pulang kepada Rifqi, Dan keluarga Rifqi mengantarkan keluarga Rasyid sampai depan rumahnya.
🌸
Jam sudah menunjukkan pukul 08 malam, saat ini Khanza sedang duduk bersandar sambil memainkan ponselnya diatas kasur kamarnya yang serba biru itu.
Karena jenuh membuka instagram, membaca novel di ******* dan Noveltoon, dan membuka whatsapp yang tidak ada pesan masuk yang penting di ponselnya, ia memutuskan untuk mengambil novel di rak bukunya dan membawanya ke ruangan kecil semacam balkon dikamarnya.
Ia mulai membaca halaman demi halaman novel yang dibawanya itu. Ia memang suka membaca buku, jadi jangan kaget jika separuh isi rak bukunya adalah novel, sedangkan separuhnya lagi berisi buku pelajaran, beberapa Al-Qur'an, buku keagamaan, dan buku sejarah Islam.
__ADS_1
*Ting*
Bunyi notifikasi dari ponselnya membuat ia berhenti sejenak membaca novelnya, matanya membulat sempurna karena seseorang yang jelas ia kenal meminta untuk mengikuti akun instagramnya, ya akun Khanza di privat.
@Khalid_raihan meminta untuk mengikuti anda.
Acc jangan? pikirnya.
"Acc!" Teriak seseorang dari sebrang rumahnya.
Khanza membuka jendela balkon dikamarnya "Sejak kapan main instagram?" Tanyanya kepada orang yang berada disebrang rumahnya.
Khalid menjawab "Kelas 8/9 mungkin, udah acc aja,".
Khanza kembali duduk dan men Acc akun yang meminta mengikutinya itu, tak lama kemudian 1 Dm masuk dari orang yang sama.
Khalid_raihan
Gitu kek daritadi, tinggal Acc doang padahal.
Khanza_raihana
Orang kek situ bisa main instagram juga?
Khalid_raihan
Aku bukan orang kuno.
Khanza_raihana
Iyadah.
Khalid_raihan
Kirim nomor WA kamu, aku yakin orang kek kamu nggak mungkin nggak punya WA .
Khanza_raihana
Sotau.
Tapi emang punya sih😂.
Khalid_raihan
Mana?.
Khanza_raihana
Kamu punya Whatsapp juga kan? Udah masuk grup kelas juga?.
Khalid_raihan
Iya, udah, kenapa?.
Khanza_raihana
Tinggal cari nomor aku disana gampang kan?.
Khalid_raihan
Mager ah, tinggal kirim aja, ribet amat.
Khanza_raihana
0821-007-0008.
Tuh.
__ADS_1
Kok kamu jadi tambah nyebelin sih, astaghfirullah :)) .
Read.