Khanza

Khanza
Pulang bareng


__ADS_3

Sebelum membaca budayakan vote & comment ya, karena itu semua bisa jadi bentuk semangat untuk penulis☺, Happy Reading!❤


------------------------------------


"Tanggung jawab apa mau modus?" Ejek Alif sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


-------------------


"Alif!" Panggil Khanza.


Alif yang mendengar panggilan Khanza pun menoleh kearahnya "Kenapa?" Tanyanya.


"Udah nih, kata Khalid kalo udah selesai disuruh kasih ke kamu, terus kamu kasih bu Maryam ya, Khalid nya tidur," Jawab Khanza dan menunjuk Khalid yang sudah tertidur dengan posisi kepala diatas tangannya yang ditekuk dengan dagunya.


"Yaudah, sini gw kasih bu Maryam dulu, takut udah nunggu dikantor." Khanza menyodorkan berkas yang dipegangnya kepada Alif, Alif langsung melangkahkan kaki keluar kelas.


Khanza terkekeh dengan suara kecil melihat wajah Khalid yang polos ketika tertidur, Ide jahil muncul dikepalanya, ia memotret wajah Khalid secara diam-diam dengan ponselnya.


"Udah ah, udah selesai ini, pindah tempat duduk, gabaik buat kesehatan jantung deket-deket dia" Batinnya, Khanza berdiri dan melangkahkan kaki kearah kursinya.


Alif datang memasuki kelas dengan wajah sumringahnya "Assalamu'alaikum gaes! Guru-guru rapat, bagi yang mau pulang, pulang aja, kita udah dibebasin sejak habis istirahat ternyata" Ucapnya heboh.


"Wa'alaikumsalam, balik lah" Dino menjawab sambil berdiri menggunakan ranselnya keluar kelas diikuti Al dibelakangnya.


Siswa-siswi lain menyusul, mereka keluar kelas satu-persatu.


Ali berdiri "Yuk balik Lif, Fat, Din" Ujarnya.


"Tunggu..." Cicit Khanza.


"Kenapa Za? Kan lu bareng Khalid" Tanya Alif bingung.


"Tolong bangunin Khalid" Jawabnya sambil menyengir.


"Gausah dibangunin, yang mau dibangunin udah bangun." Khalid berdiri dengan santainya menghampiri Khanza dan yang lain.


"Jadi lu nggak tidur Lid? Apa alesan aja, biar lu nggak ngasih berkas ke bu Maryam ya!" Selidik Alif.


Khalid menggeleng "Nggak, tadi gw sebenernya emang tidur kok, cuma pas gw denger suara lu yang udah kek toa masjid, gw kebangun, lagian gw juga gabisa tidur lama-lama dikelas".


"Udah yu balik!" Ajak Ali.


Mereka melangkahkan kaki bersama menuju parkiran, dan berpisah disana.


🌸


"Ini bukan jalan pulang, kita mau kemana Lid?" Tanya Khanza yang duduk dikursi penumpang.


Ya, dia meminta kepada Khalid untuk duduk dikursi penumpang, Khalid pun dengan senang hati menyetujuinya, dia tau batasan, Khanza bukan Mahramnya.


"Kepo," Jawabnya.


Tadinya Khalid ingin menjawab dengan benar, tapi ia urungkan, ia rindu dengan ekspresi kesal gadis itu.


Khanza yang mendengarnya mengerucutkan bibir dan menggembungkan pipinya, kesal.


Tawa Khalid meledak saat itu juga, gadis itu tidak berubah, masih seperti itu ekspresi wajahnya ketika kesal, sama seperti 3 tahun yang lalu.


Khanza yang mendengar tawaan Khalid memicingkan mata "Apa yang diketawain? Nggak ada yang lucu" katanya ketus.


"Kok kita nggak canggung ya za?" Khalid bertanya sambil melirik dari spion.


"Nggak tau, aneh, biasanya orang baru ketemu canggung," Khanza menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.


"Yuk, turun!" Ajak Khalid.


Khalid turun dari mobil, melangkahkan kaki menuju pintu masuk cafe disusul Khanza dibelakangnya.

__ADS_1


Khalid memanggil pelayan cafe itu, memesan makanan, "Mau makan apa za?" Tanyanya.


"Samain aja deh," Jawab Khanza.


Hening, tidak ada yang memulai percakapan, Khanza sibuk memainkan ponselnya, begitu juga dengan Khalid.


"Masih?" Tanya Khalid.


"Apanya?" Tanya balik Khanza.


"Marah-marah, manja, ngambek," Jawab Khalid.


Khanza mengerucutkan bibir, dan menggembungkan pipinya lagi, merasa kesal, "Ngeledek apa gimana?" Tanyanya dengan nada sebal.


Khalid tertawa "Serius nanya.".


"Nggak ada yang bisa dimarahin lagi." Khanza tertawa meledek.


Khalid mendengus "Emang Khanza berani ngomelin orang selain Khalid?".


"Berani," Khanza tak mau kalah.


Khanza ingat sesuatu, ia ingin menanyakan kenapa Khalid bisa berada di Jakarta lagi, sedangkan abi rasyid belum mengabari abinya sama sekali.


"Kok bisa ada di Jakarta lagi? Kok abi Rasyid nggak ngabarin abi?" Tanyanya.


"Udah ngabarin kali sejak seminggu yang lalu, kamunya aja kali yang nggak dikasih tau," Jawab Khalid.


"pantas saja Khanza kaget ketika melihatnya dikelas tadi," Pikirnya.


"Di pesantren itu gimana Lid, enak apa nggak?" Tanya Khanza, ia penasaran dengan suasana pesantren, padahal ia ingin sekali masuk pesantren, tapi uminya tidak mengizinkannya.


"Ada enak ada nggaknya si, tergantung niatnya, kalo niat belajar karena Allah mah enak aja," jawab Khalid.


Pelayanan cafe kembali ke meja mereka membawa makanan yang dipesan oleh Khalid tadi "Permisi dek ini makanannya," ucapnya sambil menyusun makanan diatas meja.


Pelayanan cafe itu memberikan bill nya seraya berkata "Jadi 30.000 dek".


Khanza menyerahkan uang 50.000an kepada Khalid, tapi ditolak olehnya.


"Aku yang ngajak kesini, masa kamu yang bayar," Tolak Khalid dan memberikan selembar uang 50.000 yang baru ia ambil dari dompetnya kepada pelayan cafe.


Khalid menyantap burger nya, begitu juga dengan Khanza. Selesai makan Khalid melirik arloji yang dipakainya.


Ia berdiri dan berjalan tergesa-gesa melupakan Khanza yang masih meminum minumannya.


"Khalid ih, main tinggal-tinggalin aja!" Teriak Khanza lalu menyusul langkah Khalid.


"Maap-maap lupa," Cengir Khalid tanpa dosa.


"Buru-buru banget, mau ngapain emang? Aku pulang duluan deh ya. " Khanza mensejajarkan langkahnya dengan Khalid.


"Jangan-jangan,  justru kita baru mau ketemu orang yang mau ketemu kamu," Tolaknya cepat.


Khanza mencoba mencerna perkataan Khalid 'bahasanya rumit banget, udah kek perasaan' batinnya.


Khanza menggelengkan kepalanya  'astaghfirullah hal adzim, kenapa aku jadi bucin gini sih' batinnya.


Melihat Khanza masih berdiri terbengong dan menggelengkan kepalanya. Khalid yang melihat Khanza masih diam ditempatnya berdiri langsung memanggilnya "Cepet masuk, nanti yang mau ketemu kamu, marah-marah, " ucapnya.


Khanza menuruti Khalid, ia kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil.


🌸


Mobil mereka sudah terparkir sempurna di depan pagar 'MTSN 1 Jakarta' , Khalid mengeluarkan ponselnya karena mendengar ponselnya berdering pertanda ada yang menelponnya.


"Halo bang, abang udah dimana? Lama banget"  ucap suara disebrang sana.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam,"  Sindirnya.


"Hehe, lupa bang, Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam, Ade udah dimana?"


"Di halte bang."


"Abang didepan pager sekolah, kesini aja."


"Yaudah, adek tutup ya bang, Assalamu'alaikum. "


"Wa'alaikumsalam,"  Jawab Khalid lalu memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.


" Tok... Tok... Tok... " Kaca mobil diketuk oleh seseorang, membuat Khalid menoleh kearah sumber suara.


Baru membuka kaca mobil, ia sudah mendapat ocehan panjang lebar dari adik tercintanya.


"Abang lama banget si! Adek nungguin lama tau, mana panas, nggak ada temen, nungguin sendi- ." Cerocosannya terhenti ketika Khalid menaruh jari telunjuknya tepat didepan bibirnya.


"Nggak malu sama ka Khanza?" Khalid menengok kebelakang, membuat sang adik mengikuti pandangan Khalid.


"Kak Khanza!" Pekik Kayla -Sang adik- lalu membuka pintu belakang mobil dan tanpa aba-aba memeluk Khanza.


Khanza yang mendapat pelukan tersebut tersentak, membalas pelukan,  lalu mengeluarkan senyum manis dibibirnya.


"Kangen."


"Sama, ka Khanza juga."


"Kamu gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik, ka Khanza?"


"Alhamdulillah."


"Bisa kita jalan sekarang?" Interupsi dari Khalid menghentikan pembicaraan keduanya.


"Iya jalan sekarang aja, pak supir." Khanza terkekeh mendengar ledekan Kayla kepada Abangnya.


Ingin sekali membalas perkataan adiknya sambil melempar tisu yang ada di dashboard  mobilnya, tapi ia harus jaga image, ada Khanza disini, bisa-bisa ia ilfeel  melihatnya.


Tanpa ba bi bu Khalid langsung melajukan mobilnya membelah jalanan kota Jakarta yang tidak terlalu padat hari ini.


Hening, Kayla tidur beberapa menit lalu dengan posisi masih memeluk Khanza dan menjadikan bahu Khanza sebagai sandarannya.


Khalid memutar radio, mencoba menghilangkan keheningan yang terjadi diantara mereka.


Lagu Albi Nadak cover Kayla-Zamzam mengalun indah di pendengaran Khanza, ia bersenandung kecil menghilangkan kebosanan.


"Sekarang tinggal dimana lid? " Khanza bertanya kepada Khalid yang masih fokus menyetir didepannya.


"Rumah yang lama." Khanza terkejut mendengar jawaban Khalid.


"Nggak pindah?" Tanya Khanza.


"Ngapain harus pindah? Orang rumah lama belum ada yang nempatin kok," Jawabnya.


"Udah sampe, tolong bangunin Kayla ya!" ujarnya.


"Kay." Khanza menepuk pelan pipi Kayla membuat Kayla merasa risih dan terpaksa membuka matanya.


"Iya ka? Kenapa?" Tanya Kayla sambil mengucek matanya.


"Udah sampai," Jawab Khanza.


"Makasih ya Lhid tumpangannya, kakak duluan ya Kay, Assalamu'alaikum." Khanza berterimakasih sambil membuka pintu mobil dan melangkahkan kaki menuju rumahnya yang berada tepat disebrang rumah Khalid.

__ADS_1


__ADS_2