
Pagi itu di Villa, Khanza baru saja terbangun, dia melihat di sekeliling kamar yang dia tempati sekarang.
Baru teringat kembali kejadian semalam yang telah terjadi padanya. Khanza pun tersenyum tipis lalu mencari keberadaan Tian, tapi tak dia temukan di setiap sudut kamar.
Khanza pun segera beranjak dan membersihkan dirinya di kamar mandi.
Villa yang di tempati sekarang adalah milik Tian sendiri. Villa tersebut cukup besar dan juga mempunyai fasilitas yang cukup lengkap.
Setelah mandi, perut Khanza yang sedari tadi berbunyi, mendorongnya untuk mencari makanan disana. Semalam waktu sampai di villa tersebut Khanza dan Tian langsung saja menuju kamar. Sekarang Khanza harus mencari sendiri letak dapur disana, karna sebelumnya dia tak mengetahui letak tata ruang di villa tersebut.
Khanza juga memanggil-manggil Tian di setiap ruang yang dia lalui, tapi sama sekali tak dia temukan sosok Tian dimana pun.
Khanza pun mengintip di luar villa, ternyata benar mobil Tian sudah hilang dari sana.
"Kemana dia pergi...pagi-pagi sekali sudah menghilang begitu saja...."
Khanza pun berjalan menuju dapur, dan memasak sesuatu disana dengan persediaan di kulkas yang masih penuh terisi.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Khanza pun membersihkan villa yang nampak sedikit kotor juga berantakan di beberapa bagian.
"Sepertinya villa ini tak memiliki seorang pelayan pun...apa boleh buat...aku harus membersihkannya sendiri...aku tak bisa tinggal dalam keadaan yang seperti ini..."
kata Khanza lirih sambil memulai pekerjaannya.
Setelah separuh bagian villa telah Khanza bersihkan, Khanza pun terduduk di sofa. Dia merasa sangat lelah karna dia sendiri tak pernah melakukan pekerjaan seperti ini sebelumnya. Semua pekerjaan rumah selalu di lakukan oleh pelayan Insha. Khanza tak pernah di perbolekan untuk melakukan pekerjaan apapun, karna jumlah pelayan disana yang sangat banyak tak dapat di hitung jumlahnya.
"Aku rindu padamu ibu..."
kata Khanza lirih di iringi dengan tangis penyesalan yang mulai pecah.
Sementara di rumah mewah Zidan, dia baru saja terbangun dari tidurnya.
Zidan menggeliat di bawah selimut, merasakan tubuhnya yang terasa sakit di beberapa bagian .
Zidan mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, dia melihat Zoya yang masih terpulas di sofa kamarnya.
Dia pun terkaget dengan adanya Zoya disana, Zidan tak mengingat sama sekali yang terjadi padanya.
"Kenapa tiba-tiba kak Zoya ada disini..."
katanya lirih, sambil berusaha bangun, kepalanya masih sedikit pusing karna efek alkohol yang belum sepenuhnya menghilang.
" kak Zoya..."
kata Zidan barusaha membangunkan Zoya.
__ADS_1
Zoya pun terbangun.
"Hei...kau sudah sadar..."
"Kenapa kak Zoya bisa ada disini..."
"Ya kau semalam mabuk parah, dan aku tak bisa meninggalkanmu dalam keadaan yang seperti itu...makanya aku tidur disini..."
"Maaf ya aku tak mengingat apapun..mungkin aku telah merepotkan kakak...."
Zidan pun duduk di sebelah Zoya.
"Jangan fikirkan apapun tentang dia lagi ya...kau pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik lagi nanti..kau mempunyai segalanya....tentu tak sulit untukmu mencari seorang wanita..."
kata Zoya sambil menepuk bahu Zidan.
"Tenang saja kak...aku akan segera melupakannya..karna memang tak sepantasnya dia menjadi wanitaku..."
kata Zidan di selingi senyum tipis.
"ya...aku harap kau benar-benar bisa menata hatimu lagi mulai sekarang....dan lebih berhati-hati dalam berbuat agar tak terjebak lagi dengan masalah yang sama seperti kemarin..."
"hehe iya kak...maaf aku hanya melampiaskan kekesalanku kemarin...maaf mungkin aku terlalu banyak meminum alkohol kemarin...maaf ya...jangan adukan aku pada papa dan mama ya..."
rengek manja Zidan pada Zoya.
kata Zoya sambil mengacak-acak rambut Zidan lagi dengan gemas.
"Hehe...maaf kak.."
"Sudahlah lupakan...ayo kita sarapan aku sungguh lapar sekali..."
"Ayo-ayo...aku harap para pelayan telah memasak sesuatu untuk kita hari ini..."
"Sudah jelas lah...karna aku sudah memberi pesan semalam..."
mereka pun berjalan beriringan, tangan Zidan dengan santai berada di bahu Zoya.
hubungan mereka kembali baik meski tanpa kata maaf yang terucap karna kejadian sebelumnya.
Mereka sama-sama menganggap kejadian itu hanyalah sebuah kesalahfahaman saja, dan mereka sama sekali tak bersalah atas semuanya.
Hari pun berganti, dimana hari akan di gelarnya pesta pernikahan yang sangat meriah.
Akad nikah telah selesai di laksanakan dengan hikmat, Hafsah dengan tegas telah mengucapkan janji sucinya di hadapan penghulu dan juga saksi tanpa salah sedikit pun.
__ADS_1
Akad di laksanakan dengan memakai baju serba putih, menandakan kesucian dan cinta yang tulus dari keduanya.
Segala dekorasi dan juga semua yang ada di aula akad kala itu bernuansakan putih bersih.
Acara akad hanya di hadiri oleh keluarga inti saja, tanpa di hadiri orang luar sama sekali. Acara akad juga hanya di lakukan beberapa jam, lalu semuanya segera istirahat sebelum pesta besar nan mewah di laksanakan sore hari.
"Selamat ya kak..."
kata Zidan memeluk sang kakak Zoya yang tengah di balut dengan kebaya berwarna putih dengan aksen permata dan mutiara di seluruh bagian kebayanya.
"Terimakasih Zidan..."
Zoya balas memeluk erat Zidan.
"Maaf seharusnya kau yang..."
kata Zoya terhenti karna Zidan yang sudah menyambung kalimatnya.
"Sudahlah...lupakan wanita itu....aku hanya menganggapnya sebagai mimpi burukku saja...dan aku sudah terbangun sekarang dengan masa depan yang lebih baik lagi tanpa dia tentunya...."
kata Zidan dengan yakin yang sekarang menatap Zoya.
" Aku yakin kau akan menemukan wanita yang lebih baik lagi Zidan...."
"Tentu kak...sekarang giliranmu...berbahagialah dengan kak Hafsah pria yang sangat kakak cintai ini..."
kata Zidan sambil menepuk bahu Hafsah yang ada di sebelahnya, kemudian mereka pun segera berpelukan.
"Selamat ya...aku harap kau bisa menyayangi, melindungi dan merawat kakak ku dengan baik...."
"Tentu Zidan...aku tak akan menyakitinya sedikit pun...aku berjanji itu padamu..."
kata Hafsah dengan yakin sambil memeluk Zidan.
"Oh ya...maaf ya atas semua yang sudah terjadi..."
"Lupakanlah...itu hanya ujian hidupku...yang terpenting kakakku sekarang sudah bahagia dan beruntung bisa menikah dengan pria baik sepertimu...."
jawab Zidan dengan senyuman cerah.
"Jangan lupa ya...segera berikan cucu untuk orangtua ku....mereka sangat berharap segera mempunyai penerus darimu dan Zoya..."
kata Zidan di iringi tawa yang mulai pecah.
Mereka semua pun berbahagia di hari itu, Adam dan Zakki juga ada di sana, membaur dengan seluruh keluarga inti dari kedua keluarga.
__ADS_1
Sementara Khanza yang tak berani menampakkan diri untuk hadir di pesta pernikahan Hafsah, hanya bisa berdiam diri di dalam villa dengan rasa sedih dan penyesalan yang amat mendalam.
Bersambung...