
Sore itu Khanza baru sampai di pusat kota. Dia berkendara sendirian menuju tempat usaha seorang pria yang telah menodainya di malam pesta yang dilaksanakan Khanza kala itu.
Khanza masuk ke sebuah bangunan bergaya klasik dengan warna ruangan yang dominan gelap. Hitam dan merah mendominasi warna cat disana, juga meja dan kursinya tampak serasi dengan warna dinding di sekitarnya.
Tempat ini memang di buat dengan kondisi pencahayaan yang cukup minim, tidak seperti resto-resto yang lain. Resto ini di buat dengan kondisi remang-remang, hanya di beberapa bagian yang di buat terang, seperti kasir dan kamar mandi. Sedangkan yang lainnya menggunakan sorot lampu yang lebih terlihat redup.
"Resto 99" adalah nama dari bangunan yang Khanza datangi sekarang. Disini adalah tempat usaha dari seorang pria yang menanamkan benihnya pada Khanza.
Christian namanya, dia biasa di panggil dengan sebutan Tian.
Bermaksud ingin bertanya keberadaan Tian pada seorang pelayan makanan disana, tapi urung karna Khanza melihat Tian yang sedang duduk sendirian di sebuah kursi tengah menyesap rokoknya.
Khanza pun menghampirinya.
"Tian..."
"Khanza...ka..kau kemari...ada apa..."
Cukup terkaget saat Khanza tiba-tiba saja berada di depannya.
Tak mau berbasa-basi lagi Khanza langsung saja mengatakan maksud dari kedatangannya kesana.
"Aku ingin meminta pertanggung jawabanmu terhadap bayi yang aku kandung..."
"Untuk apa..bukankah kau sebentar lagi akan menikah..."
kata Tian dengan wajah yang sulit di artikan.
"Tidak...aku tak akan menikah dengan Zidan...tak perlu kau tau apa alasanku...yang terpenting sekarang..kau harus bertanggung jawab dengan semua perbuatanmu ini..."
__ADS_1
"Aku..."
"Iya siapa lagi..."
"Hahaha...aku berkali-kali datang padamu untuk bertanggung jawab atas anak itu...tapi kau selalu menolakku...dengan mengatakan dia bukanlah anakku...dan kau tak mau hidup bersamaku....dan sekarang kau datang kesini meminta pertanggung jawaban dariku..."
Tian malah menjawab perkataan Khanza dengan senyum sinisnya.
Bayangan Khanza mengingat lagi kejadian di malam pesta itu.
Saat itu Khanza sengaja mengundang Tian, dia adalah teman kuliah Khanza. Sedari dulu Tian selalu mengejar-ngejar Khanza, dia sangat mencintai Khanza. Tapi Khanza tak pernah sama sekali menghiraukannya, karna Khanza yang tak suka dengan sifat Tian.
Dia memang kaya, banyak wanita juga yang tertarik padanya karna ketampanannya, tapi Tian memiliki sifat yang kurang baik, dia terkenal sebagai seorang playboy, memiliki perkataan yang kurang baik, tak sopan pada orang lain, sering berkelahi dan yang Khanza tau Tian memiliki usaha gelap di pusat kota.
Yaitu Resto 99 sebuah resto makanan jepang yang terkenal akan dunia malamnya sejak dulu. Resto itu adalah milik ayahnya yang di wariskan langsung padanya sebagai anak tunggal di keluarganya.
Tian yang melihat Khanza dengan penampilan yang sangat cantik dan menggoda. Mendekati Khanza, menuangkan sedikit demi sedikit alkohol untuk di minumnya. Khanza sudah memperkirakan semua, mengingat semua sifat buruk dan perilaku Tian selama ini, dia tak akan membiarkan sebuah kesempatan terlewat begitu saja. Khanza tau maksud dari Tian, ketika nanti Khanza sudah mabuk tak sadarkan diri, Tian pasti akan membawanya ke salah satu kamar untuk menodainya. Mengingat Khanza saat itu juga sudah membebaskan siapa saja menginap di hotel yang telah di sewa atas namanya.
Dan benar saja, dalam keadaan yang sama-sama di pengaruhi alkohol, Tian berjalan terhuyung menggendong tubuh Khanza ke salah satu kamar.
memaksa Khanza untuk melayani nafsu bejatnya dengan sangat kasar, Khanza yang waktu itu belum mabuk sepenuhnya sempat sadar dan ingin menggagalkan rencananya. Dia takut apalagi melihat Tian yang tak bisa bersikap lembut pada wanita.
Dalam keadaan sadar Khanza memberontak, menangis dan berteriak. Tapi Tian yang sudah di penuhi nafsu gila dan di pengaruhi oleh alkohol terus memaksa Khanza bahkan merobek gaun yang di kenakannya di bagian sana-sini sampai tak berbentuk.
Tian berhasil menodai Khanza saat itu juga, darah segar mengalir mengenai gaun yang di kenakannya. Saat Tian sudah puas dengan tubuh Khanza, dia pun tertidur pulas disana.
Sementara Khanza yang tak menyangka akan perilaku kasar Tian padanya hanya bisa menangis, dan berjalan ke kamar Zidan di waktu dini hari.
Khanza tau kamar yang di pakai Zidan, karna Khanza lah yang menunjuk satu kamar pada salah satu temannya untuk membawa Zidan beristirahat ketika dia sudah mabuk.
__ADS_1
Sudah berada di dalam kamar, Khanza melihat Zidan yabg sudah terlelap. Dia melepas semua pakaian Zidan melemparnya ke segala arah, menyisakan celana pendeknya saja.
Zidan yang sudah di pengaruhi oleh alkohol sama sekali tak membuka matanya, dia hanya meracau tak jelas tanpa memberontak.
"Maafkan aku Zidan...aku harus melakukan ini..."
kata Khanza dengan menyeringai sambil menutupi separuh tubuh Zidan dengan selimut.
Hatinya masih sakit karna perilaku Tian dan menyesal telah memilih dia sebagai lelaki yang menodainya. Tapi Khanza juga merasa puas untuk segala bukti yang akan Zidan lihat nanti. Menginngat saat ini gaun dan tubuh Khanza menunjukkan sebuah pemaksaan telah terjadi.
"Aku membencimu Tian....kau benar-benar pria buruk yang sangat kasar...tapi terimakasih kau telah membantuku untuk melakukan ini semua dengan bukti yang sangat nyata... "
kata Khanza lirih sambil merebahkan tubuhnya di sebelah Zidan.
Dan pagi itu, Khanza berhasil benar-benar menjebak Zidan untuk mempercayai semua perkataannya.
Kembali ke resto 99, Khanza masih saja memaksa Tian untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, dan bersedia menikahinya.
Tapi Tian dengan keras juga berusaha menolak karna Tian sudah beberapa kali menemui Khanza setelah kejadian itu. Dia menyesal dan karna rasa cintanya pada Khanza dia bersedia untuk berubah dan memulai hidup baru bersama Khanza dan juga anak yang di kandungnya.
Beberapa kali datang dan memelas pada Khanza untuk menikah dengannya. Tapi Khanza dengan tegas selalu menolaknya dan mengatakan bahwa dia tak akan sudi hidup bersama Tian. Khanza juga mengatakan bahwa yang ada dalam kandungannya bukanlah anak Tian tapi anak dari Zidan dan sebentar lagi mereka juga akan menikah.
Khanza selalu menghindar, dia sangat membenci Tian sedari dulu. Apalagi saat mengingat lagi sikap kasarnya di malam itu, Khanza malah sangat membencinya.
Dan sekarang Khanza datang pada Tian, meminta dia menikahinya dengan alasan anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak Tian.
Berdebat cukup panjang tapi Tian tetap tak ingin menikahi Khanza, karna dia sudah lelah dan sakit hati di maki-maki oleh Khanza waktu itu, padahal Tian mempunyai niat yang baik, mau merubah sifat dan kehidupannya asal Khanza mau bersama dengannya.
Bersambung....
__ADS_1