Khanza

Khanza
Negara B


__ADS_3

"Apaaa...jadi kau..."


teriak Hanafi penuh amarah pada Khanza, yang sudah berdiri dengan tegasnya.


"Maaf ayah..."


kata Khanza tertunduk dalam.


"Maaf kau bilang...kau tau apa yang sudah terjadi akibat semua ulahmu ini....kau benar-benar bukan anak yang baik Khanza....kau telah menghancurkan banyak kehidupan dan membuat luka orang-orang di sekitarmu..."


kata Hanafi dengan emosi yang meluap-luap.


"Maafkan aku ayah...aku berjanji akan memperbaiki semuanya...."


"Terserah dengan apapun yang akan kau lakukan...aku sama sekali tak peduli dengan itu...aku sudah muak dengan semua tingkah lakumu yang tak memiliki otak ini..."


kata Hanafi lagi sambil menunjuk Khanza penuh penekanan.


Tiba-tiba Insha mendekati Khanza tanpa berbicara apapun, lalu...


Plaaaakkk...


sebuah tamparan keras mendarat di pipi Khanza, sampai meninggalkan jejak merah disana.


"Ibuu..."


Kata Khanza dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ibu menamparku..."


katanya lagi sambil memegangi pipinya yang memerah.


"itu semua tak sebanding dengan apa yang telah kau lakukan....rasa sakit yang telah kau berikan pada semua orang karna keegoisanmu..."


Kata Insha menatap Khanza dengan tatapan amarah dan nada dingin dalam setiap katanya.


"Tapi ibu....aku sudah berjanji aku akan...."


kata-kata Khanza terputus begitu saja mendengar bentakan dari Insha.


"Cukuuuppp....jangan panggil aku lagi dengan sebutan ibu...aku bukan ibumu...sungguh aku telah menyesal membesarkanmu selama ini....memberikan kasih sayang pada anak yang tak pantas mendapat kasih sayang dariku..."


kata Insha dengan amarah yang meluap-luap.


"Maafkan aku ibu...jangan berkata seperti itu ibu...aku mohon..."


"Aku sudah bilang padamu...seribu kata maaf pun tak akan bisa merubah apapun sekarang....termasuk cara pandangku padamu....sungguh...aku tak ingin melihat wajahmu lagi di hadapanku..."


kata Insha sambil berlalu pergi, meninggalkan Khanza yang terisak lagi disana.


Hanafi juga ikut pergi mengekor di belakang Insha dengan amarahnya.


Tinggallah Khanza disana sendiri, kini meratapi semua yang telah terjadi. Menyesali segalanya yang telah dia perbuat. Merusak kasih sayang dari orang-orang terdekatnya.

__ADS_1


Cukup lama terisak di lantai, Khanza pun bangkit, mengambil buku diary sang ibu.


Berjalan membawa buku itu dengan lemas, lalu melemparkannya begitu saja pada tempat sampah di depan kamarnya.


Khanza masuk dalam kamar, merebahkan diri di ranjangnya sambil terus terisak.


Karna rasa bersalahnya pada seluruh keluarganya, malam itu juga Khanza memutuskan untuk pergi ke bandara, dan terbang menyusul Hafsah ke negara B. Untuk mengakui segala perbuatannya. Dan membawa kembali Hafsah untuk menikah dengan Zoya. Tak ada lagi hal yang dapat dia lakukan selain itu untuk memperbaiki semua keadaan. Karna bagaimana pun, Memang Hafsah lah yang paling di sakiti karna ulahnya.


Hampir dini hari Khanza baru mendapatkan tiket menuju negara B.


Pagi itu mendengar informasi dari para pelayan, bahwa Khanza tak ada di kamarnya saat seorang pelayan hendak mengantarkan sarapan untuknya.


Hanafi dan Insha tak berkomentar apapun, mereka masih sakit hati atas segala kekacauan yang di perbuat Khanza, dan kini tak peduli dengan apapun yang akan di perbuat olehnya.


Sore itu Khanza baru saja tiba di negara B, tiba di rumah yang di tempati adik-adiknya.


Setelah lama menekan bel, barulah seorang pengawal membukakan pintu untuknya.


"Nona Khanza....sedang apa datang kemari..."


pengawal itu terkaget, melihat Khanza yang ada di hadapannya, dia melirik sekilas perut Khanza yang terlihat sedikit membuncit.


nona Khanza melakukan perjalanan dalam keadaan hamil....dan dia datang kemari untuk apa...jelas-jelas tuan muda tak akan menerima kehadirannya disini...apa yang harus aku lakukan sekarang...


batin pengawal tersebut merasa bingung dengan apa yang harus di lakukannya.


"Aku ingin bertemu Hafsah..."


kata Khanza dengan mata yang sembab karna terlalu banyak mengeluarkan airmata, matanya pun masih terlihat memerah di bagian ujungnya.


Kata sang pengawal sampai terbata untuk mencegah Khanza.


"Aku mohon...aku ingin membicarakan sesuatu padanya....menyangkut kehidupannya...."


kata Khanza lagi dengan wajah yang memelas.


"Maaf nona tapi keadaan tuan muda masih belum stabil....dia tak mau bertemu dengan siapapun..."


terutama anda nona....


batin pengawal itu lagi.


"Aku mohon...pertemukan aku dengan Hafsah...sebentar saja...aku berjanji...aku tak akan menyakitinya..aku hanya akan berbicara padanya..."


Khanza terus membujuk pengawal itu.


Hingga akhirnya Khanza pun di perbolehkan masuk dengan sangat terpaksa oleh sang pengawal.


Khanza pun masuk di antarkan oleh pengawal tersebut ke depan pintu kamar Hafsah dan membukanya.


Terlihat Hafsah yang sedang duduk bersandar di kursi, menatap ke arah luar jendela kamarnya.


Khanza menatap pengawal itu, menyuruhnya untuk pergi meninggalkan dia sendiri bersama Hafsah.

__ADS_1


Mendengar suara pintu di tutup Hafsah segera berkata, mengira seorang yang masuk adalah pengawalnya..


"Ada apa...jangan mengangguku...aku sudah meminum obatku...dan menghabiskan makananku...pergilah...jangan ganggu aku...aku akan memanggilmu jika aku butuh sesuatu..."


kata Hafsah tanpa melihat ke arah Khanza sedikit pun.


"Ini aku Hafsah.."


Mendengar suara yang di kenalnya, Hafsah segera melihat ke arah suara itu.


"Ka...Kak Khanza sedang apa disini...."


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu Hafsah...dengarkanlah aku..."


"Tak ada apapun yang perlu di bicarakan lagi antara kita....pergi dari sini...aku tak mau melihat kak Khanza disini....pengawal....pengawal.."


kata Hafsah sambil berdiri gusar di depan kursinya.


"Aku sudah menyuruhnya untuk pergi...aku ingin bicara hanya berdua denganmu....aku mohon tenanglah....dengarkan aku dulu...."


"Apa yang ingin kakak bicarakan lagi...kau ingin mengatakan bahwa sebentar lagi kau akan hidup bahagia bersama Zidan kan..aku bahkan sudah tau itu...dan aku tak akan hadir dalam pernikahan kakak..."


kata Hafsah menatap ke arah luar jendela lagi, membelakangi Khanza.


"Bukan itu yang ingin aku bicarakan padamu...justru aku tak akan menikahi Zidan.."


"Apa maksud kakak...setelah semua yang kakak lakukan ...apalagi ini..."


Kata Hafsah gusar menatap Khanza lagi.


"Pulanglah....kau yang akan menikah dengan Zoya....berbahagialah dengan cintamu kembali....menikahlah dengan Zoya..."


"Apa maksud kakak...aku tak mengerti...."


"Dengarkan aku baik-baik Hafsah...aku mohon pulanglah bersamaku....kejar cintamu kembali dan menikahlah dengan Zoya....karna aku tak akan menikah dengan Zidan...karna Zidan bukanlah ayah kandung dari bayi yang aku kandung sekarang..."


kata Khanza dengan wajah malunya.


"Apaaa....jadi selama ini dia bukan anak dari Zidan...dan kakak tau itu...."


"Ya...maafkan aku Hafsah aku telah membuatmu terluka...dan aku datang kemari untuk memperbaiki semuanya..pulanglah bersamaku...kau akan mendapatkan kembali kebahagiaanmu..."


kata Khanza lagi dengan wajah penuh bersalahnya.


Bersambung...


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, coment, favorit dan hadiahnya ya...agat author makin rajin updatenya.....semoga sehat selalu.....💞💞💞


__ADS_2